Sajak-Sajak Any Ramdlaniyah
Any Ramdlaniyah, M.Pd. kerap dipanggil Ibu Ani. Ibu dari delapan anak ini masih bersemangat berjuang untuk mengembangkan segala potensi diri yang ada pada dirinya. Meski hidup di daerah pegunungan di desa kecil bernama Bungberuh, Kecamatan Kadur, Pamekasan berusaha ikhlas mengabdi di MA Alfalah, Karangsokok, Guluk-Guluk, Sumenep dengan segala suka dukanya. Mati adalah batas akhir pengabdiannya, begitulah motto hidup yang senantiasa mengiringi langkahnya untuk terus memberi warna di lingkungannya, sehingga dengan itu "lelah" tak menghalanginya untuk terus berbenah dan mengajak anak-anak di kampung tempatnya menenun kasih sayang untuk ikhlas menghafalkan ayat-ayat Alqur'an
Pelangi di Pulau Garam
Putih salju menyelimuti jalanan yang kusaksikan di sana
Indah, menawan, memikat setiap hati yang sedang berjalan
Menggelayut pikiran tentang kekayaan sebuah negeri yang disebut sebagai pulau garam
Di antara gersang tanah dan panas menyengat suasana para pekerjanya
Inilah salju Maduraku, awan negeriku, pelengkap rasaku
Memutihkan rasa jiwa yang kotor oleh sebuah keinginan manusiawi penuh kedengkian
Menjalar ke seantero negeri tentang suara yang tak dipedulikan
Bergemuruh terus bergaung menuntut sesuatu yang wajar bagiku
Lelah terasa di mata mereka setiap saat membisikkan kesah
Tentang sebuah rasa yang hilang pada rongga yang hampir tak lagi bisa bersuara
Kemana kami harus mengadu, kemana kami harus menembus jalan buntu
Ke sana tak ada bayang hitam, di sini pun kami ditinggalkan
Merah, kuning, hijau, dan pekatnya awan berarak kea rah kanan
Menggiring imajinasi para petani menggantungkan harapan
Di sisi rasa kemanusiaan yang dituntut hadir membersamai
Kegalauan hati yang tak kunjung terperi menepis rasa entah kemana
Jika nyaman yang kau ucapkan pada sebuah makanan
Di atas meja terhidang lezat karena kau bubuhi garam
Lalu kemana kami mencari nyaman saat rasa ini terkungkung oleh pelangi
Mentertawakan diri yang tak lagi memiliki rasa kesetiakawanan pada anak negeri
Tembakau Besi
Harummu tak dapat kuekspresikan dengan kata-kata manis semanis senyum mereka
Ada bau yang tak lagi dikejar hujan meski mendung pun tak dirisaukan
Bagaimana mungkin cerah hari yang menjanjikan tak lagi elok seperti hari-hari kemaren
Merayakan harga menjulang memetik hadiah kerja keras tak kenal siang dan malam
Aduhai para penentu kebijakan, penentu nasib bawahan, pelelang harga kiloan
Dengarkan jeritan kami,
Rasakan lelah kami,
Bukakan pintu untuk kami
Menunggu deretan panjang sungguh membosankan dan sering menghabiskan banyak uang
Berjibaku dengan keringat dan waktu demi masuk pagar itu
Sabar dan sabar kami bisikkan di telinga sendiri
Kepenatan yang harus dibayar dengan kekecewaan
Aduhai para elit negeri ini, pejabat pembantu orang nomor satu pilihan kami
Tembakau kami bukan tembakau besi
Tembakau ini butuh dibeli
Tembakau ini tembakau asli
Pantai Cemara
Debur ombak berkejaran melawan angin pantai
Mengisahkan angan seorang nelayan tampan
Bercita-cita memakmurkan negeri awan
Terhalang keangkuhan saudara kembar
Silakan lirih sang kembar
Mengernyitkan dahi saudara seibu
Tak tampak senyum syahdu
Sadar akan segera kehilangan
Jangan
Jangan
Jangan
Suara itu terus mengganggu alam sadarku
Batu dinding kaku kokoh berdiri di depanku
Ini tak adil …pekikku
Ini tak bias kubiarkan berlalu
Jangan
Jangan
Jangan
Wasiat itu harus tetap kau pelihara
Menggenggam bara memang tak kuasa, tapi
Membiarkan semuanya adalah semena-mena
Kelak kita akan menyesal semua sudah berpindah tangan
Asta Tinggi Identitas Negeri
Lihatlah Raja-raja yang terbaring di sana
Tahta kerajaan yang diagungkan tak dibawa
Gelar bangsawan tak bisa menunda waktunya berjumpa dengan Tuhannya
Punggawa dan pasukannya tak mampu mencegah ketentuan Rabnya
Tak ada yang dibanggakan Raja pada rakyatnya kecuali jasanya
Tak ada yang dapat dikenang kecuali nama harumnya
Tak ada yang bisa dielukan kecuali pengayomannya
Tak ada yang berkenan menziarahinya kecuali magnet anugerah Ilahinya
Raja sebuah negeri hari ini dirindu rakyatnya
Diabadikan sebagai pahlawannya
Diangkat menjadi imamnya, menyimak curhatnya
Hati jernih itu saja syaratnya
Asta Tinggi bukan sekedar asta sejarah biasa
simbol kehidupan para raja zaman dahulu kala
Asta tinggi tidak hanya menyisakan puing gerbang yang konon berkah
Asta Tinggi berhikmah bagi penerus negeri ini
Karapan Sapi Santun
Madura bertanya padamu bangsawan, di negeri yang dipenuhi dengan dermawan
Sumenep di ujung timur hingga di ujung barat kabupaten Bangkalan
Terlalu bosan dengan tayangan “Karapan Sapi” berdarah-darah, kawan
Beri kami nasehat wahai bangsawan ibu kota dengan sopan
Tak adakah cara yang elegan menghantarkan kami menjadi juara
Karapan Sapi yang selalu menjadi idola bagi pedagangnya
Meski miris hati teriris namun terlanjur berbaris demi sebuah nama
Pulang dengan bangga disambut para tetangga
Bapak Presiden Indonesiatercinta,
Kami anak negeri berlebur budaya berserah raga
Bercita-cita menyajkan Karapan Sapi tanpa darah
Bolehlah Presiden bertitah untuk rakyat Madura dengan damai dan cinta
Mentari T' Bertuan?
Siapa saja bebas menentangnya, memuji keelokannya
Bahkan menepis sinarnya yang sering mengganggu di pikirmu
Sesaat pada masa yang pada ujungnya
T’ peduli cerahnya menerpa digantikan pekatnya malam
Jika mau berikrar pada Sang Empunya, suka tidak suka
Ia hadir memberi harapan pada semua
Tua-muda, tinggi-rendah sama rata
Sama-sama membutuhkannya
Cahaya ilmu dinanti t' jemu kala “ada” yang menerpa
Tahulah di sana arti sebuah konsekwensi
T’ bisa ditukar dengan secuil kata “belajar”
Semua yang mengeluhkan kinerja “pekerja” pendidikan
Mulaikah ada kesadaran akan “tanggung jawab” bersama
Jika dari masa ke masa selalu “dia” yang dituding telah bersalah
Dari rendahnya kwalitas sampai rendahnya minat
Atau, jangan-jangan “dia” hanya jadi perahan belaka
Hingga harus begini dan begitu
Tugas ini tugas itu
Harus selesai tepat waktu
Berdalih karena ada tunjangan guru
Kawan...
Mentari bukan T’ bertuan tapi dia diciptakan untukmu
Guru pun demikian
Bak mentari yang t' kenal lelah meski sering dikeluhkan
Pilihan





