Harta Karun Sejati Bernama Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah harta karun paling berharga dalam hidup manusia. Ia tidak habis dibagi, justru bertambah saat diamalkan, menjaga pemiliknya, dan menjadi warisan abadi para nabi. Esai ini mengajak kita memahami mengapa ilmu jauh lebih bernilai daripada kekayaan materi yang bersifat sementara.
*****
Dalam banyak cerita dan perumpamaan, harta karun selalu digambarkan sebagai emas, permata, atau benda berharga yang tersembunyi dan diperebutkan banyak orang. Manusia rela menempuh perjalanan jauh, menghadapi bahaya, bahkan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan harta tersebut. Namun, jika direnungkan lebih dalam, harta karun paling berharga dalam kehidupan manusia bukanlah kekayaan materi, melainkan ilmu pengetahuan.
Kekayaan materi memang memiliki daya tarik yang kuat. Dengan harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup, membeli kenyamanan, dan memperoleh pengakuan sosial. Namun, harta memiliki sifat yang rapuh. Ia bisa hilang karena pencurian, musibah, kebangkrutan, atau sekadar perubahan keadaan. Lebih dari itu, harta justru menuntut pemiliknya untuk selalu waspada dan menjaganya. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula rasa cemas kehilangannya.
Berbeda dengan harta, ilmu pengetahuan justru menjaga pemiliknya. Orang yang berilmu memiliki bekal untuk menghadapi berbagai persoalan hidup. Ia mampu berpikir jernih, membedakan yang benar dan yang salah, serta mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Ilmu menuntun manusia agar tidak mudah terjebak dalam kesesatan, penipuan, atau tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan ilmu, seseorang memiliki kompas dalam menjalani kehidupan.
Keistimewaan ilmu lainnya adalah sifatnya yang tidak pernah habis. Harta akan berkurang ketika dibagi, tetapi ilmu justru bertambah saat dibagikan. Ketika seseorang mengajarkan ilmu yang dimilikinya, ia tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, pemahamannya semakin kuat dan wawasannya semakin luas. Diskusi, praktik, dan pengalaman baru akan memperkaya ilmu tersebut. Inilah kekayaan yang tumbuh tanpa harus disimpan di brankas atau dijaga dengan kunci.
Ilmu juga memiliki nilai keabadian yang tidak dimiliki oleh kekayaan materi. Rumah megah, kendaraan mahal, dan tumpukan uang suatu saat akan rusak, usang, atau ditinggalkan. Namun, ilmu yang bermanfaat dapat hidup lintas generasi. Pengetahuan yang dituliskan, diajarkan, dan diamalkan akan terus memberi manfaat, bahkan setelah pemiliknya tiada. Dalam hal inilah ilmu menjadi investasi jangka panjang yang hasilnya melampaui usia manusia.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ilmu adalah warisan para nabi. Para nabi tidak mewariskan harta berlimpah kepada umatnya, tetapi meninggalkan ajaran, hikmah, dan pengetahuan yang menjadi pedoman hidup. Warisan ini terus dijaga dan dipelajari hingga kini. Nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan yang mereka ajarkan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan umat manusia dari masa ke masa.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat betapa besar peran ilmu dalam meningkatkan kualitas hidup. Dengan ilmu, seseorang dapat bekerja secara lebih baik, menciptakan inovasi, dan memberikan solusi atas berbagai masalah. Ilmu menjadi jalan untuk keluar dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Bahkan harta pun sejatinya diperoleh dan dikelola dengan baik berkat ilmu. Tanpa ilmu, kekayaan bisa habis tanpa manfaat atau justru membawa kehancuran.
Perumpamaan “harta karun itu ilmu” mengingatkan kita agar tidak terjebak pada pemahaman sempit tentang kekayaan. Kekayaan sejati bukanlah apa yang kita simpan, melainkan apa yang kita pahami dan amalkan. Ilmu tidak silau seperti emas, tetapi sinarnya lebih tahan lama. Ia tidak menimbulkan kecemasan, justru menghadirkan ketenangan dan keyakinan.
Pada akhirnya, manusia boleh saja memiliki harta, tetapi jangan sampai melupakan ilmu. Harta adalah alat, sedangkan ilmu adalah penuntun. Ketika ilmu ditempatkan sebagai harta karun utama, manusia akan mampu menjalani hidup dengan lebih bijak, bermanfaat, dan bermakna. Sebab, di tengah dunia yang terus berubah, hanya ilmu yang tetap relevan, menjaga pemiliknya, dan menjadi cahaya bagi sesama.
(Dindi)
Pilihan





