Keranda yang Berlari di Sapeken


Cerita Fitraini

Sebuah kisah horor berlatar Pulau Sapeken, Madura, tentang dua siswa SMP yang menantang rasa takut demi mencari jangkrik, hingga kesombongan membawa mereka berhadapan langsung dengan peristiwa mistis yang tak pernah mereka lupakan.

Di ujung Pulau Madura, tersebar sebuah pulau kecil bernama Sapeken. Pulau ini dikelilingi lautan luas yang seolah tak bertepi, dan di tengah-tengahnya berdiri sebuah kuburan tua yang telah lama dipercaya masyarakat sebagai tempat keramat. Kepercayaan itu diwariskan turun-temurun dari para leluhur, dijaga dengan rasa hormat dan kehati-hatian.

Kuburan tersebut diyakini sebagai kuburan pertama yang ada di Pulau Sapeken. Letaknya tepat di jantung pulau, menghadap langsung ke laut lepas. Di bagian belakangnya berdiri SMP Negeri 1 Sapeken, satu-satunya sekolah menengah pertama di pulau itu. Sebuah pemandangan yang bagi orang luar mungkin biasa saja, namun bagi warga setempat menyimpan banyak kisah tak kasatmata.

Luas area kuburan itu sekitar 10 x 5 meter, hanya berisi beberapa makam tua. Menurut cerita warga, yang dimakamkan di sana adalah orang-orang terpandang dengan ilmu tinggi dan kesaktian tertentu. Tidak semua orang boleh dimakamkan di tempat itu, hanya mereka yang dianggap memiliki kedudukan spiritual.

Banyak peristiwa ganjil pernah terjadi di sana. Salah satu yang paling sering menjadi buah bibir warga adalah kisah keranda yang bergerak sendiri, bahkan berlari. Fenomena ini konon hanya muncul pada malam Jumat, dan tidak semua orang dapat melihatnya—hanya mereka yang “dipilih” atau para sesepuh kampung.

Kisah ini bermula dari dua siswa SMP bernama Kacong dan Roni. Menjelang musim hujan, anak-anak Sapeken memiliki kebiasaan berburu jangkrik untuk dipelihara atau diadu. Kuburan tua itu, yang dikelilingi rumput panjang dan pepohonan besar, dikenal sebagai tempat favorit jangkrik bersuara nyaring.

Suatu siang di kelas, Roni berbisik pada Kacong.

“Cong, nanti malam kita cari jangkrik di kuburan belakang sekolah, ya. Kata teman-teman, jangkriknya besar-besar dan berani. Berani nggak kamu?” katanya sambil tersenyum menantang.

Kacong langsung menelan ludah.
“Aku takut, Ron. Kuburannya serem. Apalagi malam Jumat. Kata Pak Saat, keranda di sana bisa bergerak sendiri.”

Roni tertawa kecil.
“Ah, penakut. Kita bawa senter saja. Lumayan kalau dapat banyak, bisa dijual. Dapat uang jajan.”

Kacong terdiam sejenak, lalu mengangguk ragu.
“Ya sudah, tapi bawa senter yang terang, ya.”

Malam itu, tepat pukul delapan, mereka bertemu di depan sekolah dan langsung menuju kuburan. Namun di tengah jalan, Kacong merasa ada yang janggal.

“Ron… kamu ngerasa nggak? Kayak ada yang ngikutin kita,” bisiknya gemetar.

Roni menoleh sekilas.
“Ah, perasaanmu saja. Tenang.”

Sesampainya di lokasi, suara jangkrik bersahutan dari segala arah. Roni segera menyalakan senter dan mulai berburu. Pepohonan tinggi membuat suasana semakin mencekam.

Waktu terus berjalan. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

“Ron, pulang aja yuk. Udah malam,” pinta Kacong.

“Bentar lagi. Nanggung,” jawab Roni.

Hingga pukul setengah sebelas, perasaan tak nyaman semakin kuat. Tiba-tiba, Kacong melihat sesosok berbaju hitam melintas cepat di depannya.

“Astagfirullah! Ron, kamu lihat itu nggak?” teriaknya panik.

Roni menggeleng.
“Ah, halu kamu. Lanjut aja.”

Tak lama kemudian, Roni menunjuk ke arah sebuah keranda tua.
“Di situ jangkriknya banyak. Ayo ke sana.”

Kacong menolak keras, namun Roni sudah melangkah lebih dulu. Dengan terpaksa, Kacong mengikutinya.

Di dekat keranda, Roni tertawa melihat ketakutan temannya. Bahkan ia duduk di atas kayu keranda dengan santai.

“Ron, jangan duduk di situ! Nanti penunggunya marah!” teriak Kacong.

Namun Roni hanya tertawa meremehkan.

Tepat pukul sebelas malam, terdengar suara tangisan anak kecil dari kejauhan. Suara itu semakin dekat, semakin jelas.

Tiba-tiba, keranda itu bergerak sendiri.

Roni terkejut, terjatuh ke tanah. Mereka berdua lari sekuat tenaga, namun kaki Roni terperosok ke salah satu makam.

“Cong! Tolong aku!” jeritnya histeris.

Dengan sisa keberanian, Kacong menarik tangan Roni hingga kakinya terlepas. Mereka berlari tanpa menoleh. Dari kejauhan, keranda itu seakan mengejar, hingga akhirnya berhenti tepat di batas kuburan.

Malam itu, mereka pulang dengan tubuh gemetar dan wajah pucat. Sejak kejadian tersebut, Roni tak pernah lagi meremehkan tempat keramat, dan Kacong tak pernah lupa ketakutan yang nyaris merenggut nyawa sahabatnya.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa di mana pun berada, sikap hormat dan sopan adalah benteng utama. Menghargai tempat yang dikeramatkan bukan soal percaya atau tidak, melainkan soal adab agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua.

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5691331448654607235

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close