Mengejar Mimpi ke Negeri Ginseng
Cerita: Adeeva Inaya
Assalamualaikum, hai teman-teman! Perkenalkan nama ku Adeeva , kalian bisa panggil aku Adeeva saja. Hari ini, aku ingin berbagi sebuah cerita tentang hal yang kusimpan rapat dalam hati: mengejar mimpi ke negeri ginseng.
Sejak kecil, pandanganku selalu tertuju pada sebuah tempat yang jauh di sana, yaitu kota Seoul di Korea Selatan. Aku sering membayangkan diriku berjalan di bawah guguran daun-daun musim gugur yang indah, menikmati pemandangan kota, dan melihat langsung ketinggian di Namsan Tower.
Namun, aku tahu impian tidak akan terwujud hanya dengan melamun. Suatu sore di dalam kamar, aku duduk termangu memandangi langit-langit.
"Hmmm..., Korea itu seperti apa ya? Apa saja yang harus aku siapkan sebelum ke sana?" pikirku.
Agar tidak hanya sekadar angan-angan, aku mulai langsung mencari ide. Aku membuka tablet dan mulai mencari video tips, vlog, informasi, hingga menonton wawancara para WNI (Warga Negara Indonesia) yang sudah tinggal dan berpengalaman di Korea. Dengan pena di tangan, aku mencatat semua hal penting.
Ternyata, perjalanan ke sana membutuhkan persiapan yang luar biasa. Bukan hanya paspor atau uang, tetapi ada 6 hal wajib yang harus siap: fisik, adab, kesopanan, bahasa, peraturan, dan mental. Aku sempat mengernyitkan dahi saat menulis kata yang terakhir.
"Kenapa mental juga harus disiapkan? Bukankah yang penting kita sehat, aman, dan punya ongkos yang cukup?"
Gumamku bingung. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, sampai akhirnya realitas menjawabnya dengan cara yang mengejutkan.
Suatu hari, saat asyik scrolling TikTok, jariku terhenti pada sebuah video. Di sana diberitakan tentang seorang mahasiswa (siswa) yang berhasil menjadi juara satu di bidang sains. Namun, saat aku membuka kolom komentar, pemandangan di dalamnya membuat dadaku sesak. Ada begitu banyak hujatan dan komentar pedas dari para K-Netz (netizen Korea).
"Ya Allah, kok komentar ketat dan pedas sekali sih? Padahal dia berprestasi dan juara sains, kenapa sih masih saja dihujat?" bisikku dengan perasaan sedih sekaligus ngeri.
Karena tidak tahan melihat ketikan-ketikan kasar itu, aku langsung menutup ponselku dan menjauh. Perasaanku campur aduk antara kesal dan takut. Ternyata di sana banyak orang yang dengan mudahnya melayangkan hujatan hanya karena merasa paling pintar, sok tahu, atau sekadar tidak suka. Seketika semangatku runtuh. Impian yang selama ini kurawat indah dalam kepala mendadak sirna.
"Aku tidak mau ke Korea!" ucapku lirih saat aku baru tersadar dan memahami maksud dari catatan yang kubuat tempo hari itu. Mengapa mental yang sabar harus disiapkan? Karena di belahan dunia mana pun kita berada, komentar negatif dan ujian mental itu akan selalu ada.
Perubahan drastis pada diriku rupanya tidak luput dari pandangan ibu. Sudah berhari-hari aku hanya mengurung diri dan cemberut. Ibu kemudian berjalan mendekat, duduk di tepi kasurku, lalu bertanya dengan lembut.
"Dev, kenapa muka kamu cemberut terus beberapa hari ini? Memangnya kamu kangen sama Abi?"
Pertanyaan ibu meruntuhkan pertahananku. Aku pun menceritakan semuanya, tentang kejamnya komentar netizen di media sosial, dan tentang impianku ke Korea yang mendadak layu.
Mendengar ceritaku, ibu tersenyum bijak lalu memberikan nasihat yang sangat panjang, mirip seperti guru yang sedang berceramah di depan kelas.
"Nak, meraih mimpi itu tidak usah mendengarkan hujatan atau komentar pedas orang lain. Mereka yang suka menghujat itu sebenarnya orang yang harus fokus meraih mimpi mereka sendiri, bukan mengurusi hidup orang lain. Kamu kan katanya mau sekolah di Korea. Kenapa kamu harus pusing dengan komentar mereka? Fokus saja pada sekolahmu sendiri, belajar yang pintar, kuatkan hatimu, dan jangan patah semangat. Oke?"
Mendengar kalimat demi kalimat dari ibu, rasanya ada kehangatan yang mengalir ke hatiku. Kabut takut yang tadinya menutupi mimpiku seketika hilang. Semangatku yang sempat padam kini menyala lagi. Aku langsung semangat kembali untuk mengejar cita-citaku, yaitu pergi ke Korea.
Nah, teman-teman, dari ceritaku ini ada satu pelajaran berharga yang ingin kubagikan. Ketika kita sedang berjuang melakukan atau mengejar sesuatu, kita tidak boleh mudah putus asa, bermalas-malasan, apalagi menyerah hanya karena omongan orang lain.
Untuk kalian semua yang saat ini juga sedang berjuang mengejar mimpi, yuk kita sama-sama semangat!
Sekian cerpen tentang impian dari Adeeva. Semoga semua impian indah kita bisa terwujud suatu hari nanti, ya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan kata maupun perbuatan dalam penyampaian cerita ini.
InsyaAllah, jika kita mau berusaha, Allah akan selalu membantu langkah kita.
Sekian dari saya, saya pamit undur diri.
Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
_____
Adeeva Inaya, adalah siswa SDIT Al Hidayah Islamic School, Cikarang Selatan, Bekasi


