Membaca Tak Pernah Pensiun: Menjaga Pikiran Tetap Hidup di Usia Senja


Banyak orang tua berhenti membaca setelah pensiun karena merasa tak lagi membutuhkannya. Padahal, membaca—dalam bentuk apa pun—adalah kunci menjaga kejernihan pikiran, ketenangan emosi, dan semangat belajar sepanjang hayat. Artikel ini mengajak semua usia memahami bahwa membaca tak mengenal kata pensiun.

*****

Tidak sedikit orang tua—termasuk mantan guru, pegawai, atau tokoh masyarakat—yang perlahan menjauh dari kebiasaan membaca setelah memasuki masa pensiun. Alasannya beragam. Ada yang merasa apa yang dibaca sudah tidak relevan lagi dengan kehidupannya. Ada pula yang mengaku penglihatannya tak lagi setajam dulu, atau buku-buku yang tersedia terasa membosankan dan berulang.

Pensiun, dalam pandangan sebagian orang, seolah menjadi garis akhir dari aktivitas intelektual. Padahal, pensiun hanyalah akhir dari rutinitas kerja, bukan akhir dari proses berpikir dan belajar.

Ketika Membaca Dianggap Tak Lagi Perlu

Bagi sebagian orang tua, membaca identik dengan kewajiban: tugas sekolah, tuntutan pekerjaan, atau tanggung jawab profesi. Ketika kewajiban itu hilang, membaca pun ikut ditinggalkan. Ditambah lagi dengan keterbatasan fisik seperti mata yang cepat lelah, sakit kepala, atau sulit berkonsentrasi dalam waktu lama.

Namun, anggapan bahwa membaca tidak lagi diperlukan justru menjadi awal dari kemunduran perlahan. Bukan hanya pada daya ingat, tetapi juga pada kesehatan mental dan emosi.

Membaca: Makanan Bergizi untuk Pikiran

Membaca memiliki peran penting di usia lanjut. Ia membangun dan menjaga dasar literasi yang sudah dimiliki, memperkaya kosakata, serta melatih otak untuk tetap aktif. Aktivitas ini membantu menjaga daya ingat, melambatkan penurunan fungsi kognitif, dan mempertajam cara berpikir.

Lebih dari itu, membaca juga meningkatkan imajinasi dan memberi ruang bagi pikiran untuk “berjalan-jalan”. Cerita, kisah sejarah, refleksi hidup, hingga bacaan ringan mampu menghadirkan rasa tenang dan bahagia. Bagi orang tua, membaca sering kali menjadi teman sunyi yang setia, mengurangi rasa sepi dan beban emosi yang tak selalu terucap.

Membaca Juga Menguatkan Ikatan Emosional

Membaca tidak selalu harus dilakukan sendirian. Orang tua yang gemar membaca cenderung lebih mudah berbagi cerita, pengalaman, dan nilai hidup kepada anak dan cucu. Dari sanalah tercipta ikatan emosional yang hangat.

Ketika orang tua membaca lalu bercerita kembali, mereka sesungguhnya sedang mewariskan kebijaksanaan hidup. Membaca menjadi jembatan antar generasi—bukan sekadar aktivitas pribadi.

Membaca di Era Digital: Tak Harus Buku Tebal

Membaca hari ini tidak selalu berarti membuka buku cetak dengan huruf kecil. Dunia digital menyediakan banyak ruang alternatif. Artikel daring, tulisan reflektif di media sosial, hingga berita yang dikemas ringan bisa menjadi bahan bacaan.

Bagi yang memiliki keterbatasan penglihatan, ada pilihan audio book, podcast, ceramah, atau video edukatif. Mendengarkan pun merupakan bentuk membaca—membaca dengan telinga. Audio visual bahkan membantu memahami informasi dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Yang terpenting bukan medianya, melainkan proses menerima, merenungkan, dan memahami makna.

Membaca Adalah Belajar Seumur Hidup

Membaca menumbuhkan kecintaan belajar sepanjang hayat. Ia menjaga manusia tetap terbuka pada hal baru, tidak mudah curiga, dan lebih bijak menyikapi perubahan zaman—terutama di era digital yang bergerak cepat.

Bagi orang tua, membaca juga membantu membentuk karakter: lebih sabar, lebih reflektif, dan lebih tenang dalam menghadapi realitas hidup. Dengan membaca, seseorang tidak mudah terjebak dalam pikiran negatif atau kejenuhan yang berkepanjangan.

Membaca Tak Pernah Mengenal Usia

Membaca bukan soal pintar atau tidak, bukan pula soal usia produktif atau tidak. Membaca adalah hak dan kebutuhan setiap manusia, sejak muda hingga tua. Selama pikiran masih ingin memahami hidup, selama hati masih ingin tenang, membaca akan selalu menemukan tempatnya.

Pensiun boleh datang, usia boleh bertambah, tetapi membaca tak pernah pensiun. Ia tetap setia menjaga pikiran agar tetap hidup, jernih, dan bermakna.

(Rullis dari beberapa sumber)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 3879459799836471618

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close