Amandemen Hati sang Kaisar


Cerpen Aditiya Widodo Putra

Ubin-ubin marmer porfiri berwarna ungu tua di aula ini tidak berani berbohong tentang beban yang ditopangnya. Di luar jendela lengkung yang tinggi, kota pelabuhan ini—yang orang-orang sebut sebagai pusat dunia—sedang menggeliat dalam kesibukannya sendiri. Bunyi gemeretak roda kereta kuda yang melintasi jalan batu beradu dengan teriakan para pedagang rempah dari timur. Di sinilah aku berdiri, mengenakan jubah beludru berat yang terasa kaku di pundak, menatap ke arah pelataran rendah di mana batas antara kekuasaan dan jelata hanya dipisahkan oleh sebaris prajurit penjaga.

Aku adalah Yustianus, seorang lelaki yang menghabiskan separuh usianya di antara tumpukan naskah hukum lama dan doa-doa senyap di kapel pribadi. Hidupku bisa dibilang keteraturan yang mutlak, sampai pada sore itu, tatkala langkah kakiku membawaku keluar dari protokol istana yang menjemukan menuju ke teater pinggir kota.

Aku hanya ingin menjadi manusia biasa yang hilang di tengah kerumunan distrik hiburan di pinggiran kota. Dan di sinilah aku, berdiri di dekat sudut panggung kayu yang sudah mulai lapuk, menyaksikan para pemain peran membersihkan sisa pertunjukan mereka.

Mataku mendadak terpaku pada seorang wanita yang sedang berjongkok di dekat undakan panggung. Ia memiliki rambut hitam legam bergelombang yang diikat seadanya, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai rahangnya yang tegas namun anggun. Kulitnya yang kuning langsat tampak kontras dengan tunik katun abu-abu kusam yang sudah pudar warnanya. Yang membuatku menahan napas adalah sorot mata cokelat tuanya yang tajam, hidup, dan penuh determinasi saat ia dengan telaten membalut pergelangan kaki seorang penari cilik yang sedang terisak karena terkilir. Ia berbicara dengan nada yang begitu lembut, menyeka air mata anak itu dengan ujung lengan bajunya yang kasar, sama sekali tidak peduli bahwa gaunnya sendiri kotor terkena tanah pelataran. Kerendahan hatinya yang murni di tempat sekumuh ini langsung memikat seluruh perhatianku.

Aku melangkah mendekat, mencoba bersikap seramah mungkin. “Pergelangan kakinya parah?”

Wanita itu mendongak, sedikit terkejut melihat penampilanku yang meski tangannya kotor, ia tetap berdiri dengan tenang. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. “Hanya terkilir sedikit. Besok juga sudah bisa jalan kalau dikompres air dingin. Kau sendiri sedang mencari siapa di tempat sekotor ini, Tuan?”

“Aku hanya sedang berjalan-jalan. Mencari angin segar,” jawabku santai, berusaha menyembunyikan statusku.

Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat matanya sedikit menyipit dan memancarkan daya tarik yang kuat. “Angin segar di belakang panggung teater murah? Yang ada hanya bau keringat dan debu, Tuan jubah bagus.”

Sebelum aku sempat membalas gurauannya, tiba-tiba seorang pria bertubuh gempal—sang pemilik teater—muncul dari balik tirai dengan wajah memerah karena marah. Ia menunjuk kasar ke arah wanita di hadapanku.

“Teodota! Malah bermalas-malas di sini! Cepat bersihkan sisa dekorasi di dalam atau malam ini kau tidak akan mendapat upah sepeser pun!” bentak pria itu, suaranya menggelegar kasar di antara ubin tanah.

Teodota langsung berdiri. Aku bisa melihat kilat harga diri yang terluka di matanya, namun ia menahannya dengan luar biasa. “Baik, Bos. Saya selesaikan sekarang.”

Melihat perlakuan kasar itu, dadaku berdesir panas. Ada dorongan kuat dalam diriku untuk melindunginya, sebuah perasaan asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya di istana yang dingin. “Tunggu,” ujarku spontan, menahan langkah Teodota yang hendak pergi. Aku lalu menatap pemilik teater itu dengan pandangan dingin. “Dia sedang menolong anak yang terluka. Di mana hati nuranimu?”

Si pemilik teater mendengus remeh, tidak tahu siapa aku sebenarnya. “Heh, jangan ikut campur urusan rombonganku, Anak Muda. Mau kau sekaya apa pun, di tempat ini aku yang punya aturan!”

Teodota memegang lengan jubahku dengan lembut, memberi isyarat agar aku tidak memperpanjang masalah. “Sudahlah, Tuan. Jangan cari keributan demi aku. Ini sudah biasa terjadi.”

Tatapan matanya yang memohon sekaligus tegar di tengah tekanan itu justru membuatku semakin enggan untuk pergi begitu saja. Di tempat yang penuh kepalsuan ini, aku tahu aku baru saja menemukan sesuatu yang benar-benar nyata.

Ketegangan malam itu akhirnya mereda setelah pemilik teater pergi sambil menggerutu, tidak berani memperpanjang urusan setelah aku melemparkan sekeping koin perak yang nilainya lebih dari cukup untuk membayar seluruh upah Teodota malam itu. Namun, alih-alih berterima kasih dengan sikap tunduk yang biasa kuterima dari orang-orang, Teodota justru menatapku dengan tatapan menyelidik.

“Kau berlebihan, Tuan,” katanya sambil membersihkan sisa debu di tangannya. “Koin itu terlalu banyak untuk orang sekasar dia. Kau hanya akan membuatnya makin serakah.”

Aku terkekeh, merasakan keringanan yang aneh di dada. “Anggap saja itu biaya untuk meminjam waktumu sebentar. Aku Yustianus.”

“Teodota,” jawabnya singkat, lalu tersenyum ramah. “Nama yang terlalu berat untuk seorang pria yang suka keluyuran di distrik kumuh, Yustianus.”

Pertemuan tak sengaja itu menjadi pembuka bagi rangkaian pertemuan rahasia kami selanjutnya. Setiap beberapa hari sekali, aku akan melepas segala atribut kemewahanku dan menemuinya di sebuah kedai kecil yang sepi di dekat dermaga. Kami duduk di sudut ruangan, memesan roti gandum dan sup hangat, mengobrol bak dua orang biasa yang tidak memiliki beban dunia di pundak mereka.

Di sinilah aku benar-benar jatuh cinta. Di balik status sosialnya yang rendah sebagai mantan penari panggung, Teodota memiliki ketajaman berpikir yang tidak pernah kutemukan pada para senator di istana. Ia memahami denyut nadi kota ini, penderitaan rakyat kecil, dan kepalsuan para penguasa dengan cara yang sangat jujur. Saat bersamanya, aku merasa utuh. Aku merasa seakan menjadi seorang pria yang dihargai karena diriku sendiri.

Hingga suatu sore, kebahagiaan itu membentur dinding realitas yang sangat keras.

Aku menggenggam jemarinya di atas meja kayu kedai yang kasar. “Teodota, aku tidak ingin hubungan kita sembunyi-sembunyi seperti ini lagi. Aku ingin membawamu ke rumahku. Aku ingin menikahimu.”

Teodota menarik tangannya perlahan, matanya yang biasa bersinar mendadak meredup penuh kesedihan. “Menikah? Kau bercanda, Yustianus. Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya sekarang. Kau adalah keponakan kaisar, calon penguasa imperium ini.”

“Apa bedanya? Aku tetap pria yang sama dengan yang duduk di depanmu saat ini.”

“Bedanya adalah hukum, Yustianus!” Suara Teodota bergetar, menahan gejolak emosi yang mendalam. “Undang-undang kekaisaran melarang keras seorang bangsawan tinggi menikahi wanita dari kalangan hiburan seperti aku. Jika kau memaksakannya, kau akan kehilangan hak takhtamu. Rakyat akan mencemoohmu, dan senat akan mendepakmu. Aku tidak ingin menjadi alasan kehancuran hidupmu.”

Kata-katanya memukul dadaku dengan telak. Konflik batin berkecamuk hebat di dalam diriku. Di satu sisi, ada tanggung jawab besar terhadap kekaisaran yang telah dipersiapkan untukku sejak muda. Di sisi lain, ada Teodota, wanita yang menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan sejatiku. Hidup dalam kemegahan istana tanpa dirinya terasa laksana hukuman mati yang diperpanjang.

Kekhawatiran Teodota terbukti lebih cepat dari yang kubayangkan. Segala sesuatu yang bersifat rahasia di kota pelabuhan ini selalu memiliki harga.

Keesokan paginya...

Tatkala aku sedang memeriksa draf kodifikasi hukum di meja kayu jati istana, pintu geser perunggu diketuk dengan tergesa-gesa. Itu adalah salah satu informan tepercaya dari lingkar dalam militer. Ia membawa kabar bahwa faksi politisi ortodoks dan para bangsawan tua telah menyuap penjaga kedai dermaga tempat aku dan Teodota biasa bertemu.

Bukan hanya sekadar desas-desus, mereka telah menyusun manifesto kecaman setebal tiga puluh halaman perkamen. Manifesto itu berisi detail hari, jam, bahkan replika pakaian katun yang dikenakan Teodota saat menemaniku makan sup hangat. Dokumen ini disebarkan secara terstruktur ke tiga titik krusial yaitu barak prajurit, biara-biara utama, dan rumah para hakim agung.

Dalam hitungan jam, suasana pelataran luar istana berubah total. Ratusan pegawai administrasi yang biasanya sibuk mencatat pajak kini hanya berdiri bergerombol di koridor, saling berbisik sambil melempar pandangan tidak percaya setiap kali aku melintas. Statusku sebagai calon tunggal pewaris takhta mendadak goyah karena aku dianggap telah mencoreng kesucian institusi tertinggi.

Puncak dari konspirasi ini terjadi tatkala faksi penentang berhasil menggerakkan massa di luar gerbang. Para perajin, buruh pelabuhan, dan ormas keagamaan radikal berkumpul membentuk barisan yang memblokade jalan-jalan utama menuju istana. Mereka membawa spanduk-spanduk besar yang menuntut pembatalan hak warisku atas takhta jika aku tidak segera membuat pernyataan publik untuk mengasingkan Teodota ke luar pulau.

Di tengah situasi yang mencekam itu, aku dipaksa menghadiri sidang pleno darurat di Aula Agung. Aula yang biasanya penuh dengan perdebatan administratif kini menjelma menjadi ruang penghakiman. Ratusan senator mengenakan toga sutra mereka, duduk melingkar dengan wajah tegang. Senator Proculus berdiri di podium tengah, memegang tinggi-tinggi salinan manifesto tersebut.

“Yustianus!” suaranya memotong keheningan ruangan dengan tajam. “Perlu anda ketahui bahwa kami disini membicarakan masalah fondasi negara. Konstitusi Lex Julia adalah tiang penyangga moralitas kekaisaran. Jika kau bersikeras memasukkan seorang wanita dari panggung hiburan ke dalam silsilah resmi, maka kami memiliki hak penuh berdasarkan hukum lama untuk menyatakan bahwa posisimu sebagai calon kaisar tidak lagi sah secara hukum!”

Ketegangan di dalam ruangan beradu dengan gemuruh teriakan massa dari balik dinding batu aula. Beberapa senator bahkan sudah mulai berdiri dan mengemasi dokumen mereka, sebuah simbol penolakan massal yang bisa memicu kelumpuhan total pemerintahan dalam hitungan hari.

Aku melangkah cepat menyusuri koridor panjang, membiarkan ujung jubah beludruku menyapu lantai ubin marmer yang kaku. Di belakangku, pintu perunggu Aula Agung baru saja tertutup dengan dentuman berat yang menggema. Suara Senator Proculus masih terngiang jelas di telingaku: “Kau punya waktu sampai lilin di ruang strategimu habis malam ini, Yustianus. Pilih takhtamu, atau pilih wanita panggung itu. Kami tidak menerima kompromi.”

Aku memijat pangkal hidung, menatap gulungan-gulungan perkamen yang berserakan di atas meja. Massa di luar gerbang istana terus menuntut pembatalan hak warisku, sementara Senat mengancam boikot total. Mengirim prajurit bersenjata untuk membungkam mereka bukanlah pilihan, jelas aku tidak akan membiarkan kota ini hancur berantakan hanya demi mempertahankan kekuasaan.

Tiba tiba saja...

Sebuah ketukan pelan tiga kali dari arah panel dinding mengejutkanku. Engsel perunggu tersembunyi itu bergeser pelan, menampakkan celah sempit lorong bawah tanah yang biasanya hanya digunakan oleh kurir militer rahasia. Alangkah terkejut-nya aku melihatl dari balik celah itu, Teodota melangkah masuk.

Rambutnya sedikit berantakan karena harus merunduk melewati lorong sempit, namun wajahnya sama sekali tidak menampakkan ketakutan. Ia malah memegang sebuah bungkusan kain berisi roti.

“Teodota?” Aku langsung berdiri, setengah tidak percaya. “Bagaimana kau bisa melewati penjaga gerbang bawah?”

Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja, menyeka sedikit kotoran di bahu gaunnya dengan santai. “Penjaga lorong pelabuhan rupanya sangat suka roti kismis gandum. Aku memberinya tiga potong, dan dia membiarkanku lewat.”

“Kau menyogok penjaga elite kekaisaran dengan roti?” tanyaku, nyaris tertawa di tengah rasa frustrasi yang menjepit kepalaku seharian ini.

“Dan sedikit obrolan ramah. Jangan berlebihan, Yustianus. Mereka juga manusia biasa yang lapar saat berjaga malam,” jawabnya tenang, lalu menarik kursi kayu dan duduk tepat di seberangku. Matanya menyapu peta-peta dan naskah hukum yang berserakan. “Jadi, ini ruangan tempat orang-orang berkuasa memikirkan cara untuk membuangku?”

Aku menghela napas panjang dan kembali duduk. “Senat bersikeras menggunakan Lex Julia. Kalau aku memaksakan pernikahan kita, Proculus akan melegalkan pencabutan hak warisku. Kalau aku membalas dengan pasukan militer, kita akan memicu perang saudara.”

Teodota menarik salah satu gulungan naskah hukum tebal yang ada di dekatnya, membolak-baliknya tanpa minat, lalu menatapku langsung. “Lalu kenapa kau repot-repot memikirkan pasukan militer kalau senjatamu sebenarnya bertebaran di atas meja ini?”

“Senat tidak mau mendengar negosiasi lagi.”

“Karena kau melawan mereka menggunakan hukum yang mereka hafal di luar kepala,” potong Teodota cepat. “Kalian orang-orang istana selalu terpaku pada aturan yang mengikat saat ini. Tapi kau lupa, sebelum kakek moyangmu memakai mahkota, tempat ini dulunya menganut republik.”

Aku mengerutkan dahi, mencoba mencerna arah pembicaraannya. “Apa maksudmu?”

Teodota menyandarkan punggungnya ke kursi. “Waktu aku masih bekerja di rombongan teater, ada seorang mantan panitera pengadilan tua yang sering menghabiskan malam di kedai kami. Dia sering menceritakan hukum-hukum usang. Dia pernah bilang, seorang calon penguasa memiliki wewenang darurat untuk mengubah aturan domestik jika hal itu terbukti mengamankan sekutu strategis dari kelas pekerja dan rakyat jelata.”

Aku sangat tertegun. Pikiranku langsung membongkar ingatan tentang ribuan naskah lama yang pernah kupelajari di perpustakaan utama. “Klausul Keselamatan Publik... Ya, ampun. Aturan masa transisi itu memang sudah diabaikan ratusan tahun, tapi secara tertulis, senat tidak pernah mencabutnya secara resmi.”

“Nah, itu dia,” senyum Teodota mengembang. “Proculus dan teman-temannya sangat mendewakan teks hukum kuno, bukan? Kalau begitu, serang balik mereka dengan teks yang jauh lebih kuno. Jadikan posisi kelasku sebagai senjata. Aku mewakili orang-orang bawah, para buruh, dan rakyat yang sekarang sedang mengepung gerbangmu.”

Aku menatapnya tak berkedip, menyadari betapa briliannya siasat itu.

“Kau hanya perlu menjadikan pernikahan kita sebagai bentuk kompromi politik resmi antara istana dan rakyat jelata. Sebuah strategi negara. Kalau Proculus menolak klausul itu, silakan dia jelaskan sendiri kepada puluhan ribu orang di luar sana mengapa dia membuang aliansi politik sebesar ini.”

Beban berat yang sejak pagi menekan pundakku seolah terangkat begitu saja. Aku meraih tangannya dari seberang meja, menggenggamnya erat-erat. “Kau benar-benar luar biasa, Teodota.”

Ia hanya membalas genggamanku dengan tawa kecil yang hangat. “Tentu saja. Sekarang, ayo rapikan gulungan-gulungan ini. Kau harus menyusun drafnya malam ini juga, dan besok pagi kau akan menghadapi senat-senat keras kepala itu tanpa perlu repot-repot membawa pedang sama sekali.”

Malam itu berlalu tanpa kantuk. Di bawah temaram cahaya lampu minyak, penaku menari di atas perkamen, menyusun ulang setiap baris Klausul Keselamatan Publik ke dalam draf amandemen yang baru. Teodota setia di sisiku, sesekali menyodorkan cangkir air minum atau sekadar meluruskan gulungan kertas yang melingkar kembali. Tatkala fajar menyingsing dan sisa lilin terakhir mati, draf itu selesai.

Hari itu, suasana Aula Agung terasa jauh lebih menekan daripada kemarin. Ratusan senator sudah duduk rapat di kursi marmer mereka. Wajah-wajah mereka tegang, siap mendengarkan jawaban atas ultimatum yang mereka berikan.

Aku dengan gagap berani melangkah ke tengah podium tanpa membawa satu pun pengawal bersenjata. Hanya gulungan hukum baru ini di tanganku.

Senator Proculus berdiri dari tempat duduknya, melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang tertahan.

“Waktumu sudah habis, Yustianus,” suara Proculus memecah keheningan aula. “Lilin di ruanganmu sudah mati. Jadi, apa keputusanmu? Menyerahkan hak waris takhta, atau mengusir wanita panggung itu dari kota ini?”

Aku menatapnya dengan tenang, lalu membuka gulungan perkamen di atas meja podium. “Aku memilih opsi ketiga, Proculus. Aku memilih untuk mempertahankan takhtaku, dan aku akan tetap menikahinya.”

Gemuruh protes langsung meledak. Beberapa senator paruh baya bahkan berdiri dan menggebrak meja kayu di depan mereka.

“Kau menghina dewan ini!” teriak seorang senator dari barisan belakang. “Hukum Lex Julia tidak bisa ditawar oleh keinginan pribadimu!”

Proculus mengangkat tangan, menenangkan massa, lalu menatapku dengan pandangan kejamnya. “Kau pikir kau siapa, Anak Muda? Kau belum memakai mahkota itu. Kami bisa mencabut dukungan kami sekarang juga, dan membiarkanmu menjadi rakyat jelata sebelum matahari terbenam.”

“Silakan saja,” jawabku santai, melangkah maju mendekati batas podium. “Tapi sebelum kalian melakukan itu, kalian harus membaca ini dulu. Ini adalah amandemen baru yang kuajukan berdasarkan Klausul Keselamatan Publik dari era Republik kuno.”

Proculus mengernyitkan dahi. “Klausul usang apa lagi yang kau bicarakan?”

“Klausul yang menyebutkan bahwa penguasa berhak melegalkan hubungan domestik demi mengamankan aliansi strategis dengan kelas pekerja,” ujarku, suaraku bergema kuat memenuhi ruangan. “Teodota mewakili suara dari puluhan ribu buruh pelabuhan, pengrajin, dan rakyat jelata yang saat ini sedang memblokade gerbang istanamu. Menikahinya adalah langkah politik resmi untuk menyatukan kelas bawah dengan istana.”

“Itu omong kosong!” Proculus mulai kehilangan ketenangannya, wajahnya memerah. “Kau hanya memutarbalikkan kata-kata demi nafsumu sendiri! Rakyat di luar sana tidak peduli dengan pernikahanmu!”

“Mereka peduli, Proculus,” potongku cepat. “Karena jika kalian menolak amandemen ini dan mendepakku, Teodota akan memastikan seluruh pekerja di kota ini melakukan mogok massal. Distribusi gandum akan berhenti, pelabuhan akan lumpuh, dan pasar akan tutup. Silakan kalian keluar dari ruangan ini sekarang dan jelaskan sendiri kepada massa di luar mengapa kota ini harus hancur hanya karena kalian gengsi menerima menantu dari kalangan biasa.”

Keheningan yang mencekam tiba-tiba melanda aula. Para senator yang tadinya berteriak mulai saling berpandangan dengan cemas. Mereka tahu betul bahwa ancaman kelumpuhan kota itu sangat nyata, dan militer sekalipun tidak akan bisa berbuat banyak jika seluruh buruh pelabuhan memberontak.

Proculus mengepalkan tangannya di atas meja, napasnya memburu. “Kau... kau mengancam dewan senat dengan kekuatan massa?”

“Aku tidak mengancam,” kataku, merendahkan nada suaraku hingga terdengar sangat ramah namun penuh penekanan. “Aku menawarkan solusi. Kalian tetap mendapatkan kestabilan kota, kekaisaran tetap memiliki penerus, dan hukum kita bertransformasi menjadi lebih kuat karena merangkul rakyat kecil. Pilihan ada di tangan kalian. Mau menyetujui draf ini, atau melihat kota ini lumpuh total sebelum malam tiba?”

Proculus menatapku lama, mencoba mencari celah keraguan di mataku. Tapi sepertinya, ia tidak menemukannya. Setelah keheningan panjang yang menyiksa selama beberapa menit, ia perlahan menurunkan tangannya dan kembali duduk di kursinya dengan lemas. Para senator lain mulai berbisik-bisik, dan satu per satu dari mereka mulai mengangkat tangan, menyatakan persetujuan. Kekaisaran akhirnya terpaksa tunduk pada kecerdikan taktis yang kami susun.

Tiga minggu setelah perdebatan sengit itu, ketegangan di kota benar-benar mencair. Kami memilih untuk tidak menggelar pesta mewah di istana utama demi menghormati situasi politik yang baru saja pulih. Pernikahan kami dilangsungkan di sebuah kapel kecil di sudut dalam kompleks istana, hanya diterangi oleh puluhan lilin madu yang memancarkan cahaya keemasan yang hangat.

Teodota berjalan perlahan ke arahku. Ia tak lagi mengenakan tunik katun abu-abu yang kotor oleh debu teater, melainkan gaun putih sederhana dari bahan linen halus yang tampak sangat anggun di tubuhnya. Rambut hitam gelombangnya dibiarkan tergerai rapi. Saat ia berdiri tepat di sampingku di depan altar, aku bisa melihat matanya sedikit berkaca-kaca karena kelegaan yang luar biasa.

Aku meraih jemarinya, meremasnya pelan untuk menyalurkan kehangatan. “Kau siap?” bisikku ramah.

Teodota tersenyum tipis, menatap langsung ke mataku dengan binar cerdas yang dulu pertama kali memikatku. “Setelah semua keributan di ruang senat kemarin? Kurasa menghadapi altar ini jauh lebih mudah, Yustianus.”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Di hadapan pendeta yang memimpin upacara, kami mengucapkan janji suci kami dengan tenang dan mantap. Saat aku menyematkan cincin emas sederhana di jarinya, aku tahu bahwa keputusan ini menjadi awal dari babak baru, di mana sebuah imperium besar akan dipimpin oleh dua orang yang saling melengkapi—seorang kaisar yang kaku, dan seorang wanita yang mengajarinya cara melihat dunia dengan nyata. Nilai dari 0-100 Ceroen yang saya buat diatas.

Selesai.

*****

Aditiya Widodo Putra. Pemilik akun Instagram @adit_widodoputra. Seorang penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang—kota yang mengajarkan saya bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada. Beberapa karya telah dimuat di Langgam Pustaka, Halimun Salaka, Suara Aisyiyah, Muhammadiyah Jawa Tengah, Nyimpang.com, Kumparan, dan beberapa platform lainnya.

Tulisan terkait

Utama 1502057141938250831

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item