Pariwisata, Panggung, dan Tubuh: Saat Hiburan Indonesia Kehilangan Arah
![]() |
| Joget erotis penyanyi dangdut (tangkapan layar youtube) |
Dari Layar Ponsel ke Panggung Kampung
Saya semakin sering bertanya-tanya setiap kali membuka media sosial. Potongan video pertunjukan dari luar negeri—kostum terbuka, lampu gemerlap, tubuh perempuan dijadikan pusat tontonan—berlalu-lalang tanpa konteks. Anehnya, pemandangan itu kini terasa akrab. Bukan karena kita membutuhkannya, tetapi karena kita perlahan dibiasakan.
Yang mengganggu bukan sekadar apa yang tampil di layar, melainkan bagaimana ia merembes ke panggung-panggung Indonesia: dari konser dangdut besar, panggung hajatan, hingga hiburan di kawasan wisata. Kita seolah sedang meniru sesuatu tanpa sempat bertanya: apakah ini benar-benar milik kita?
Dangdut: Dari Musik Rakyat ke Etalase Visual
Dangdut lahir dari rakyat. Ia hidup di kampung, di hajatan sederhana, di ruang-ruang yang dekat dengan keseharian. Kekuatan dangdut ada pada irama, lirik, dan kedekatan emosional—bukan pada tubuh yang dipamerkan.
Namun hari ini, dangdut semakin sering diperlakukan sebagai tontonan visual semata. Panggung megah, kamera di mana-mana, dan tubuh penyanyi perempuan dijadikan daya tarik utama. Saya tidak sedang menghakimi penyanyinya. Justru yang patut dipertanyakan adalah arah industri yang mendorong mereka ke situ.
Apakah dangdut benar-benar membutuhkan itu semua untuk tetap hidup? Ataukah kita hanya sedang mengejar perhatian karena takut kalah bersaing?
Seni Daerah: Budaya yang Dipadatkan demi Wisata
Hal serupa terjadi pada seni daerah. Banyak tari tradisional kini dipentaskan bukan sebagai warisan, melainkan sebagai paket hiburan wisata. Cerita dipangkas, makna disederhanakan, kostum dipoles agar lebih "menjual".
Saya tidak menolak seni dipentaskan untuk wisata. Yang saya khawatirkan adalah ketika seni kehilangan ruhnya. Ketika tarian tidak lagi mengajarkan nilai, tetapi sekadar menjadi latar foto turis.
Budaya yang seharusnya kita rawat perlahan berubah menjadi komoditas.
Pariwisata dan Tubuh sebagai Komoditas
Industri pariwisata bekerja dengan logika pasar: yang menarik mata, itulah yang dijual. Dalam logika ini, tubuh—terutama tubuh perempuan—menjadi alat promosi paling cepat dan murah.
Pertunjukan dibuat singkat, visual, dan mudah viral. Tidak perlu penjelasan panjang, tidak perlu pemahaman budaya. Cukup gerak, kulit, dan sorot kamera.
Masalahnya, apa yang laku di kawasan wisata sering dijadikan standar di luar sana. Estetika wisata merembes ke panggung kampung, ke acara rakyat, ke ruang yang seharusnya punya batas sendiri.
Penampil yang Jarang Punya Kuasa
Kita sering terlalu mudah menyalahkan penampil. Padahal, banyak dari mereka tidak berada pada posisi memilih. Mereka bekerja di bawah manajemen, kontrak, dan tekanan ekonomi.
Menolak konsep berarti kehilangan panggung. Mengikuti arus dianggap satu-satunya cara bertahan. Dalam kondisi seperti ini, tubuh bukan lagi ekspresi diri, melainkan alat tawar-menawar.
Jika ada yang patut dikritik, itu adalah sistem yang memaksa pilihan sempit, bukan individunya.
Media Sosial: Mesin Penyeragam Selera
Media sosial mempercepat semuanya. Video pendek menghapus konteks. Panggung wisata, konser besar, dan acara desa bercampur tanpa batas.
Kita menonton, meniru, lalu menganggapnya wajar. Tanpa sadar, selera kita diseragamkan. Yang tidak visual dianggap ketinggalan zaman.
Di titik ini, saya merasa kita sedang kehilangan arah, bukan karena pengaruh luar semata, tetapi karena kita jarang berhenti untuk menyaring.
Indonesia di Titik Kritis
Indonesia tidak miskin budaya. Kita juga tidak kekurangan kreativitas. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk berkata cukup.
Cukup meniru tanpa konteks. Cukup menjadikan tubuh sebagai jalan pintas. Cukup mengorbankan makna demi viral.
Pariwisata seharusnya memperkuat jati diri budaya, bukan menggerusnya. Hiburan seharusnya menggembirakan tanpa harus kehilangan martabat.
Panggung adalah Cermin Kita
Panggung hiburan adalah cermin. Dari sanalah orang melihat siapa kita dan apa yang kita anggap penting.
Jika hari ini panggung kita dipenuhi sensasi tanpa arah, barangkali masalahnya bukan pada globalisasi atau pariwisata semata, melainkan pada keberanian kita menjaga batas.
Kita tidak perlu menutup pintu pada dunia. Tetapi kita juga tidak boleh kehilangan rumah sendiri.
(Syaf)
Pilihan




