Legenda Bujuk Kapala Perang
Oleh: Putri Wulandari
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang tokoh yang dikenal dengan sebutan Kapala Perang. Kisah tentangnya hidup dan diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Karanganyar, Madura. Makamnya—yang oleh masyarakat disebut Bujuk Kapala Perang—terletak di tengah hamparan tambak garam, bersebelahan dengan Bujuk Kapala Situ. Tempat itu sejak lama dipercaya sebagai lokasi yang keramat.
Masyarakat meyakini bahwa siapa pun yang datang ke bujuk tersebut harus menjaga sikap dan tutur kata. Mereka percaya, orang yang berniat jahat, berkata buruk, atau melanggar pantangan yang disampaikan juru kunci akan terkena bala, atau dalam bahasa Madura disebut ecapok tola. Bala itu diyakini dapat berupa sakit, musibah, atau gangguan lain yang tidak akan sembuh sebelum yang bersangkutan meminta maaf.
Konon, pernah terjadi seorang perempuan yang berbicara buruk tentang Bujuk Kapala Perang. Beberapa hari kemudian, ia jatuh sakit dan tidak dapat berbicara. Setelah dibawa kepada orang pintar, diketahui bahwa penyakit tersebut merupakan bala akibat ucapannya. Ia baru berangsur sembuh setelah melakukan permohonan maaf secara adat. Sejak peristiwa itu, kepercayaan masyarakat terhadap kesakralan bujuk semakin kuat.
Tak hanya itu, masyarakat Karanganyar juga mempercayai bahwa melewati atau melangkahi kuburan para sesepuh dengan sembarangan adalah pantangan yang dapat mendatangkan kesialan. Semua itu menjadi bagian dari adat dan kepercayaan yang dijaga hingga kini.
Bujuk Kapala Perang juga dikisahkan memiliki sebuah perahu tua peninggalan masa lalu. Perahu itu diyakini memiliki unsur mistis. Beberapa warga mengaku pernah melihat perahu tersebut bergerak sendiri, seolah mesinnya hidup, bahkan ada yang bersaksi melihat sosok berpakaian seperti orang zaman dahulu berada di atasnya.
Selain itu, di pasarean tersimpan sebuah bambu runcing peninggalan Pangeran Kapala Perang, yang dijaga oleh ketua sesepuh sekaligus juru kunci. Banyak orang percaya bambu runcing tersebut memiliki kesaktian. Tak sedikit pula yang mengincarnya untuk kepentingan pribadi, seperti ingin kebal tubuhnya atau memiliki kekuatan gaib—niat yang oleh para sesepuh dianggap menyimpang dari ajaran leluhur.
Desa Karanganyar sendiri dipercaya dikelilingi oleh tujuh bujuk, yang dianggap sebagai penjaga desa. Sebagian masyarakat meyakini bahwa bujuk-bujuk tersebut adalah para wali yang dapat memberi keselamatan serta mendatangkan musibah bagi mereka yang berniat jahat. Namun para sesepuh selalu mengingatkan bahwa semua itu hanyalah adat dan kepercayaan, sementara keselamatan dan musibah sejatinya adalah kehendak Tuhan.
Setiap orang yang hendak berziarah ke Bujuk Kapala Perang biasanya membawa sesajen, seperti nasi dengan telur dadar, ayam, bandeng, serta menggunakan piring khusus warisan nenek moyang. Piring itu tidak boleh digunakan sembarangan. Masyarakat percaya, jika piring tersebut pecah atau disalahgunakan, musibah akan menimpa keluarga pemiliknya. Piring itu biasanya digunakan sebagai panjeng, hidangan adat dalam ritual ziarah.
Ziarah besar biasanya dilakukan setelah Idulfitri dan Iduladha. Orang-orang datang beramai-ramai membawa panjeng dan bunga, diiringi tabuhan gamelan. Sesepuh kemudian mengambil bunga dan bedak panggung untuk dibawa ke makam Nyi Sokmaelang, yang diyakini memiliki keterkaitan dengan Kapala Perang. Setelah didoakan, panjeng dimakan bersama, dan sesepuh membagikan laang, ramuan adat yang hanya dibuat setahun sekali.
Dalam perayaan besar, laang tersebut diminum atau digunakan sebagai obat. Bedak panggung dicairkan dengan air, lalu diminum atau dioleskan di belakang telinga dan kepala oleh para peziarah. Setelah itu, orang-orang masuk ke makam untuk berdoa dan memohon keselamatan.
Hingga kini, kepercayaan terhadap bujuk-bujuk di Karanganyar masih hidup. Namun, tidak sedikit pula yang keliru memaknainya. Ada yang menjadikan bujuk sebagai tempat bertapa, tidur semalam suntuk pada malam Jumat Manis, bahkan menyalahgunakannya untuk mencari kesaktian atau memikat lawan jenis.
Para sesepuh menegaskan bahwa kepercayaan terhadap peninggalan leluhur tidaklah salah selama tidak melampaui batas. Sebab, pada akhirnya, keselamatan, kebahagiaan, dan kematian sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan. Bujuk Kapala Perang hanyalah saksi sejarah dan adat, yang mengajarkan manusia untuk menjaga sikap, menghormati leluhur, dan tidak menyimpang dari jalan kebenaran.
(editor: Syaf)
Pilihan




