Ketika Pariwisata Mengubah Wajah Hiburan Indonesia

Sebuah pertunjukan penari panggung di Thailand (akun FB: Phanuwat Thipklang)

Ketika Panggung Global Memasuki Ruang Lokal

Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial Indonesia kerap dipenuhi potongan video pertunjukan panggung dari berbagai negara—Thailand, Korea Selatan, Brasil, hingga negara-negara Barat—yang menampilkan kostum terbuka dan visual sensual. Tayangan-tayangan tersebut hadir tanpa konteks budaya, fungsi pertunjukan, maupun ruang sosial tempat ia berasal. Di saat yang sama, muncul kegelisahan: apakah praktik semacam itu akan, atau bahkan sudah, merambah ke ruang-ruang budaya yang sebelumnya tidak mengenal estetika serupa, seperti Indonesia?

Fenomena ini tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai persoalan selera atau moral individu. Ia adalah hasil pertemuan antara globalisasi hiburan, industri pariwisata, logika media sosial, dan ketimpangan kuasa dalam industri kreatif. Pariwisata, dalam konteks ini, sering kali menjadi salah satu akselerator paling kuat.

Pariwisata dan Logika Menjual Pengalaman

Industri pariwisata modern tidak lagi menjual destinasi semata, melainkan pengalaman. Pengalaman tersebut harus singkat, mudah dicerna, dan kuat secara visual. Pertunjukan seni dan hiburan di kawasan wisata pun diarahkan untuk memenuhi kebutuhan itu: menarik perhatian wisatawan lintas budaya yang tidak selalu memahami bahasa atau simbol lokal.

Dalam logika ini, tubuh manusia—khususnya tubuh perempuan—sering diposisikan sebagai medium visual yang paling universal. Gerak tari yang dinamis, kostum terbuka, dan estetika glamor dianggap mampu “berbicara” tanpa kata. Akibatnya, nilai artistik dan kultural pertunjukan perlahan disederhanakan menjadi daya tarik visual yang mudah dipasarkan dan direkam.

Pariwisata kemudian berfungsi sebagai ruang uji coba: apa yang laku di hadapan wisatawan dianggap berhasil dan layak direplikasi.

Standarisasi Hiburan Global

Destinasi wisata di berbagai negara cenderung meniru format hiburan yang telah terbukti sukses secara ekonomi. Kabaret ala Thailand, konser pop ala Barat, atau pertunjukan tari dengan estetika Brasil menjadi referensi global. Proses ini melahirkan standarisasi hiburan: pertunjukan di berbagai belahan dunia tampak serupa, meski berada dalam konteks budaya yang berbeda.

Ketika format ini masuk ke Indonesia—baik melalui kawasan wisata maupun media digital—ia membawa serta standar visual tertentu. Yang diimpor bukan nilai kebudayaannya, melainkan bentuk luarnya. Tradisi lokal berisiko diposisikan sebagai “kurang menarik” jika tidak disesuaikan dengan selera global tersebut.

Tekanan Ekonomi dan Posisi Tawar Penampil

Di balik panggung, terdapat realitas ekonomi yang jarang dibicarakan. Bagi banyak pelaku seni dan hiburan, terutama perempuan, pariwisata menawarkan peluang kerja yang nyata. Namun peluang ini sering datang dengan tuntutan penyesuaian.

Keputusan mengenai kostum dan konsep pertunjukan kerap berada di tangan:

  • manajemen, produser, dan penyelenggara acara.

Dalam situasi ini, estetika tubuh bukan lagi pilihan artistik murni, melainkan bagian dari kontrak kerja. Yang tampak sebagai ekspresi kebebasan sering kali merupakan strategi bertahan hidup dalam sistem industri yang kompetitif.

Media Sosial dan Hilangnya Konteks

Media sosial memperparah persoalan dengan memotong konteks. Video berdurasi beberapa detik menghapus latar budaya, fungsi pertunjukan, dan ruang sosial tempat ia berlangsung. Yang tersisa hanyalah visual tubuh.

Ketika konten tersebut dikonsumsi publik Indonesia:

  • terjadi perbandingan normatif, muncul penilaian moral, dan sekaligus peniruan estetika.

Ironisnya, media sosial bekerja dua arah: ia dapat memicu kecaman, tetapi sekaligus mendorong peniruan demi viralitas.

Indonesia dan Pergeseran Ruang Publik

Indonesia memiliki tradisi yang relatif jelas dalam membedakan ruang:

  • ruang sakral, ruang sosial,dan ruang hiburan.

Namun globalisasi digital mengaburkan batas itu. Pertunjukan yang seharusnya kontekstual tiba-tiba hadir di layar ponsel semua orang. Norma lokal dipaksa berhadapan langsung dengan standar global, tanpa proses adaptasi yang matang.

Di sinilah ketegangan muncul. Yang dipersoalkan bukan semata kostum atau tubuh, melainkan rasa kehilangan kendali atas ruang budaya sendiri.

Pariwisata sebagai Akselerator, Bukan Dalang Tunggal

Penting ditegaskan: pariwisata bukan satu-satunya penyebab. Ia tidak menciptakan fenomena ini dari nol. Namun pariwisata mempercepat:

  • komodifikasi seni, pergeseran estetika, dan normalisasi standar visual global.

Tanpa kebijakan budaya yang jelas, pariwisata berpotensi berubah dari etalase budaya menjadi mesin penyeragaman.

Jalan Tengah yang Mungkin Ditempuh

Indonesia tidak berada pada posisi harus menolak atau menerima mentah-mentah. Jalan tengah tetap terbuka:

  1. Adaptasi selektif: menyerap profesionalisme panggung tanpa kehilangan konteks lokal.
  2. Penguatan identitas budaya: estetika Nusantara dapat tampil modern tanpa meniru visual global secara mentah.
  3. Perlindungan pekerja seni: memastikan keputusan estetika tidak lahir dari ketimpangan kuasa.
  4. Literasi budaya publik: membantu masyarakat memahami perbedaan antara ruang hiburan, seni, dan kehidupan sosial.

Fenomena kostum terbuka dalam pertunjukan panggung bukan sekadar isu moral atau selera, melainkan cerminan perubahan struktur budaya di era pariwisata dan media sosial. Tubuh, dalam konteks ini, telah menjadi medan tarik-menarik antara seni, ekonomi, dan kekuasaan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pengaruh global akan masuk—karena ia sudah ada—melainkan apakah masyarakat Indonesia mampu mengelolanya dengan kesadaran budaya, keadilan sosial, dan kebijaksanaan kolektif. Di situlah masa depan ruang hiburan dan identitas budaya Indonesia dipertaruhkan.

(Rulis dari beberapa sumber) 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 2435813802692900714

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close