Puisi Epigram: Yang Pendek, Tajam, dan Kerap Terlupakan


Dalam dunia sastra, terutama puisi, kita kerap terpikat pada yang lirih, melankolis, atau yang panjang dan metaforis. Kita membicarakan puisi cinta, puisi protes, puisi sufistik, puisi esai, bahkan puisi Instagram. Namun ada satu genre puisi yang sejak lama hadir, hidup, dan terus ditulis—tetapi jarang disebut namanya dalam diskursus sastra Indonesia: puisi epigram.

Puisi epigram tidak riuh. Ia tidak menuntut perhatian. Ia hadir singkat, sering kali hanya beberapa baris, tetapi membawa muatan kritik, sindiran, ironi, atau kebijaksanaan yang menusuk. Dalam sejarah sastra dunia, epigram justru memiliki posisi penting. Namun di Indonesia, ia seolah menjadi “anak sunyi” dalam keluarga puisi—ditulis, dibaca, tetapi jarang disadari sebagai sebuah bentuk yang khas.

Tulisan ini mencoba mengajak pembaca menyusuri apa sebenarnya puisi epigram itu, bagaimana perkembangannya dalam sastra Indonesia, siapa saja penyair yang cenderung menulisnya, apa bedanya dengan puisi pendek biasa, serta bagaimana ciri-cirinya. Di bagian akhir, akan ditampilkan beberapa contoh epigram dari penyair nasional untuk menunjukkan bahwa bentuk ini sebenarnya telah lama berakar—meski jarang disebut namanya.

Apa Itu Puisi Epigram?

Secara etimologis, kata epigram berasal dari bahasa Yunani epigramma yang berarti “tulisan singkat” atau “inskripsi”. Pada mulanya, epigram adalah tulisan pendek yang dipahat di batu nisan, monumen, atau benda persembahan. Isinya bisa berupa pujian, ejekan, doa, atau refleksi singkat tentang hidup dan kematian.

Dalam perkembangannya, epigram menjadi bentuk puisi pendek yang padat, tajam, dan sering kali bernada satiris atau reflektif. Ia tidak bertujuan merayu emosi pembaca secara panjang, melainkan menggugah kesadaran melalui kejutan makna. Sebuah epigram yang baik sering berakhir dengan baris terakhir yang mengubah cara pembaca memahami baris sebelumnya.

Epigram bukan sekadar puisi pendek. Ia adalah puisi dengan muatan pemikiran—sering bersifat moral, sosial, filosofis, atau politis—yang disampaikan secara ekonomis, tanpa basa-basi.

Epigram dalam Belantara Sastra Indonesia

Dalam sastra Indonesia, puisi epigram tidak pernah benar-benar absen. Namun ia jarang dibicarakan sebagai genre tersendiri. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, tradisi kritik sastra Indonesia lebih sering mengelompokkan puisi berdasarkan tema (cinta, religius, sosial) atau periode (Pujangga Baru, Angkatan ’45, ’66, ’98), bukan berdasarkan bentuk retoris seperti epigram, elegi, ode, atau satir.

Kedua, epigram sering “tersamar” dalam bentuk puisi bebas modern. Banyak puisi pendek yang sebenarnya memenuhi kriteria epigram, tetapi tetap disebut sekadar “puisi pendek” atau “puisi liris”.

Ketiga, epigram tidak cocok dengan budaya sastra yang menyukai penjelasan panjang. Epigram justru menuntut pembaca berpikir sendiri, merenung dalam keheningan setelah membaca satu-dua baris. Dalam iklim sastra yang kerap mengejar ekspresi emosional atau narasi luas, epigram terasa terlalu sunyi.

Namun jika ditelusuri lebih dalam, terutama sejak Angkatan ’45 hingga pasca-Reformasi, kita akan menemukan bahwa epigram hidup diam-diam—ditulis oleh penyair besar, muncul di koran, majalah sastra, bahkan media sosial hari ini.

Penyair Indonesia yang Cenderung Menulis Epigram

Beberapa penyair nasional Indonesia memiliki kecenderungan kuat menulis puisi yang bersifat epigramatis, meski tidak selalu menyebutnya demikian.

Chairil Anwar

Chairil dikenal sebagai penyair yang meledakkan bentuk lama, dan banyak puisinya memang pendek, keras, dan tajam. Beberapa puisinya bersifat epigramatik karena memuat pernyataan eksistensial yang padat dan menggugah.

WS Rendra

Selain puisi pamflet yang panjang, Rendra juga menulis puisi-puisi pendek bernada sindiran sosial dan moral, yang dalam bentuk dan fungsinya sangat dekat dengan epigram.

Sapardi Djoko Damono

Sapardi sering dianggap liris dan lembut, tetapi dalam banyak puisinya, terutama yang sangat singkat, terdapat refleksi filosofis yang ringkas dan ironis—ciri khas epigram.

Goenawan Mohamad

Goenawan adalah salah satu figur paling epigramatis dalam sastra Indonesia modern. Puisinya sering pendek, reflektif, dan berakhir dengan paradoks atau pernyataan tajam tentang kekuasaan, waktu, dan kemanusiaan.

Afrizal Malna

Dalam bentuk yang lebih eksperimental, Afrizal sering menulis puisi-puisi singkat yang memuat kritik sosial dan kesadaran modern yang fragmentaris—banyak di antaranya bersifat epigramatis.

Perbedaan Puisi Epigram dan Puisi Pendek

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Puisi pendek adalah soal panjang teks. Ia bisa pendek karena memang tidak membutuhkan banyak baris. Namun isinya bisa deskriptif, liris, atau sekadar potongan suasana.

Puisi epigram, sebaliknya, adalah soal fungsi dan intensi. Ia pendek karena harus pendek. Kependekannya adalah strategi, bukan kebetulan.

Perbedaan utama:

  • Puisi pendek bisa berhenti kapan saja; epigram harus mengarah pada satu titik makna
  • Puisi pendek bisa emosional; epigram cenderung rasional-reflektif
  • Puisi pendek bisa ambigu tanpa tujuan; epigram biasanya menyimpan ironi atau kritik
  • Puisi pendek bisa berakhir lembut; epigram sering berakhir tajam atau mengejutkan

Dengan kata lain, setiap epigram adalah puisi pendek, tetapi tidak setiap puisi pendek adalah epigram.

Ciri-Ciri Puisi Epigram

Puisi epigram memiliki beberapa ciri khas yang cukup jelas:

  1. Singkat dan Padat
    Biasanya terdiri dari 2–8 baris, jarang lebih dari itu.
  2. Satu Gagasan Utama
    Epigram tidak bercabang. Ia fokus pada satu pemikiran, satu sindiran, atau satu refleksi.
  3. Nada Ironis atau Satiris
    Banyak epigram menggunakan ironi, paradoks, atau sindiran halus.
  4. Akhiran yang Menohok
    Baris terakhir sering menjadi kunci makna.
  5. Bahasa Sederhana tapi Bermakna Ganda
    Tidak bertele-tele, tetapi kaya lapisan tafsir.
  6. Mengandung Kritik atau Kebijaksanaan
    Baik terhadap diri, masyarakat, kekuasaan, atau kehidupan itu sendiri.

Contoh Puisi Epigram Penyair Nasional

Berikut beberapa contoh puisi yang dapat dibaca sebagai epigram dalam sastra Indonesia.

Chairil Anwar

Diponegoro (penggalan)

Sekali berarti
Sudah itu mati

Dua baris ini berdiri sebagai epigram eksistensial: hidup hanya sah jika bermakna.

Goenawan Mohamad

Kekuasaan lupa:
ia rapuh
karena merasa abadi

Puisi pendek seperti ini kerap muncul dalam karya Goenawan dan berfungsi sebagai epigram politik-filosofis.

Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Meski lebih liris, kepadatan makna dan satu gagasan utuh membuatnya dekat dengan epigram reflektif.

WS Rendra

Kekuasaan yang paling kejam
adalah yang membuat rakyat
menganggap penderitaan
sebagai takdir

Mengapa Epigram Jarang Dibicarakan?

Epigram jarang dibicarakan karena ia tidak suka menjelaskan diri. Ia tidak memberi catatan kaki, tidak memanjangkan metafora, tidak memanjakan pembaca. Dalam budaya sastra yang sering mengaitkan kedalaman dengan panjang, epigram dianggap “terlalu sederhana”.

Padahal justru di situlah kekuatannya: ia memaksa pembaca berhenti, berpikir, dan diam.

*****

Puisi epigram adalah bentuk sastra yang jujur dan berani. Ia tidak menyembunyikan maksud di balik kerumitan, tetapi juga tidak menelanjangi makna secara murahan. Dalam satu tarikan napas, ia bisa menyentil kekuasaan, menguji moral, atau menertawakan kesia-siaan manusia.

Di tengah zaman yang serba cepat, epigram justru menemukan relevansi baru. Ia pendek, tetapi tidak dangkal. Ia sunyi, tetapi tidak kosong. Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu bising, epigram adalah cara puisi mengingatkan kita bahwa satu kalimat pun bisa mengubah cara kita melihat hidup.

Berikut contoh-contoh puisi epigram orisinal—pendek, padat, bernada reflektif, satiris, dan menutup dengan tusukan makna.

1.

Kami menyebutnya takdir
agar tidak perlu
mengakui
bahwa kami takut berubah.

2.

Kebenaran sering kalah
bukan karena lemah,
tetapi karena
terlalu jujur untuk bersekutu.

3.

Ia mengaku sibuk membangun masa depan,
padahal setiap hari
ia hanya
menunda keberanian.

4.

Sejarah ditulis dengan tinta,
luka ditulis dengan tubuh,
dan yang kalah
diminta menghafalnya sebagai pelajaran.

5.

Kami menertawakan korupsi,
lalu meniru caranya
dalam ukuran
yang kami sebut wajar.

6.

Orang paling berisik tentang moral
sering kali
adalah yang paling takut
bercermin.

7.

Keadilan tidak mati,
ia hanya kelelahan
menunggu
orang-orang yang benar-benar membelanya.

8.

Kami menyebutnya sabar,
padahal itu hanya
cara lain
untuk menyerah tanpa suara.

9.

Ia ingin dikenang sebagai pahlawan,
tetapi takut
kehilangan kenyamanan
sebagai penonton.

10.

Tuhan tidak butuh pembela,
yang Ia butuhkan
hanyalah manusia
yang berhenti bersembunyi di balik nama-Nya.

(Redaksi/Tulisan ini dirangkum dari beberapa sumber)         

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5169871296133924338

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close