Pentigraf Kerinduan Lilik Rosida Irmawati
Pentigrafis: Lilik Rosida Irmawati
Maafkan Saya, Ibu
Maya terduduk lemas ketika membaca di group Wali murid bahwa belajar di rumah diperpanjang. Sejak program belajar di rumah diterapkan untuk membendung virus corons Maya merasa hari-harinya demikian melelahkan. Masalah pekerjaan rumah dan permintaan si kembar ready kuliner tidaklah terlalu merepotkan. Namun ada satu hal yang membikin tensinya cepat naik, menjadi pengganti guru bagi si kembar butuh ekstra kesabaran tinggi terutama Windi yang ternyata jauh tertinggal dibandingkan kembarannya. Windi membuat jengkel tidak kepalang, dan bahkan Maya pernah menceburkan kepala ke bak mandi saking tidak manpu menahan emosi ketika Windi tidak cepat menangkap penjelasan sang bunda, dan akhirnya mogok belajar.
Maya akhirnya tersadar dan merasa bersalah kepada ibu guru si kembar. Selama ini Maya dikenal paling vokal mengkritisi karena Windi tak secemerlang Winda. Bahkan Maya pernah menuduh ibu guru kelas 2 tidak profesional, dan tuduhan itu hanya ditanggapi senyuman oleh bu Tatin. Mengingat hal itu Maya menjadi malu. Benar-benar sangat malu.
Ketika Windi mogok untuk yang kesekian kalinya Maya mengajak si kembar berkunjung ke bu Tatin. Dan itu ternyata sangat mujarab, binar kebahagiaan tersirat di bola mata Windi. Apalagi ketika bertemu bu Tatin, Winda dan Windi langsung menghambur dan menangis di pelukan gurunya. Maya terharu dan berkaca-kaca ketika akhirnya dapat memeluk bu Fatin dan berbisik, "Tolong maafkan saya."
Sumenep, Maret 2020
Pulang
Dengan seksama Surati memperhatikan setiap penumpsng yang turun dari bus. Gabungan petugas berbungkus plastik menyemprot setiap penumpang. Setelah lama menunggu akhirnya yang ditunggunya muncul. Meski memakai penutup Surati masih bisa mengenali sosok suami yang enam tahun silam berburu keberuntungan ke Malasyia.
Kerinduan memuncak menyatu dengan gairah yang membakar hanya sebatas menggelegak ke permukaan. Surati hanya bisa pasrah ketika Madruki harus dikarantina karena terindikasi terpapar virus. Semua kerinduannya hanya tertumpah sekejab lewat tatapan mata yang berkilat. Petugas dengan tegas menolak permintaan Surati untuk mencium tangan suaminya, bahkan sekedar mendekat meluapkan rindu. Surati meraung histeris ketika petugas berpakaian robot membawa suaminya yang berjalan oleng, meski kakinya melangkah separuh bagian tubuhnya menoleh.
Tak banyak yang bisa dilakukan Surati menunggu saat-saat yang tak pasti. Kabar bahwa Madruki positif Corona meluruhkan seluruh persendian dan hati. Beban itu semakin berat ketika tak ada satupun keluarga dekat dan jauh yang datang sekedar berkunjung menanyakam kabar. Rasa frustasi menyebabkan tubuh Surati menjadi limbung kemudiam ambruk. Di tengah ketidakberdayaannya Surati merasakan kehadiran Madruki, suami tercinta. Genggaman tangan, belaian dan ciuman penuh kasih sangat menenangkan dimalam-malam panjangnya. Dan ketika Madruki melepaskan genggamam serta melambaikan tangan Surati berteriak histeris . Saat kesadarannya pulih Surati merasakan tubuhnya berada di brankar dan di dorong oleh orang-orang berbaju tertutup lalu memasukkannya ke ambulance, membawanya entah kemana.
Sumenep, April 2020
Hati Ibu
"Nana dah jadi nenek dan ibu jadi buyut, "tawaku pecah sembari memeluk tubuh kerempeng dan menciumi permukaan kisut keriput. Ibu membetulkan kacamatanya yang melorot dan menatapku, demikian teduh sebiru hamparan langit seusai hujan, "Sudah ibu siapkan air panasnya, " kupeluk ibu lebih erat lagi dan merasakan semua denyut dan denyar kasihnya di seluruh pori-pori kullt. Ritual penyambutan, mandi air hangat dengan rempah, selamatan bubur merah dan tumpeng dengan jajan pasar macam tujuh dihari kelahiran. Anehnya ibu tidak pernah bertitah untuk melanjutkan tradisi yang diyakininya. Bagi ibu itu sdalah milik.jsmannya.
"Bagi ibu kau tetaplah Nana kecil," jawaban ibu dari waktu ke waktu sama, tak ada tambah dan kurang, "Na, kadang ibu lupa semua anak-anak ibu sudah dewasa dan mandiri. Ibu selalu berfikir apa kalian makan tepat waktu, apa kalian sehat. Hal-hal kecil Na meski kau telah jadi dosen dan nenek. Jadi jangan marah kalau ibu cerewet, " air mataku menggenang dan terasa hangat menetes. Ibu benar, rasa itu pula yang menggayut ketika putri pertama menikah dan kemudian menjauh mengepakkan sayapnya merajut mimpi baru. Ada sesuatu yang kosong dan hilang, seperti burung terbang tertelan hamparan langit luas tak bertepi.
Kutatap ibu penuh iba dan haru, di usianya yang ke tujuh puluh kekuatan mengingatnys masih sangat mengagumkan. Banyak kisah yang mengalir dan itu kemudian menjadi pelita bagi anak-anaknya. Ketabahan, kesabaran, keteguhan dan ketegaran menjadi istri tentara di awal revolusi kemerdekaan, ditinggal suami tugas memadamkan pemberontakan di berbagai wilayah serta mengasuh tiga anak perempuan seorang diri. Masa-masa yang sangst sulit dan kata ibu itulah Rahman dan Rahim Sang Empunya hidup ditengah keterbatasan, kepahitan dan kegetiran hati dan jiwa menjadi kuat dan tak ada sandaran lain, selain-Nya. Rabb, terimakasih karena telah menganugarahkan ibu yang demikian luar biasa. terimakasih ibu, bisikku lembut sembari menghirup aroma nafas kesturinya.
Sumenep, 03.48. 05/06/2016
Merindui
Hmm, demikian nikmat berselonjor melemaskan otot-otot setelah taraweh yang cukup panjang sembari menatap bayangan daun bergoyang, lampu padam bulan benderang. Berapapun usia kita, setua apapun ketika bermandikan cahaya bulan kenangan manis masa kecil menelusup hati, seperti api dalam sekam perlahan menghangat dan kemudian memercik, mengobarkan keabadian tak pernah pupus. Torehan lengkung tak terputus ruh yang telah terbang bersemayam dan hati yang selalu tergetar. Selalu dan selalu kerinduan demikian panjang.
"Senang aekali kau jadi Pungguk," Ibu selalu menggoda ketika bulan penuh dan aku duduk dibawsh pohon menghirup aroma bunga Kacapiring dan juga jawaban ketika belum kucerna tentang reproduksi, tentang ketakutan kalau hamil karena telah haid, "Perempuan itu kalau hamil tandanya selama tiga hari berturut-turut mimpi melihat ayam jago nangkring di bulan, " jawaban penuh canda dan simbol menerbangkan imajinasi tercerna dan menetap di memori meskipun pengetahuan baru menerobos dan memenuhi simpul-simpul syaraf.
Kenangan itu semakin menggeliat dan menggelepar tapi juga menyedihkan. Di usia senja Sang Kekasih masih menguji kesabaran Ibu dengan rasa sakit, sakit kanker vagina. Ketabahan dan total kepasrahan tentang kisah Ayyub yang sering didongengkan kepada kami berenam di masa kanak-kanak menjelma dalam gurat wsjah penuh senyum ketika malaikat menjemputnya ditengah derai air mata dan pujian doa. Senyum cantiknya tetap terpatri dan bercahaya lembut menenangkan seperti cshaya bulan. Setua apapun kita cahaya ibu tetap mencahayai batin karens Ibu cahaya abadi yang tak pernah redup.
Sumenep, 18.32. 25/06/2016
*****
Lilik Rosida Irmawati, lahir di Jember 16 Juli 1964, aktif menulis sejak duduk di bangku SPG Bondowoso sam[ai saat ini dalam bentuk Cerpen, opini, artikel dan feature.
Bukunya yang telah terbit Berkenalan dengan Kesenian Tradisional Madura (Penerbit SIC Surabaya, 2004), Gai’ Bintang (Disparbud Kab. Sumenep, 2009) fdan antologi Kitab Pentigraf.
Selain menulis kerap tampil sebagai pembicara, khususnya dalam bidang pengembangan pendidikan, budaya dan literasi serta sebagai penyiar/pengasuh program acara Rumah Literasi RRI Prosatu Sumenep.
Di akhir tahun 2018, mendapatkan 2 penghargaan sekaligus, yakni Anugerah Sotasoma, Balai Bahasa Jawa Timur, bidang bahasa dan sastra, dalam gerakan dan pengembangan literasi dan Tokoh Literasi dari Bupati Sumenep.


