Puisi-puisi Yanuar Abdillah Setiadi, Purbalingga


Yanuar Abdillah Setiadi
Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Menulis di 50 website Nasional. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Menjadi pembicara di beberapa seminar kepenulisan. Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi. 






Rido-Mu

surga neraka bukanlah imbalan
atas ibadahmu, ialah rido dari
Sang Maha Kasih. 

kau mengharap buah-buah surga,
istana-istana, bidadari-bidadara,
kebun hijau dan gunung menjulang.
itu yang kau mau?
benar itu yang terbesit dalam hatimu?

Tuhan, Ihdina shiratal mustaqim.Aaamiin

Purbalingga, 2026




Dalam Setiap Kebaikan 

aku ingin menghilangkan aku 
dalam setiap kebaikan
aku ingin menafikan aku dalam setiap
detak denyut kebaikan.
terlalu banyak aku
yang angkuh dan sombong
pandai merasa 
sedang asliku terkulai lemah kerdil
tak berdaya.

Purbalingga, 2026





Sejumput Kasih di Waktu Sahur

ialah mata yang bangun lebih awal
dari matahari.
tanganya meracik masakan
dengan bumbu cinta kasih
yang akan dihidangkan di perjamuan.
untuk sahur anaknya, suaminya,
untuk bakti pada hidupnya,
untuk pengabdian pada Tuhannya.

Jika suatu saat benar
kursi dan meja makan bisa bersaksi,
maka ia akan menggamit
tangan ibu sesegera mungkin
melewati sirotolmustaqim
ke pelataran teras surga.

Purbalingga, 2026





Rambut Ibu

sewaktu kecil
aku sering bermain 
dengan rambut ibu.
sesekali menjadi pemburu 
yang mencabut uban-uban itu.
sesekali menjadi pemburu 
yang mencutat ketombe 
agar segera musnah darinya.

di rambut ibu
di kepala ibu
aku tak menemukan ibu
yang aku temukan
justru ada banyak sekali
aku.

Purbalingga, 2026





Jika Aku Bisa Bertanya

Kenapa ibu begitu militan
untuk mempertahankan aku di rahimnya?
apakah ia sempat menelan pil kecewa
lanaran beberapa kali
aku tak menurutinya
atau hampir tak
pernah mengerjakan maunya.
Ibu, maafkan aku.

Purbalingga, 2026






Tulisan terkait

Utama 3509577868571876631

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item