Rumah yang Terlalu Sunyi untuk Seorang Ayah


Cerpen: Anonim

Kisah ini menuturkan perjalanan batin Alwan, seorang ayah lanjut usia yang perlahan kehilangan rasa aman di rumahnya sendiri. Hubungannya dengan Iga, anak lelaki yang tertutup dan terasing oleh dunianya sendiri, menghadirkan luka tanpa suara, sementara sikap istrinya yang memanjakan justru memperlebar jarak.

Di tengah rasa takut, trauma, dan putus asa, Alwan memilih minggat untuk menenangkan diri di sebuah pesantren, tempat ia belajar menerima kenyataan pahit tentang cinta, kegagalan, dan makna melepaskan. Cerita ini adalah perenungan sunyi tentang keluarga, kesepian di usia tua, dan usaha manusia untuk berdamai dengan luka yang tak pernah terucap.

*****

Alwan mulai menghitung usia bukan lagi dengan angka, melainkan dengan rasa letih yang tak kunjung reda. Tubuhnya masih berdiri, punggungnya masih sanggup menyangga hari, tetapi jiwanya terasa makin sering terantuk oleh sesuatu yang tak kasatmata. Di rumah yang ia bangun dari kerja puluhan tahun, ia justru merasa seperti tamu yang keberadaannya sering mengganggu.

Kesedihan itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, seperti retakan halus pada dinding yang mula-mula diabaikan, lalu suatu hari membuat seluruh tembok runtuh. Iga, anak lelakinya yang kedua, menjadi sumber dari getaran yang membuat hidup Alwan tak lagi tenang.

Tanpa sebab yang jelas, tanpa peristiwa besar yang dapat ditunjuk, Iga kerap membentuk ayahnya dengan sikap dingin, tatapan kosong, dan penolakan yang tak terucap namun terasa menyakitkan. Tidak ada teriakan, tidak ada bentakan, tetapi justru itulah yang paling menyiksa. Ketidakpedulian yang menggantung di udara lebih tajam daripada amarah.

Iga tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, introvert yang tenggelam dalam dunianya sendiri. Setiap hari ia terjebak pada layar ponsel, menggambar tanpa henti, menggoreskan imajinasi ke dunia digital yang tidak pernah menuntutnya untuk menjelaskan diri. Ia jarang keluar rumah, jarang menyapa, dan hampir tak pernah menunjukkan minat pada kehidupan di sekitarnya. Egoismenya bukan dalam bentuk keangkuhan, melainkan dalam ketidakmauan berbagi ruang batin dengan siapa pun, termasuk ayahnya sendiri.

Alwan tidak mengerti kapan jarak itu mulai terbentuk. Ia merasa telah menjadi ayah yang cukup, meski tidak sempurna. Ia bekerja keras, menafkahi, membesarkan anak-anaknya dengan prinsip sederhana tentang kejujuran dan tanggung jawab.

Ia tidak pernah bermimpi menjadi orang tua ideal, tetapi ia percaya bahwa kehadirannya selalu tulus. Karena itu, setiap kali ia merasakan sikap dingin dari Iga, kebingungan itu berubah menjadi rasa takut. Takut telah gagal. Takut ada kesalahan besar yang luput dari ingatan. Takut bahwa usia lanjut hanya akan diisi oleh penyesalan yang tak sempat ditebus.

Radin, istrinya, berdiri di antara mereka seperti tembok rapuh yang tidak mampu menjadi penyangga. Ia melihat perseteruan itu, merasakannya, tetapi tidak sanggup berbuat banyak. Radin terlalu sering memilih diam dan memanjakan Iga.

Ia menuruti hampir semua keinginan anak keduanya itu, seakan berharap kelunakan dapat menjadi jembatan. Namun kelunakan itu justru berubah menjadi jarak baru antara Alwan dan anak lelakinya. Setiap kali Alwan mencoba menegakkan batas, Radin hadir dengan alasan, pembenaran, dan sikap melindungi yang tanpa sadar memperkecil posisi Alwan sebagai ayah.

Di sudut-sudut rumah, Alwan sering duduk sendiri. Ia melihat dinding yang menyimpan foto-foto lama, saat Murni dan Randi masih kecil. Anak-anak itu tumbuh dengan tawa, jatuh bangun, dan kenangan yang kini terasa jauh. Murni, anak pertama, telah hidup mapan di luar kota, dengan keluarga kecil yang tertata rapi.

Randi, si bungsu, juga menemukan jalannya sendiri, hidup tenang dengan pekerjaan yang stabil. Keduanya sesekali pulang, membawa cerita tentang dunia yang bergerak cepat. Mereka menghormati ayahnya, menyayanginya, tetapi kehidupan telah membawa mereka jauh. Rumah yang dulu ramai kini hanya menyisakan gema.

Iga tetap tinggal, tetapi justru kehadirannya terasa paling asing. Ia masih bujang, bekerja serabut tanpa kepastian, hidup dari hari ke hari tanpa rencana jelas. Alwan tidak mempermasalahkan pekerjaan yang tidak mapan, sebab ia percaya setiap anak memiliki waktunya sendiri. Yang membuatnya hancur adalah sikap Iga yang seolah memandang ayahnya sebagai beban emosional, sesuatu yang harus dihindari agar dunia kecilnya tetap utuh.

Setiap pagi Alwan bangun dengan perasaan waswas. Ia takut melakukan kesalahan kecil yang akan memperlebar jurang. Ia takut suara langkahnya mengganggu. Ia takut tatapannya dianggap mengintervensi. Ketakutan itu menjelma trauma kecil yang berulang, hingga akhirnya ia mulai merasa tidak aman di rumahnya sendiri. Rumah yang dulu ia sebut tempat pulang kini berubah menjadi ruang penuh kehati-hatian.

Putus asa datang bukan sebagai ledakan, melainkan sebagai kelelahan yang menumpuk. Alwan mulai berpikir tentang pergi, bukan untuk selamanya, tetapi untuk menenangkan diri. Pikiran itu awalnya ia anggap dosa, karena bagaimana mungkin seorang ayah meninggalkan rumahnya sendiri. Namun setiap hari yang berlalu membuat keinginannya semakin nyata. Ia merasa jika tetap tinggal, ia hanya akan semakin menyusut, semakin kehilangan harga diri, dan semakin terjebak dalam perasaan tidak dibutuhkan.

Malam-malamnya dipenuhi perenungan. Ia mengingat masa muda, ketika hidup terasa keras namun jelas arahnya. Kini, di usia lanjut, justru ketidakjelasan itu datang dari dalam rumah. Ia merasa gagal memahami zaman, gagal memahami anaknya, gagal membaca perubahan. Rasa iba terhadap dirinya sendiri muncul, disertai kecewa yang dalam. Kecewa bukan hanya pada Iga, tetapi juga pada dirinya yang tak sanggup menjembatani jarak.

Pada suatu pagi yang sunyi, Alwan memutuskan untuk benar-benar pergi, meski kata yang lebih tepat adalah minggat. Ia tidak membawa banyak barang, hanya pakaian secukupnya dan segenggam niat untuk menyelamatkan batin. Tujuannya sebuah pesantren di pinggiran kota, tempat seorang kiai yang telah lama menjadi sahabatnya tinggal. Ia tidak berniat mengeluh atau mencari pembenaran. Ia hanya ingin duduk, bernapas, dan mengingat kembali siapa dirinya di luar peran sebagai ayah yang gagal.

Perjalanan itu terasa panjang meski jaraknya tidak jauh. Setiap langkah membawa beban kenangan. Ada rasa bersalah karena meninggalkan Radin, meski ia tahu istrinya akan memahami dengan caranya sendiri. Ada rasa sedih karena harus menjauh dari rumah yang ia bangun dengan cinta. Namun ada juga rasa lega yang samar, seperti udara segar setelah lama terkurung.

Di pesantren itu, Alwan menemukan ketenangan yang telah lama hilang. Bukan karena nasihat panjang atau petuah berat, melainkan karena kesederhanaan hidup yang mengalir apa adanya. Ia menyapu halaman, duduk di serambi, mendengarkan suara alam yang tidak menuntut apa pun darinya. Di sana, ia tidak harus menjadi ayah yang benar atau salah. Ia hanya menjadi manusia tua yang belajar berdamai dengan luka.

Hari-hari berlalu, dan perenungan semakin dalam. Alwan mulai memahami bahwa tidak semua jarak bisa dipaksa dekat. Ada luka yang tidak berasal dari niat jahat, melainkan dari ketidakmampuan manusia memahami satu sama lain. Ia menyadari bahwa Iga mungkin juga memikul beban yang tidak pernah terucap. Dunia digital yang digenggamnya mungkin adalah pelarian dari kebingungan yang sama, dari rasa tidak mampu memenuhi ekspektasi sebagai anak lelaki.

Kesadaran itu tidak serta-merta menghapus rasa sakit, tetapi memberi bingkai baru pada kesedihan. Alwan belajar menerima bahwa cinta tidak selalu berbalas dengan kehangatan. Kadang cinta hadir dalam bentuk melepaskan, memberi ruang, dan tidak menuntut pengertian segera. Ia menangis dalam diam, bukan karena kalah, tetapi karena akhirnya berani jujur pada dirinya sendiri.

Di usia lanjutnya, Alwan menemukan bahwa ketenangan bukanlah ketiadaan masalah, melainkan keberanian untuk berdamai dengan kenyataan. Ia tidak tahu apakah kelak hubungannya dengan Iga akan membaik. Ia tidak tahu apakah rumah itu akan kembali terasa hangat. Namun di pesantren itu, ia menemukan kembali pijakan untuk melangkah, meski perlahan dan tertatih.

Ketika suatu hari nanti ia kembali, ia tahu ia akan membawa diri yang berbeda. Bukan ayah yang penuh tuntutan, bukan pula lelaki tua yang takut ditinggalkan, melainkan seseorang yang telah belajar menerima bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi selalu memberi ruang untuk merenung. Dan dalam perenungan itulah, Alwan menemukan sisa-sisa harapan yang sempat ia kira telah hilang.


Pilihan

Tulisan terkait

Utama 8677273152128807425

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close