Jejak Sejarah dan Cerita Lisan Desa Jepun, Lenteng

Sekedar ilustrasi
Tulisan ini merekam fragmen sejarah dan cerita lisan masyarakat Desa Jepun, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Mulai dari masa penjajahan Belanda dan Jepang, kisah kesulitan hidup, tradisi sosial, hingga legenda Joko Tole yang membentuk memori kolektif warga. Catatan ini menjadi upaya sederhana untuk merawat ingatan lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
*****
Oleh: Lisanatul Fasihah
Desa Jepun merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Desa Jepun telah mengalami berbagai peristiwa penting sejak masa penjajahan. Pada masa penjajahan Belanda, kehidupan masyarakat Desa Jepun berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sebagian besar warga dipaksa menjadi budak, harta benda dirampas, dan aktivitas sehari-hari selalu berada dalam pengawasan ketat tentara Belanda. Rasa takut dan cemas menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kala itu.
Dalam kondisi tertekan, masyarakat kerap bersembunyi di tempat-tempat yang dianggap aman. Setiap keluar rumah mereka selalu diawasi, sehingga upaya bersembunyi menjadi cara untuk menghindari kekejaman penjajah. Penjajahan Belanda berlangsung cukup lama dan meninggalkan luka mendalam bagi warga Desa Jepun.
Kesulitan ekonomi menjadi persoalan utama. Pada masa itu, tidak terdapat pasar di sekitar desa. Jika ingin menjual hasil dagangan, masyarakat harus berjalan kaki hingga ke Kota Sumenep. Ketiadaan kendaraan bermotor membuat perjalanan tersebut menjadi sangat melelahkan. Masyarakat hanya memiliki sepeda kecil, bahkan tidak jarang mereka memilih berjalan kaki demi mempertahankan hidup.
Dalam hal pangan, masyarakat Desa Jepun juga hidup dalam keterbatasan. Makanan pokok yang dikonsumsi umumnya berupa singkong rebus. Buah nangka sering diolah menjadi kuah sederhana sebagai lauk. Kondisi ini sangat berbeda dengan kehidupan masa kini yang serba mudah dan instan. Tradisi perkawinan pun berbeda. Proses pernikahan harus melalui tahapan-tahapan tertentu, seperti pemotongan rambut dan ritual lain yang dianggap wajib pada masa itu.
Selain cerita penjajahan, masyarakat Desa Jepun juga mengenal kisah Joko Tole. Konon, pada abad ke-14, Joko Tole sering melintasi Desa Jepun. Setiap kali ia datang, masyarakat mematikan lampu dan bersembunyi di dalam rumah karena diliputi rasa takut. Berbeda dengan Desa Lembung yang memiliki sungai dan sumber mata air yang diyakini dibuat oleh Joko Tole, masyarakat di sana tidak merasa takut ketika ia melintas.
Desa Jepun sendiri tidak memiliki sungai, sehingga masyarakat meyakini bahwa ketakutan mereka berkaitan dengan kondisi alam tersebut. Dalam kepercayaan lokal, jika saat itu masyarakat Desa Jepun tidak mematikan lampu dan bersembunyi, maka desa tersebut akan memiliki sungai seperti Desa Lembung.
Ketika penjajahan Belanda semakin kejam, masyarakat Desa Jepun mencari cara untuk membebaskan diri. Mereka kemudian meminta bantuan kepada Jepang untuk mengusir Belanda. Permintaan tersebut dikabulkan, dan Jepang berhasil mengusir Belanda dari Desa Jepun. Sejak saat itu, masyarakat merasa terbebas dari penindasan, meskipun kemudian berada di bawah kekuasaan Jepang.
Setelah Belanda terusir, masyarakat kembali bertani. Jagung dan singkong menjadi tanaman utama karena pada masa itu belum dikenal penanaman padi. Singkong diolah menjadi pengganti nasi, sementara daun singkong dimasak sebagai kuah. Namun, pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, Belanda sempat kembali dan menguasai tanah serta kebun warga. Masyarakat kembali mengalami penderitaan hingga akhirnya penjajah Belanda benar-benar pergi dan tidak kembali lagi.
Dalam kehidupan sosial, fasilitas umum pada masa itu sangat terbatas. Tidak terdapat masjid, hanya ada mushala kecil. Sumber air pun sangat terbatas, hanya satu sumur yang digunakan bersama-sama oleh warga. Untuk mandi dan mengambil air, masyarakat harus rela menunggu giliran. Gentong menjadi wadah utama penyimpanan air di rumah-rumah warga.
Pendidikan juga mengalami keterbatasan. Tidak ada sekolah di Desa Jepun. Anak-anak yang ingin bersekolah harus berjalan kaki ke Kota Sumenep. Fasilitas pendidikan sangat sederhana, bahkan tempat duduk pun terbatas.
Masyarakat Desa Jepun juga mengenal keberadaan kuburan peninggalan zaman Belanda yang dipercaya sebagai kuburan ratu atau tokoh penting. Tempat tersebut kerap dikaitkan dengan tradisi perkawinan pada masa lalu. Saat itu, pakaian pengantin harus meminjam, rambut dipotong, dan gigi dirapikan. Jika tidak mengikuti aturan tersebut, pernikahan dianggap tidak sah.
Secara historis, Desa Jepun dahulu dikenal sebagai bagian dari Desa Lenteng. Nama “Jepun” muncul setelah orang Belanda masuk ke wilayah tersebut dan mengganti nama desa. Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai Desa Jepun hingga sekarang.
Kisah-kisah ini, meski bersumber dari cerita lisan, menjadi bagian penting dari identitas dan sejarah masyarakat Desa Jepun. Ia merekam perjuangan, ketakutan, keteguhan, serta harapan warga dalam menghadapi perubahan zaman.
Pilihan




