Pantai Salopeng yang Menjadi Saksi


Cerpen   Lilis Suryaningsih, S.E

Deburan ombak dan semilir angin di Pantai Salopeng menghidupkan kembali ingatan-ingatan lama. Aku menggenggam tangannya erat, duduk berdua memandang laut yang terbentang luas, seolah dunia saat itu hanya milik kami. Sesekali kami berjalan menyusuri bibir pantai, membiarkan kaki bermain air, sesekali pula duduk saling berhadapan, bertatapan dalam diam—mata kami berbicara tentang cinta tanpa satu kata pun terucap.

Daun-daun kelapa menari ditiup angin, seakan ikut merayakan kebahagiaan kami.
“Sayang, kalau nanti kita menikah, kamu ingin punya anak berapa?” tanyanya pelan.
“Dua saja cukup,” jawabku singkat. “Yang penting sehat, dan menjadi anak yang sholeh dan sholehah.”
“Semoga semua harapanmu tercapai,” katanya.
“Aamiin,” sahutku dengan senyum yang tak mampu kusembunyikan.

Saat itu aku benar-benar bahagia. Baru kali itu aku mengenal cinta—perasaan yang selama ini asing bagiku, karena aku adalah perempuan pemalu yang tak mudah jatuh hati. Matahari perlahan condong ke barat, menandai senja yang turun perlahan. Kami pun pulang dengan sepeda motor tua, saksi bisu cinta yang sederhana namun tulus.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tahun pun berlalu. Dua tahun penantian akhirnya berakhir di hadapan penghulu. Kalimat ijab kabul yang diucapkannya—“Qobiltu nikahaha wa taswijaha bil mahril madzkur”—adalah kalimat yang selama ini kutunggu. Dengan kalimat itu, ia resmi menjadi suamiku.

Aku duduk di kamar pengantin dengan mata berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa penantian panjang itu berakhir dengan bahagia. Doa-doa mengalun dari luar rumah, bercampur dengan suara tamu undangan. Tak lama kemudian ia masuk, diiringi pamanku dan seorang fotografer. Dengan tangan gemetar, aku mencium tangannya. Ia membalas dengan kecupan lembut di keningku, lalu mengusap ubun-ubunku tiga kali. Saat itu aku hanya bisa berbisik dalam hati, Alhamdulillah.

Resepsi berlangsung meriah. Kami duduk berdampingan bak raja dan ratu sehari. Kamera berkali-kali berbunyi, mengabadikan senyum dan kebahagiaan kami. Ketika semuanya usai, kami pulang dengan sedan mewah—kendaraan yang kala itu terasa seperti simbol awal kehidupan baru.

Malam pun kian larut. Untuk pertama kalinya aku tak lagi sendiri. Di sisiku terbaring seorang pria yang kini sah menjadi pendamping hidupku.
“Akhirnya kita bersatu dalam ikatan suci,” bisiknya.
“Iya,” jawabku lirih, “setelah begitu banyak ujian.”

Ia memelukku erat, meminta janji kesetiaan dalam suka dan duka. Aku mengangguk, menyerahkan diri sepenuhnya pada ikatan yang telah disahkan Tuhan. Malam itu kami lalui dengan rasa syukur dan bahagia, sebagai sepasang suami istri yang baru memulai perjalanan panjang.

Tahun-tahun pernikahan kami tak selalu mudah. Cobaan datang silih berganti, terkadang membuatku hampir menyerah. Namun aku belajar bertahan, bersabar, dan berdoa. Dari pernikahan itu, Tuhan menganugerahi kami dua anak: Fahri, putra sulung yang kini menjadi pengajar di sebuah pondok besar dan lulusan perguruan tinggi di Turki; serta Qonita, putri kami yang lembut dan mengajar sebagai ustadzah. Keduanya tumbuh menjadi anak-anak yang kami doakan sejak awal.

Kini, ketika usia dan kesibukan telah menumpuk hari-hari kami, Pantai Salopeng hanya tinggal kenangan. Kami tak pernah lagi ke sana. Namun sesekali, keinginan itu muncul—membayangkan pantai yang sama, pasir yang terhampar luas, pohon-pohon kelapa yang bergoyang, dan ombak yang tak pernah lelah berdebur.

Pantai itu mungkin telah berubah. Namun bagiku, ia akan selalu sama:
tempat cinta bermula,
tempat janji pernah diucapkan,
dan tempat kenangan tetap tinggal—
sebagai saksi bisu perjalanan kami.

 (Diedit dan disempurkan Rulis)

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 8628206813992300914

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 


Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close