Literasi Budaya dan Kewargaan sebagai Fondasi Pendidikan Kebencanaan di Sekolah dan Komunitas

 

Penebangan pohon secara liar salah satu penyebab terjadinya banjir dan longsor (istimewa)

Sekolah dan komunitas merupakan ruang strategis dalam menanamkan literasi budaya dan kewargaan. Literasi ini tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga kemampuan memahami realitas sosial, budaya, dan lingkungan tempat seseorang hidup. Dalam konteks kebencanaan, literasi budaya dan kewargaan menjadi fondasi penting untuk membangun kesadaran kolektif tentang hubungan manusia dengan alam.

Budaya lokal Indonesia sejak lama mengajarkan nilai hidup selaras dengan alam, seperti larangan merusak hutan, menjaga sumber air, dan bergotong royong saat terjadi musibah. Nilai-nilai tersebut sejatinya adalah bentuk literasi budaya. Sementara literasi kewargaan mengajarkan bahwa menjaga lingkungan dan kesiapsiagaan bencana merupakan bagian dari hak dan kewajiban warga negara. Ketika kedua literasi ini dipadukan dalam pendidikan, maka terbentuk karakter peserta didik dan anggota komunitas yang peduli, tanggap, dan bertanggung jawab.

Solusi Penerapan di Lingkungan Sekolah

Di lingkungan sekolah, literasi budaya dan kewargaan terkait kebencanaan dapat diterapkan secara kontekstual dan berkelanjutan. Pertama, melalui integrasi kurikulum. Materi kebencanaan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi dapat disisipkan dalam pelajaran IPS, PPKn, Geografi, Bahasa Indonesia, hingga Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Peserta didik diajak membaca, mendiskusikan, dan menulis tentang bencana yang terjadi di daerahnya sendiri.

Kedua, melalui pembiasaan dan praktik nyata. Sekolah dapat membangun budaya peduli lingkungan dengan program sederhana seperti kerja bakti rutin, pengelolaan sampah, penanaman pohon, dan perawatan saluran air. Kegiatan ini menanamkan kesadaran bahwa tindakan kecil memiliki dampak besar bagi keselamatan bersama.

Ketiga, melalui simulasi dan edukasi kebencanaan. Latihan evakuasi gempa, pengenalan jalur aman, serta diskusi tentang tindakan darurat membentuk kesiapsiagaan peserta didik. Ini bukan hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial sebagai warga sekolah.

Solusi Penerapan di Komunitas Masyarakat

Dalam komunitas masyarakat, penerapan literasi budaya dan kewargaan dapat dilakukan melalui pendekatan partisipatif. Forum warga, kelompok pemuda, sanggar budaya, atau organisasi keagamaan dapat menjadi pusat edukasi kebencanaan berbasis kearifan lokal. Cerita rakyat, petuah leluhur, dan pengalaman bencana masa lalu dapat dijadikan media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan warga.

Program kerja komunitas seperti gotong royong membersihkan sungai, menjaga kawasan hutan, dan penataan lingkungan permukiman menjadi sarana konkret literasi kewargaan. Selain itu, pelibatan warga dalam pemetaan wilayah rawan bencana dan penyusunan rencana darurat desa akan memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

Kasuistis di Sekolah

Di sebuah sekolah yang berada di daerah rawan banjir, guru bersama siswa mengidentifikasi penyebab banjir di lingkungan sekitar sekolah. Hasil diskusi menunjukkan bahwa sampah plastik di selokan menjadi masalah utama. Sekolah kemudian membuat program “Sekolah Bebas Sampah” dengan melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Dalam waktu tertentu, genangan air berkurang dan siswa memahami secara langsung hubungan antara perilaku manusia dan bencana.

Kegiatan ini menjadi pembelajaran nyata literasi budaya dan kewargaan. Siswa tidak hanya mengetahui teori tentang banjir, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan sebagai bagian dari kewajiban warga sekolah dan warga negara.

Kasuistis di Komunitas

Di sebuah komunitas desa pegunungan yang rawan longsor, warga menghidupkan kembali aturan adat tentang larangan menebang pohon di lereng tertentu. Aturan tersebut disosialisasikan melalui pertemuan desa dan kegiatan keagamaan. Selain itu, warga bersama pemuda desa melakukan penanaman kembali lahan gundul.

Hasilnya, selain mengurangi risiko longsor, tumbuh kesadaran kolektif bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan bersama. Inilah bentuk nyata literasi budaya yang diperkuat oleh kesadaran kewargaan.

Penerapan literasi budaya dan kewargaan dalam pendidikan dan komunitas bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Melalui pemahaman, pembiasaan, dan praktik nyata, sekolah dan komunitas dapat menjadi benteng pertama dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana. Ketika literasi ini tumbuh kuat, bencana tidak hanya dihadapi, tetapi juga dicegah melalui kesadaran dan tanggung jawab bersama.

 (Rulis)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 1411366852965960440

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close