Bung Kecil dengan Nyali Raksasa: Tragedi Sunyi Sutan Syahrir, Otak Kemerdekaan yang Dilupakan Zaman


Ia bukan orator yang membakar massa, bukan pula jenderal di medan tempur. Tubuhnya kecil, suaranya tenang, pikirannya tajam. Sutan Syahrir adalah wajah lain revolusi Indonesia—sunyi, rasional, dan berkelas dunia. Namun justru ia yang paling lama merasakan pahitnya dipenjara oleh bangsanya sendiri. Inilah feature biografi tentang kejeniusannya, pengorbanannya, dan ironi sejarah yang menutup hidupnya
.

Dikenal dengan panggilan sayang “Bung Kecil”, Sutan Syahrir bukanlah sosok yang mudah menonjol dalam keramaian. Tinggi badannya hanya sekitar 150 sentimeter, jauh dari gambaran pemimpin revolusi yang gagah dan berwibawa. Namun di balik tubuh mungil itu bersemayam nyali raksasa, kecerdasan kelas dunia, dan keberanian moral yang jarang dimiliki manusia pada zamannya.

Syahrir bukan pemimpin yang mengandalkan teriakan atau amarah. Ia memilih jalan berpikir. Jalan yang sunyi, terjal, dan sering kali tidak populer. Namun justru melalui jalan itulah Republik Indonesia memperoleh pengakuan dunia. Tanpa diplomasi cerdas Syahrir di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1947, kemerdekaan Indonesia sangat mungkin hanya dicatat sebagai “pemberontakan lokal” terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Dunia internasional kala itu belum tentu memihak republik muda yang lahir dari perang dan kekacauan pasca-Perang Dunia II. Syahrirlah yang meyakinkan dunia bahwa Indonesia bukan sekadar gejolak regional, melainkan bangsa merdeka yang sah.

Sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia, Syahrir memikul beban berat di usia yang relatif muda. Ia harus mengemudikan negara yang baru lahir, rapuh, dan penuh tekanan eksternal maupun internal. Ia menghadapi Belanda yang ingin kembali berkuasa, Sekutu yang curiga, serta konflik ideologis di dalam negeri. Namun ia tetap berdiri pada prinsip: kemerdekaan harus diakui melalui akal sehat, bukan semata-mata senjata.

Prinsip itulah yang membuatnya dicintai oleh kalangan intelektual dunia, tetapi dicurigai oleh sebagian elite politik di negerinya sendiri. Syahrir terlalu rasional di tengah revolusi yang emosional. Terlalu demokratis di tengah hasrat kekuasaan yang mengeras. Sejarah kemudian mencatat: dalam politik, kejernihan sering kali kalah oleh kekuatan.

Ironi itu mencapai puncaknya pada 16 Januari 1962, hari paling kelam dalam hidup Bung Kecil. Malam itu, ia tidak ditangkap oleh tentara kolonial Belanda, bukan pula oleh pasukan asing. Ia justru ditangkap oleh aparat bangsanya sendiri—atas perintah seorang sahabat lama, kawan seperjuangan di masa revolusi, yang kini berada di puncak kekuasaan.

Dari ruang-ruang perundingan internasional yang megah, Syahrir dijebloskan ke sel penjara yang pengap di Madiun. Tuduhannya kabur, proses hukumnya tidak jelas. Ia tidak diadili, tidak pula diberi kesempatan membela diri. Ia ditahan karena dianggap berbeda pandangan, karena pikirannya tidak lagi sejalan dengan arus kekuasaan.

Bayangkan perasaannya. Seorang yang menghabiskan masa mudanya di penjara kolonial, termasuk di Boven Digoel—kamp pengasingan paling kejam Hindia Belanda—demi cita-cita kemerdekaan, kini harus menjalani masa tuanya sebagai tahanan politik di negeri yang ia bantu lahirkan. Jika ada luka yang paling dalam, barangkali itulah luka pengkhianatan oleh sejarah.

Namun Syahrir tidak berteriak. Ia tidak mengutuk. Ia memilih diam. Diam yang penuh martabat, sekaligus diam yang menyimpan luka batin teramat dalam. Tahun demi tahun berlalu tanpa kejelasan status hukum. Penjara menjadi rutinitas, kesepian menjadi teman setia.

Tekanan batin yang berkepanjangan perlahan menggerogoti tubuhnya. Bung Kecil terserang darah tinggi parah. Kondisi kesehatannya memburuk, sementara perhatian negara nyaris tak ada. Hingga akhirnya, di dalam sel Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo, Jakarta, Syahrir terserang stroke. Separuh tubuhnya lumpuh. Lidah yang dahulu lincah menyusun argumen diplomasi kini kelu dan sulit digerakkan. Sang intelektual besar itu terbaring lemah, sunyi, dan nyaris dilupakan.

Ia yang dulu berbicara di hadapan dunia, kini hanya menatap langit-langit sel. Ia yang dulu menentukan nasib bangsa, kini tak mampu menentukan nasib dirinya sendiri.

Ketika kondisinya benar-benar kritis, barulah pemerintah mengizinkannya berobat ke luar negeri. Bukan sebagai orang merdeka, melainkan sebagai tahanan yang sakit. Syahrir dibawa ke Zurich, Swiss. Jauh dari tanah air yang ia cintai, jauh dari bahasa dan kenangan masa kecilnya.

Di negeri asing itulah, pada 9 April 1966, Sutan Syahrir mengembuskan napas terakhir. Ia wafat dalam sunyi. Tanpa kerumunan rakyat. Tanpa pidato perpisahan. Tanpa kehormatan negara yang semestinya ia terima semasa hidup.

Kabar kematiannya menampar Jakarta. Pemerintah yang menahannya tersentak. Rasa bersalah menyeruak terlambat. Dalam hitungan jam, sejarah diperbaiki secara administratif. Melalui Keputusan Presiden Nomor 76 Tahun 1966, status Syahrir diubah dengan cepat. Pagi hari ia meninggal sebagai tahanan politik. Sore harinya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional—penghormatan tertinggi negara yang datang ketika nyawanya telah tiada.

Jenazahnya diterbangkan pulang ke tanah air. Jakarta menyambutnya dengan duka yang membuncah. Jutaan rakyat berbondong-bondong turun ke jalan, mengiringi kepergiannya menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tangis pecah. Penyesalan mengendap di udara.

Namun semua air mata itu tak mampu menghapus satu fakta pahit: bangsa ini pernah membiarkan salah satu putra terbaiknya mati perlahan, dalam kesepian, dengan status kriminal.

Syahrir pernah berkata, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Ia telah mempertaruhkan segalanya—kebebasan, kesehatan, bahkan hidupnya—demi kemerdekaan bangsa ini. Ia menang untuk kita semua. Namun ironisnya, bangsa yang ia bantu menangkan justru merampas kemerdekaannya di ujung usia.

Sejarah memang sering kejam pada orang-orang jujur. Namun ingatan adalah cara kita menebus dosa kolektif. Hari ini, nama Sutan Syahrir abadi di buku-buku sejarah, di jalan-jalan, di ruang-ruang diskusi intelektual. Meski raganya pernah kita sakiti, pikirannya tetap hidup, menjadi cermin tentang bagaimana seharusnya kekuasaan dijalankan: dengan akal sehat, keberanian moral, dan penghormatan pada kemanusiaan.

Maafkan kami yang terlambat menghargaimu, Bung Kecil.
Istirahatlah dengan tenang.
Negeri ini masih berutang pada teladanmu.

 (Audi)

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 7105216243848895277

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close