Asal-Usul Nama Brug Tempe di Desa Kupu
Makna nama dan asal-usul jembatan legendaris bernama Brug Tempe yang terletak di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Diuraikan pula arti kata dari serapan bahasa Belanda, dua versi cerita terbentuknya nama tersebut, hingga peran jembatan ini sebagai penanda wilayah dan ikon lokal yang melekat di ingatan warga sekitar.
Oleh: Kang Thohir
Dalam pelukan sang Arunika, melambai angan di tubuh Ibu Pertiwi dalam suasana yang asri, di suatu kaum yang indah nan sejahtera. Pada saat yang sama, lahirlah kasih sayang di antara sesama umat manusia, sehingga semua memandang kehidupan dengan senyuman dan berkah yang terus bertambah senantiasa.
Teringat sebuah cerita tentang jembatan yang berada di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Jembatan itu bernama 'Brug Tempe'. Kata 'Brug' berasal dari bahasa Belanda yang berarti jembatan, yakni bangunan yang menghubungkan jalan di sisi sungai dengan sisi lainnya. Sedangkan kata 'Tempe' merujuk pada bahan pangan pokok yang terbuat dari kedelai yang diolah sedemikian rupa, merupakan makanan tradisional khas dan warisan leluhur Indonesia sejak zaman dahulu.
Jika digabungkan, nama 'Brug Tempe' secara keseluruhan berarti jembatan yang diberi nama dengan gabungan kata serapan dari bahasa Belanda dan istilah bahasa Jawa-Indonesia.
Konon, pada masa lalu bangsa Belanda sering menyebut jembatan dengan kata 'Brug', dan seiring berjalannya waktu, penduduk setempat ikut menggunakan kata tersebut hingga melekat menjadi kebiasaan hingga kini, khususnya bagi masyarakat Jawa dan daerah sekitarnya. Baik untuk jembatan yang dibangun zaman dulu maupun yang baru, kata 'Brug' masih sering terdengar sebagai sebutan, menjadi salah satu warisan budaya dari masa penjajahan Belanda.
Menurut cerita yang saya dengar, konon di balik nama Brug Tempe tersimpan kisah tentang seorang pedagang tempe yang setiap hari berjualan di dekat aliran sungai, tepat di lokasi tempat jembatan itu berada.
Setiap pagi, dagangannya selalu diburu pembeli dan namanya pun terkenal pada masa itu. Siapa saja yang melintasi jembatan ini pasti akan teringat pada sosok pedagang tempe yang biasa mangkal di bawahnya. Karena sosok pedagang itu begitu melekat di benak warga, akhirnya tempat itu disebut sebagai Brug Tempe. Hingga kini, nama asli pedagang tersebut tidak diketahui lagi, namun namanya abadi lewat nama jembatan ini—berkat sosoknya yang dagangannya selalu laris, serta pribadinya yang bersahaja, ramah tamah, dan tidak pernah sombong kepada siapa saja.
Ada pula versi lain mengenai asal-usul nama ini, yang dikaitkan dengan bentuk fisik jembatannya. Dilihat dari struktur bangunannya, bentuk jembatan ini dikatakan mirip dengan irisan tempe. Hal inilah yang kemudian menjadi acuan penamaan Brug Tempe, mengingat bentuknya yang melancip dan menjulur ke arah barat serta utara, hampir mendekati arah timur. Kini, jembatan ini dicat berwarna kuning setelah melalui proses renovasi dan peninggian struktur, agar tidak lagi terdampak arus air sungai yang sering meluap saat musim hujan.
Sungguh unik dan menarik, hingga kini jembatan ini menjadi salah satu ikon di Desa Kupu. Ia dijadikan patokan penanda wilayah dan jalan, serta batas pemisah antara wilayah Rukun Tetangga 01 dan 02, juga blok-blok lainnya di sekitarnya. Namanya yang melegenda ini berfungsi sebagai penunjuk arah yang pasti dikenali semua orang. Bisa dilihat dari percakapan warga sehari-hari:
"Kamu punya tempat di mana di Kupu, Tong?"
Jawabannya: "Tempatku di blok Brug Tempe sebelah timur, Pak."
Itulah salah satu alasan mengapa Brug Tempe dianggap unik dan menarik, sekaligus menjadi ikon yang sangat dikenal di daerah ini. Hehehe.
Semoga cerita ini membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua. Aamiin.
Brebes-Kupu, 2026
*****
Muhammad Thohir, yang juga dikenal sebagai Tahir atau akrab disapa Mas Tair, menggunakan nama pena Kang Thohir dalam karya-karyanya. Ia lahir di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga petani yang menggantungkan hidup dari bercocok tanam. Sejak kecil, ia akrab dengan kehidupan sawah dan ladang, menanam bawang merah, padi, kacang-kacangan, cabai, pare, serta berbagai jenis sayuran.
Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar dan terus berkembang ketika menempuh pendidikan di pondok pesantren. Hingga kini, Kang Thohir tetap aktif menekuni dunia tulis-menulis, khususnya sastra Indonesia. Puisi dan cerpen menjadi dua genre yang paling sering digelutinya, selain berbagai bentuk karya tulis lainnya. Di samping menulis, ia juga gemar membaca buku sebagai sarana memperluas wawasan, memperkaya pengetahuan, dan menjaga semangat belajar sepanjang hayat.


