Membaca Bencana Lewat Literasi Budaya dan Kewargaan

Bencana alam salah satu penyebabnya lemahnya pemahaman terhadap literasi budaya dan kewargaan (foto: istimewa)

Memahami banjir, longsor, dan gempa bumi tidak cukup hanya dari sisi ilmiah. Literasi budaya dan kewargaan membantu kita melihat bencana sebagai akibat dari relasi manusia dengan alam, sekaligus menjadi sarana membangun kesadaran, kepedulian, dan kesiapsiagaan warga negara sejak dini.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, sekaligus wilayah yang rawan bencana alam. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung api, hingga kekeringan adalah peristiwa yang kerap hadir dalam kehidupan masyarakat. Bencana-bencana tersebut bukan sekadar kejadian alam semata, tetapi juga bagian dari realitas sosial yang seharusnya dipahami melalui pendekatan literasi budaya dan kewargaan.

Literasi budaya dan kewargaan adalah kemampuan seseorang untuk memahami, menghargai, dan menjalankan nilai-nilai budaya sebagai identitas bangsa, sekaligus memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Di era global yang penuh arus informasi dan pengaruh asing, literasi ini menjadi sangat penting untuk menjaga jati diri bangsa, memperkuat karakter, serta membangun kesadaran kolektif dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemahaman terhadap bencana alam sejatinya tidak bisa dilepaskan dari literasi budaya dan kewargaan. Banyak bencana yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga oleh perilaku manusia. Penebangan hutan secara liar, pembuangan sampah sembarangan, alih fungsi lahan tanpa perhitungan, serta rendahnya kepedulian terhadap lingkungan adalah contoh nyata bagaimana kurangnya kesadaran kewargaan dapat memperbesar risiko bencana.

Dalam konteks ini, merawat lingkungan sering kali dianggap sebagai hal kecil dan sepele. Padahal, tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan sungai, menanam pohon, atau tidak membangun di daerah rawan bencana memiliki makna besar bagi keberlanjutan kehidupan bersama. Literasi budaya mengajarkan nilai kearifan lokal yang sejak lama menekankan keseimbangan antara manusia dan alam. Sementara literasi kewargaan menanamkan tanggung jawab bahwa menjaga lingkungan adalah kewajiban setiap warga negara, bukan hanya tugas pemerintah.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami keterkaitan antara bencana alam dan literasi budaya serta kewargaan. Bencana sering dipandang sebagai musibah semata, tanpa refleksi kritis terhadap perilaku manusia yang turut menyebabkannya. Akibatnya, pola hidup yang tidak ramah lingkungan terus berulang, dan bencana pun datang silih berganti dengan dampak yang semakin besar.

Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting. Memasukkan pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum sekolah dan program komunitas bukan hanya untuk mengajarkan cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan dan hidup bertanggung jawab sebagai warga negara. Peserta didik perlu memahami bahwa kesiapsiagaan bencana adalah bagian dari sikap kewargaan yang baik.

Melalui pendidikan berbasis literasi budaya dan kewargaan, pelajar dibentuk agar mampu bersikap bijak terhadap keberagaman alam dan budaya Indonesia. Mereka diajak memahami bahwa cinta tanah air tidak hanya diwujudkan melalui simbol dan slogan, tetapi juga melalui tindakan nyata menjaga bumi tempat berpijak. Toleransi, gotong royong, kepedulian sosial, dan tanggung jawab bersama menjadi nilai-nilai penting dalam menghadapi risiko bencana.

Pada akhirnya, literasi budaya dan kewargaan yang terintegrasi dengan pendidikan kebencanaan akan melahirkan masyarakat yang lebih tangguh. Masyarakat yang tidak hanya siap menghadapi bencana ketika terjadi, tetapi juga mampu mencegah dan meminimalkan dampaknya melalui perilaku sadar lingkungan. Inilah fondasi penting bagi keamanan bersama dan keberlanjutan kehidupan bangsa di masa depan.

Contoh Kasus Nyata: Bencana dan Rendahnya Literasi Lingkungan

  1. Banjir Perkotaan akibat Sampah dan Alih Fungsi Lahan

Banjir yang kerap melanda kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, dan Makassar bukan semata-mata karena curah hujan tinggi. Banyak kajian menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah tersumbatnya saluran air oleh sampah rumah tangga serta berkurangnya daerah resapan air akibat alih fungsi lahan.
Dalam konteks literasi budaya dan kewargaan, kasus ini mencerminkan rendahnya kesadaran warga terhadap kewajiban menjaga lingkungan bersama. Padahal, budaya gotong royong dan hidup bersih sudah lama menjadi nilai luhur masyarakat Indonesia. Ketika nilai tersebut diabaikan, bencana pun menjadi konsekuensi yang harus ditanggung bersama.

  1. Tanah Longsor di Daerah Pegunungan

Kasus tanah longsor di wilayah pegunungan, seperti di Banjarnegara (Jawa Tengah) atau wilayah lereng Gunung Wilis dan Pegunungan Meratus, sering dipicu oleh penebangan hutan tanpa kendali. Hutan yang seharusnya berfungsi menahan tanah dan air berubah menjadi lahan gundul yang rapuh.
Di sini terlihat jelas bahwa bencana tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan perilaku manusia yang mengabaikan keseimbangan alam. Minimnya pemahaman masyarakat terhadap kearifan lokal tentang menjaga hutan menunjukkan lemahnya literasi budaya yang seharusnya diwariskan dari generasi ke generasi.

  1. Gempa Bumi dan Minimnya Kesiapsiagaan

Gempa bumi seperti yang terjadi di Lombok dan Palu menunjukkan bahwa dampak bencana akan semakin besar ketika masyarakat tidak memiliki pengetahuan dasar tentang mitigasi. Banyak korban jiwa terjadi bukan hanya karena guncangan gempa, tetapi karena bangunan yang tidak ramah gempa serta kepanikan masyarakat.
Pendidikan kebencanaan yang terintegrasi dalam literasi kewargaan dapat membentuk warga yang tanggap, disiplin, dan saling membantu saat bencana terjadi. Kesiapsiagaan ini adalah wujud nyata dari tanggung jawab sebagai warga negara.

  1. Banjir Bandang akibat Kerusakan Lingkungan Hulu

Banjir bandang di daerah pedesaan maupun kawasan wisata sering kali disebabkan oleh kerusakan lingkungan di wilayah hulu sungai. Penambangan liar dan pembukaan lahan tanpa perhitungan menjadi faktor utama.
Kasus ini menunjukkan bahwa tindakan di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lain. Literasi kewargaan mengajarkan bahwa setiap warga memiliki tanggung jawab sosial, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi keselamatan orang lain.

(Rulis, dari beberapa sumber) 

 

 

 

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 3109735661152216441

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close