Guru Bukan Sekadar Menegur, tetapi Mengubah Perilaku
Maskus Hidayat
Menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan pelajaran di depan kelas. Guru juga berhadapan dengan berbagai karakter murid, termasuk murid yang berulang kali melakukan pelanggaran. Dalam keadaan seperti itu, kesabaran, ketegasan, dan kemampuan memahami akar persoalan menjadi bagian penting dari tugas seorang pendidik.
Pelanggaran yang dilakukan berulang kali tentu tidak boleh dibiarkan. Namun, guru juga perlu menyadari bahwa hukuman semata belum tentu mengubah perilaku. Ada kalanya seorang murid terus mengulangi kesalahan bukan karena ia tidak tahu bahwa tindakannya salah, melainkan karena ada kebutuhan, persoalan, atau pola perilaku yang belum tersentuh.
Karena itu, tugas guru bukan sekadar membuat murid takut untuk berbuat salah, tetapi membantu mereka memahami mengapa suatu perilaku harus diperbaiki.
Langkah pertama adalah menghentikan pola yang terus berulang. Teguran harus jelas, tenang, dan tidak mempermalukan murid di depan teman-temannya. Guru perlu menunjukkan bahwa aturan memang harus dihormati, tetapi martabat anak tetap harus dijaga.
Berikutnya, ajak murid berbicara secara pribadi. Dengarkan alasannya. Jangan terburu-buru menghakimi. Bisa jadi perilaku yang tampak mengganggu merupakan cara seorang anak mencari perhatian, pengakuan, atau sekadar menunjukkan bahwa dirinya sedang menghadapi masalah.
Guru juga perlu membangun komunikasi yang sehat dengan murid. Hubungan yang baik bukan berarti guru kehilangan ketegasan. Justru ketika murid merasa dihargai, nasihat guru lebih mudah diterima.
Jika pelanggaran terus terjadi, buatlah kesepakatan perilaku yang jelas. Murid perlu mengetahui apa yang diharapkan darinya, apa konsekuensinya jika aturan dilanggar, dan bagaimana ia dapat memperbaiki kesalahannya. Kesepakatan tersebut sebaiknya tidak berhenti sebagai ucapan, tetapi dicatat dan dievaluasi bersama.
Yang tidak kalah penting adalah memberikan konsekuensi yang logis dan mendidik. Konsekuensi bukan untuk membalas kesalahan, melainkan membantu murid memahami hubungan antara tindakan dan tanggung jawab. Dengan demikian, anak belajar bahwa setiap pilihan memiliki akibat.
Guru juga perlu menghentikan pola teguran yang hanya berulang-ulang tanpa perubahan. Jika cara yang sama sudah dilakukan berkali-kali tetapi hasilnya tetap sama, mungkin bukan murid saja yang perlu berubah. Cara pendekatan guru juga perlu dievaluasi.
Jangan lupa mencari sisi positif murid. Anak yang sering melakukan pelanggaran tetap memiliki kelebihan. Berikan kesempatan kepadanya untuk menunjukkan kemampuan, mendapatkan kepercayaan, dan merasakan bahwa dirinya juga mampu melakukan sesuatu yang baik.
Jika masalah semakin berat, libatkan wali kelas, guru BK, dan orang tua. Pendidikan bukan pekerjaan seorang guru sendirian. Perubahan perilaku akan lebih mungkin terjadi apabila sekolah dan keluarga berjalan bersama.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru bukan diukur dari berapa banyak murid yang takut kepadanya, tetapi dari berapa banyak murid yang perlahan belajar bertanggung jawab atas dirinya.
Guru memang harus tegas. Tetapi ketegasan tanpa kasih sayang dapat melahirkan ketakutan. Sebaliknya, kasih sayang tanpa ketegasan dapat melahirkan pembiaran.
Guru yang hebat mampu menempatkan keduanya secara seimbang: tegas pada perilakunya, tetapi tetap menghargai manusianya.
Sebab pendidikan sejatinya bukan tentang menghukum anak agar berhenti berbuat salah. Pendidikan adalah proses panjang untuk membantu seorang anak belajar dari kesalahan, bangkit, lalu menjadi pribadi yang lebih baik.


