Sajak-Sajak Rizky Maulidia, Bangkalan
Rizky Maulidia. Lahir di Bangkalan pada 13 Maret sebagai anak bungsu, Rizky Maulidia tidak memilih untuk tenggelam dalam bayang-bayang saudara-saudaranya — ia justru bersinar dengan caranya sendiri. Tumbuh di tengah dinamika keluarga Madura, ia mengasah sebuah kepribadian yang sulit diabaikan: hangat dalam sapaan, tajam dalam membaca situasi, dan tulus dalam setiap interaksi. Karakter ekstrovernya bukan sekadar senang berbicara, melainkan kemampuan alami untuk menjadikan setiap orang di sekitarnya merasa didengar dan dihargai.
Semangat itu kini ia bawa ke bangku perkuliahan. Sebagai mahasiswi semester tiga Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di Fakultas Tarbiyah, Universitas Al-Amien Prenduan, Sumenep, Rizky mendalami dunia bahasa dan keilmuan keagamaan dengan tekun. Di pesantren yang dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan bersejarah di Madura itu, ia tidak hanya belajar menerjemahkan teks — ia belajar menjembatani makna, budaya, dan manusia.
Bagi Rizky, menjadi yang termuda bukan berarti menjadi yang terakhir melangkah. Justru dari situlah ia menemukan kekuatannya: keberanian untuk tampil berbeda dan keyakinan bahwa setiap perjalanan dimulai dari keputusan untuk tidak sekadar mengikuti.
Pelita di Batas Negeri
Di bawah temaram lampu kelas yang sederhana,
Tangan-tangan kecil merajut makna.
Mengeja aksara, merangkai asa,
Menembus batas dunia yang terbuka.
Guru hadir membawa pelita,
Menghapus gelap di dalam gulita.
Tanpa lelah, tanpa meminta,
Membimbing jiwa menjadi ksatria.
Ilmu adalah jembatan baja,
Penyambung mimpi dan cita-cita.
Bangkitlah, wahai penerus bangsa,
Terangi negeri dengan karya nyata.
By: Aidiluam_sky
Searah Namun tak Sedarah
Di saat gelap menutup jalan,
Kau datang membawa terang.
Menghapus sepi, merajut tawa,
Berbagi asa dalam sesama.
Kita melangkah di atas waktu,
Dalam suka maupun duka lara.
Jarak memisah, beda tujuan,
Namun hati tetap seirama.
Terima kasih, wahai sahabat,
Tempatku pulang di kala lelah.
Engkau adalah anugerah terindah,
Yang takkan pudar oleh arah.
By: Aidiluam_sky
Rindu di Balik Dinding Pesantren
Di bawah temaram lampu kamar santri,
Kukirim rindu lewat doa yang sunyi.
Ibu, Ayah, maafkan anakmu yang jauh,
Yang menahan tangis di balik senyum teduh.
Kuberanikan melangkah, memeluk kitab suci,
Menghabiskan malam demi ridha Ilahi.
Meski lapar meradang dan penat menderu,
Kupeluk sabar demi masa depan yang baru.
Aku hanyalah si pejuang huruf hijaiyah,
Berharap kelak syafaat menutup lelah.
Doakan aku yang berjuang di tanah orang ini,
Menjadi lentera bagi agama dan negeri.
By: Aidiluam_sky
Ruang Teduh Bernama Kakak
Di antara riuhnya dunia yang tak henti mengejar,
Ada satu telinga yang selalu siap mendengar.
Saat langkahku lelah dan bimbang menepi,
Kau ada di sana, menenangkan Hati.
Tanpa kata menghakimi, tanpa sekat di dada,
Kau tampung segala resah, suka dan duka.
Menjadi rumah tempatku pulang bercerita,
Menghapus penat dengan seulas senyum nyata.
Terima kasih, Kakak, pendengar setiaku,
Yang tak pernah lelah memahami lelahku.
Pelukan hangatmu dan sabarnya hatimu,
Adalah sandaran terindah di dalam hidupku.
By: Aidiluam_sky
Pelukan Terindah
Di dalam lelah wajahmu, Ayah,
Kulihat arti sebuah keteguhan.
Langkah kakimu menembus peluh,
Demi masa depan yang penuh senyuman.
Di dalam lembut hatimu, Ibu,
Kuselami luasnya lautan sabar.
Air matamu dan doa yang tulus selalu,
Menjadi pelita saat jalanku pudar.
Ayah, Ibu, kalian adalah rumah,
Tempatku kembali saat dunia lelah.
Terima kasih atas cinta yang tak pernah lelah,
Maafkan anakmu yang sering berbuat salah.
Semoga Tuhan menjaga kalian selalu,
Memberi bahagia di sisa waktu.
By: Aidiluam_sky


