Vaksin, Ketakutan, dan Tubuh Manusia: Sebuah Esai tentang Keraguan Pasca-Pandemi


Pandemi Covid-19 telah berlalu, tetapi perdebatan tentang vaksin masih menyisakan gema panjang di ruang publik. Dari klaim ilmiah, pengalaman personal, hingga tuduhan kepentingan bisnis, diskursus tentang kesehatan global kini memasuki fase refleksi—bahkan penyangkalan. Esai ini merangkum pandangan kritis seorang narasumber yang mempertanyakan kembali narasi besar vaksinasi massal, tubuh manusia, dan bagaimana rasa takut diproduksi serta diperdagangkan.

*****

Pandemi Covid-19 bukan hanya peristiwa kesehatan global, melainkan juga sebuah episode besar dalam sejarah relasi antara negara, ilmu pengetahuan, industri farmasi, dan tubuh manusia. Ketika dunia mulai bergerak menjauh dari masa darurat, muncul gelombang pertanyaan yang kian keras: apakah semua kebijakan yang diambil benar-benar murni demi kesehatan publik, ataukah ada lapisan kepentingan lain yang luput dipertanyakan?

Menurut seorang narasumber yang pandangannya berkembang seiring berjalannya waktu pasca-pandemi, kini mulai bermunculan berbagai fakta yang—menurutnya—mengindikasikan bahwa sejumlah vaksin Covid-19, termasuk yang diproduksi oleh perusahaan besar seperti AstraZeneca dan Pfizer, mengandung zat yang dianggap berbahaya bagi tubuh manusia. Ia merujuk pada artikel dan jurnal yang beredar luas di ruang digital sebagai dasar dari keyakinannya tersebut.

Pandangan ini tidak berdiri di ruang hampa. Narasumber menilai bahwa pasca-vaksinasi massal, masyarakat dihadapkan pada fenomena kesehatan yang dianggap tidak lazim: meningkatnya kasus penyakit autoimun, kanker, hingga diabetes yang menyerang usia remaja. Dalam perspektifnya, kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari apa yang telah dimasukkan ke dalam tubuh manusia selama masa pandemi, melalui mekanisme yang ia sebut sebagai bentuk manipulasi terhadap sistem biologis dan lingkungan kesehatan manusia.

Ia juga mengangkat pengalaman personal dan cerita dari lingkar sosialnya. Menurutnya, sejak awal pandemi sebenarnya sudah ada individu-individu yang menolak vaksinasi, termasuk dari kalangan tenaga medis sendiri. Ia menyebut seorang rekan dokter yang sejak awal menyatakan ketidaksetujuannya terhadap vaksin Covid-19. Pandangan tersebut, pada mulanya dianggap minor dan bahkan dicurigai, namun kini—menurut narasumber—justru menemukan momentumnya.

Jika pada fase awal pandemi masyarakat masih cenderung “memilih” jenis vaksin tertentu, seperti Pfizer atau Moderna, kini pandangan kritis itu berkembang lebih luas. Narasumber menyatakan bahwa setelah melihat pola dan dampak yang muncul, ia sampai pada kesimpulan bahwa hampir semua vaksin Covid-19 patut dipertanyakan keamanannya. Kesimpulan ini, menurutnya, lahir bukan dari emosi semata, melainkan dari refleksi yang dianggap lebih rasional terhadap tubuh manusia.

Dalam kerangka berpikirnya, tubuh manusia sejatinya telah dibekali sistem pertahanan alami yang disebut innate immunity atau imunitas bawaan. Sistem ini, menurutnya, bekerja efektif jika didukung oleh lingkungan yang sehat, pola makan yang baik, serta gaya hidup yang seimbang. Ia berpendapat bahwa manusia yang hidup sehat sejatinya jarang terserang penyakit serius, sehingga kebijakan vaksinasi terhadap individu yang berada dalam kondisi sehat justru menimbulkan pertanyaan mendasar.

“Yang terjadi,” menurutnya, “orang-orang yang sehat justru divaksin untuk pencegahan, tetapi kemudian mengalami gangguan kesehatan.” Dari sinilah ia mulai mempertanyakan logika kebijakan kesehatan yang diterapkan secara seragam, tanpa mempertimbangkan kondisi biologis individual.

Kritik tersebut semakin tajam ketika ia menyoroti pola vaksinasi berulang. Setiap kali muncul varian atau strain baru, masyarakat kembali didorong—atau merasa didorong—untuk menerima vaksin dosis berikutnya. Dalam pandangannya, pola ini tidak masuk akal jika dilihat dari sudut pandang kesehatan jangka panjang. Ia mempertanyakan sampai kapan tubuh manusia harus terus-menerus “diintervensi” atas nama pencegahan.

Di titik inilah narasumber melihat dimensi lain dari pandemi: dimensi bisnis. Ia berpendapat bahwa vaksin tidak hanya menjadi instrumen kesehatan, tetapi juga komoditas ekonomi bernilai tinggi. Ketakutan, menurutnya, menjadi produk pertama yang dijual, sementara vaksin hadir sebagai solusi yang ditawarkan. Semua itu, katanya, dibungkus dengan bahasa ilmiah yang membuat publik sulit membantah.

Ia tidak menafikan bahwa narasi resmi selalu menekankan bahwa vaksinasi bersifat sukarela dan tidak memaksa. Namun, dalam praktik sosial, tekanan administratif dan sosial membuat masyarakat nyaris tidak memiliki pilihan. “Kita boleh dikatakan menjadi objek,” ujarnya, menggambarkan posisi publik dalam kebijakan besar yang tidak sepenuhnya bisa mereka kendalikan.

Refleksi ini semakin menguat ketika ia mengetahui bahwa pasca-pandemi, beredar praktik penyediaan sertifikat vaksin palsu. Fenomena ini, baginya, membuka tabir lain dari problem integritas sistem. Uang publik, menurutnya, mengalir dalam jumlah besar, sementara kepercayaan masyarakat justru terkikis. Dalam konteks global, berbagai dugaan konspirasi yang sebelumnya dianggap tabu kini mulai dibicarakan secara terbuka.

Ia menilai bahwa masyarakat dunia saat ini sedang mengalami fase desensitisasi—kondisi ketika kepercayaan terhadap otoritas, sains, dan kebijakan publik tidak lagi seutuh dulu. Di berbagai belahan dunia, muncul permintaan maaf, koreksi kebijakan, hingga revisi narasi resmi. Semua itu, menurutnya, menunjukkan bahwa pandemi tidak sepenuhnya dikelola dalam ruang yang transparan dan jujur.

Namun, esai ini tidak berhenti pada tudingan. Narasumber melihat situasi ini sebagai sebuah momentum. Momentum untuk menghadirkan dialog yang lebih jujur antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan pengalaman manusia. Ia berpendapat bahwa selama ini pengetahuan terfragmentasi: medis berbicara dengan bahasanya sendiri, ekonomi dengan logikanya sendiri, sementara masyarakat diposisikan sebagai penerima pasif.

Menurutnya, dibutuhkan individu atau kelompok yang mampu menjembatani berbagai cabang ilmu tersebut—merajutnya menjadi pemahaman yang utuh dan manusiawi. Bukan untuk menolak sains, tetapi untuk mengembalikannya pada tujuan awal: melayani kehidupan, bukan kepentingan.

Pandemi Covid-19 mungkin telah berakhir secara administratif, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya masih hidup. Tubuh manusia, rasa takut, kekuasaan, dan bisnis kini berada dalam satu simpul besar yang menuntut keberanian untuk dikaji ulang. Dan dalam ruang itulah, perdebatan—betapapun tidak nyamannya—menjadi keniscayaan.

(Diangkat dari potongan podcast dr. dr. Gusti Ngurah Putra Stanu, Sp.OT)




 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 7064246803722340698

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close