Puisi-puisi Yanuar Abdillah Setiadi, Purbalingga
https://www.rumahliterasi.org/2026/06/puisi-puisi-yanuar-abdillah-setiadi.html
Yanuar Abdillah Setiadi Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Menulis di 50 website Nasional. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Menjadi pembicara di beberapa seminar kepenulisan. Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.
Rido-Mu
surga neraka bukanlah imbalan
atas ibadahmu, ialah rido dari
Sang Maha Kasih.
kau mengharap buah-buah surga,
istana-istana, bidadari-bidadara,
kebun hijau dan gunung menjulang.
itu yang kau mau?
benar itu yang terbesit dalam hatimu?
Tuhan, Ihdina shiratal mustaqim.Aaamiin
Purbalingga, 2026
Dalam Setiap Kebaikan
aku ingin menghilangkan aku
dalam setiap kebaikan
aku ingin menafikan aku dalam setiap
detak denyut kebaikan.
terlalu banyak aku
yang angkuh dan sombong
pandai merasa
sedang asliku terkulai lemah kerdil
tak berdaya.
Purbalingga, 2026
Sejumput Kasih di Waktu Sahur
ialah mata yang bangun lebih awal
dari matahari.
tanganya meracik masakan
dengan bumbu cinta kasih
yang akan dihidangkan di perjamuan.
untuk sahur anaknya, suaminya,
untuk bakti pada hidupnya,
untuk pengabdian pada Tuhannya.
Jika suatu saat benar
kursi dan meja makan bisa bersaksi,
maka ia akan menggamit
tangan ibu sesegera mungkin
melewati sirotolmustaqim
ke pelataran teras surga.
Purbalingga, 2026
Rambut Ibu
sewaktu kecil
aku sering bermain
dengan rambut ibu.
sesekali menjadi pemburu
yang mencabut uban-uban itu.
sesekali menjadi pemburu
yang mencutat ketombe
agar segera musnah darinya.
di rambut ibu
di kepala ibu
aku tak menemukan ibu
yang aku temukan
justru ada banyak sekali
aku.
Purbalingga, 2026
Jika Aku Bisa Bertanya
Kenapa ibu begitu militan
untuk mempertahankan aku di rahimnya?
apakah ia sempat menelan pil kecewa
lanaran beberapa kali
aku tak menurutinya
atau hampir tak
pernah mengerjakan maunya.
Ibu, maafkan aku.
Purbalingga, 2026


