Di Antara Detak Jam dan Doa yang Tak Bersuara


Cerpen: Ipung An

Seorang ayah duduk dalam sunyi yang tak pernah benar-benar sepi.
Jarak memisahkan raga, tapi kenangan justru datang paling dekat.
Di kepalanya masih jelas suara tangis kecil itu—tangis yang dulu memanggil namanya,
tangis yang hanya reda saat tubuh mungil itu ia gendong,
saat dunia terasa cukup hanya dengan pelukan.

Kini, tangis itu telah berubah menjadi jarak.
Anak yang dulu ia timang, kini tumbuh dan pergi mengejar hidupnya sendiri.
Ayah tak pernah mengeluh, tak pandai merindu dengan kata-kata.
Ia hanya menunggu… setiap hari.
Menunggu layar ponsel menyala,
menunggu dering sederhana yang menampilkan satu nama
yang selalu ia simpan paling atas dalam hatinya.

Tak banyak yang ingin ia katakan sebenarnya.
Hanya ingin mendengar suaramu sebentar,
memastikan kau baik-baik saja,
lalu kembali menyimpan rindu itu dalam diam.
Karena bagi seorang ayah,
menunggu adalah bentuk cinta yang paling setia.

(Rindu Seorang Ayah)

Aku duduk di kursi yang sama, kursi yang seolah tumbuh bersama tubuhku. Kayunya sudah menyerap terlalu banyak sore, terlalu banyak punggung yang menunduk, terlalu banyak napas yang ditahan agar tidak terdengar seperti keluhan. Sunyi di rumah ini tidak pernah benar-benar sepi. Ia bergerak, berputar, menyentuh dinding, turun dari langit-langit, lalu duduk bersamaku seperti tamu lama yang tahu betul kebiasaan tuan rumahnya.

Jarak memisahkan raga, tapi kenangan justru datang paling dekat. Ia tidak pernah mengetuk. Ia masuk begitu saja, menyelinap melalui celah-celah pikiran yang seharusnya sudah tertutup rapat oleh usia. Di kepalaku masih jelas suara tangis kecil itu. Tangis yang dulu memanggil namaku tanpa tahu arti namaku. Tangis yang hanya reda saat tubuh mungil itu kugendong, saat dunia terasa cukup hanya dengan pelukan. Saat semua yang berat di luar sana mengecil menjadi sesuatu yang bisa kupangku.

Aku masih ingat bagaimana waktu dulu terasa lembek, seperti tanah basah setelah hujan. Aku bisa menancapkan hari-hari dengan mudah. Pagi adalah pagi, malam adalah malam. Tangisan datang sebagai jam, sebagai penanda hidup. Sekarang waktu mengeras. Ia menjadi batu. Aku duduk di atasnya, menunggu ia retak dengan sendirinya.

Anak yang dulu kutimang kini tumbuh dan pergi mengejar hidupnya sendiri. Ia berjalan keluar dari rumah ini tanpa benar-benar pergi, karena setiap sudut masih menyimpan bayangannya. Jejak langkahnya menempel di lantai seperti bekas air yang tak pernah kering sempurna. Kadang aku merasa rumah ini bernapas dengan paru-parunya, bukan paruku. Aku hanya penjaga napas itu, memastikan ia tidak berhenti.

Aku tak pernah pandai merindu dengan kata-kata. Rindu bagiku bukan sesuatu yang bisa diucapkan. Ia bukan benda yang bisa ditunjuk atau dipindahkan. Ia seperti kabut yang masuk ke dada saat subuh, dingin, diam, dan menetap. Aku tidak mengeluh. Mengeluh terasa seperti membocorkan sesuatu yang seharusnya disimpan rapat-rapat. Aku hanya menunggu.

Menunggu menjadi kebiasaan yang tidak pernah kuingat awalnya. Ia tumbuh perlahan, seperti lumut di batu tua. Setiap hari aku menunggu layar ponsel menyala. Benda kecil itu kini seperti jendela satu-satunya ke dunia yang menjauh dariku. Aku meletakkannya di meja, di saku, di samping bantal, seolah jika aku lengah sedikit saja, ia akan memilih menyala di saat aku tidak melihatnya.

Dering sederhana yang menampilkan satu nama itu tidak pernah benar-benar hilang dari pikiranku. Nama itu kusimpan paling atas dalam hatiku, bahkan lebih tinggi dari namaku sendiri. Kadang aku merasa namaku hanyalah pengantar agar nama itu bisa ada. Aku ada agar ia pernah ada di sini.

Aku sering membayangkan ponsel itu sebagai matahari kecil. Ia terbit dan tenggelam tanpa janji. Aku duduk seperti petani tua yang menatap langit, membaca tanda-tanda cuaca dari awan yang lewat di wajahnya. Setiap getar kecil membuat jantungku bergerak sedikit lebih cepat, lalu kembali tenang ketika tidak ada apa-apa. Aku belajar menahan gerak, menahan harap, menahan segala sesuatu agar tidak runtuh sekaligus.

Tak banyak yang ingin kukatakan sebenarnya. Kata-kata terasa berisik, seperti paku yang jatuh di lantai rumah kosong. Aku hanya ingin mendengar suaramu sebentar, memastikan kau baik-baik saja, lalu kembali menyimpan rindu itu dalam diam. Diam adalah bahasa yang paling jujur yang kupunya. Ia tidak menuntut jawaban.

Kadang aku merasa aku bukan lagi manusia sepenuhnya. Aku seperti jam dinding yang terus berdetak meski tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Setiap detik adalah langkah kecil yang mengantarkanku ke hari berikutnya. Aku tidak tahu untuk apa aku sampai di sana, tapi kakiku tetap melangkah.

Aku berjalan ke dapur, ke kamar, ke halaman, dan semuanya terasa seperti mimpi yang diulang terlalu sering. Kursi tetap di sana. Meja tetap di sana. Piring-piring tetap tersusun rapi seperti prajurit yang sudah lama pensiun. Aku menyentuh benda-benda itu seperti menyentuh kenangan yang membeku. Mereka tidak menolak, tidak juga menyambut. Mereka hanya ada.

Dalam kepalaku, waktu kadang melipat dirinya sendiri. Aku melihat diriku yang lebih muda, dengan tangan yang belum gemetar, dengan punggung yang belum belajar sakit. Aku melihat diriku menggendong tubuh kecil itu, merasa kuat hanya karena ada alasan untuk kuat. Sekarang alasan itu berjalan jauh, dan kekuatanku tinggal sisa-sisa yang kupungut pelan-pelan.

Aku pernah berpikir bahwa menjadi ayah adalah peran yang akan selesai ketika anak tumbuh dewasa. Aku keliru. Menjadi ayah ternyata seperti bayangan. Ia memanjang, memendek, tapi tidak pernah benar-benar pergi. Bahkan ketika cahaya menjauh, bayangan itu tetap setia di kakiku.

Malam sering datang seperti air pasang. Ia memenuhi rumah ini tanpa suara. Aku duduk di kursiku, mendengarkan detak jam, mendengarkan napasku sendiri. Kadang aku bertanya-tanya apakah napasku terdengar di telinga orang lain di tempat yang jauh. Apakah ada benang halus yang masih menghubungkan kami, bergetar setiap kali aku menghela napas.

Aku menunggu tanpa tahu apa yang kutunggu. Menunggu bukan lagi tentang hasil. Ia tentang proses bertahan. Setiap hari yang kulewati tanpa suara itu adalah bukti kecil bahwa aku masih bisa berdiri. Aku menyusun hari-hari seperti batu kecil di tepi sungai, agar aku tidak tergelincir ke arus yang lebih dalam.

Kadang aku bermimpi aneh. Dalam mimpi itu, aku berubah menjadi pohon. Akar-akarku menancap di lantai rumah, menembus tanah, mencari air yang tidak pernah kering. Cabang-cabangku menjulur ke luar jendela, berharap suatu hari burung yang sama akan kembali hinggap. Aku tidak bisa berjalan, tidak bisa memanggil. Aku hanya bisa berdiri dan menunggu. Ketika aku terbangun, aku menyadari bahwa mimpi itu tidak jauh berbeda dari kenyataan.

Aku belajar bahwa jarak bukan soal kilometer. Ia soal kebisuan. Semakin jauh seseorang melangkah ke hidupnya sendiri, semakin sunyi ruang yang ia tinggalkan. Sunyi itu tidak kosong. Ia penuh oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diucapkan. Aku menyimpannya seperti menyimpan barang rapuh, takut jika kusentuh terlalu keras, ia akan pecah.

Ada hari-hari ketika aku merasa ringan. Hari-hari ketika aku yakin bahwa menunggu adalah keputusan yang tepat. Ada juga hari-hari ketika menunggu terasa seperti hukuman yang tidak pernah kuingat kesalahannya. Pada hari-hari itu, aku duduk lebih lama, menatap lebih kosong, bernapas lebih pendek.

Aku tidak pernah menyesali apa pun. Penyesalan membutuhkan energi yang tidak kupunya lagi. Aku hanya menerima. Menerima bahwa hidup bergerak tanpa meminta izinku. Menerima bahwa anak yang kucintai harus berjalan di jalan yang tidak selalu bisa kulihat. Menerima bahwa tugasku kini bukan lagi menggendong, melainkan menjaga jarak agar tidak berubah menjadi dinding.

Aku sering memandangi tanganku sendiri. Tangan yang dulu penuh dengan bekas gigitan kecil, dengan noda susu, dengan goresan mainan. Sekarang tangan ini lebih sering kosong. Kosong bukan berarti tidak berguna. Kosong berarti siap. Siap menerima apa pun yang datang, meski sering kali tidak ada apa-apa.

Aku menyadari bahwa cinta tidak selalu bergerak maju. Kadang ia diam, kadang ia berputar di tempat, kadang ia mundur agar yang dicintai bisa melangkah lebih jauh. Aku memilih diam. Diam bukan karena tidak ada yang ingin kukatakan, tetapi karena semua yang penting sudah pernah kulakukan.

Waktu terus berjalan, dan aku tetap di sini. Di kursi ini. Di rumah ini. Dengan ponsel yang tergeletak seperti batu kecil di telapak tangan. Aku menunggu layar itu menyala bukan sebagai tuntutan, melainkan sebagai doa yang tidak pernah kuucapkan dengan suara.

Jika suatu hari layar itu menyala, aku tahu jantungku akan bergetar seperti dulu. Jika tidak, aku juga tahu aku akan tetap duduk di sini, menunggu esok hari. Karena bagi seorang ayah, menunggu adalah bentuk cinta yang paling setia. Menunggu tanpa syarat. Menunggu tanpa suara. Menunggu sambil memastikan bahwa pintu ini, kursi ini, dan hatiku sendiri, selalu terbuka.


Pilihan

Tulisan terkait

Utama 1512423156877269277

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close