Ketika Ketua Lebih Sibuk di Luar, Organisasi Terlantar di Dalam


Berorganisasi pada dasarnya adalah proses belajar yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas. Di dalam organisasi seseorang ditempa untuk memahami arti tanggung jawab, belajar berkomunikasi dengan berbagai karakter, bekerja dalam tim, mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, sekaligus membangun jaringan sosial yang lebih luas. Proses itu berlangsung secara bertahap, mulai dari anggota biasa, kemudian dipercaya menjadi pengurus, hingga akhirnya memperoleh amanah sebagai ketua. Semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semestinya semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Namun, dalam perjalanan sebuah organisasi, ada paradoks yang kerap muncul. Seorang ketua yang pada awalnya begitu aktif mengurus kepentingan internal justru perlahan lebih sibuk dengan aktivitas eksternal setelah menduduki posisi puncak. Ia semakin dikenal, semakin banyak memiliki relasi, semakin sering menghadiri forum, dan semakin mudah berkomunikasi dengan lembaga pemerintah maupun organisasi yang lebih tinggi. Dari luar ia tampak sebagai sosok yang sangat aktif dan produktif. Tetapi pada saat yang sama, organisasi yang dipimpinnya justru mulai kehilangan perhatian.

Di sinilah persoalan kepemimpinan perlu dibicarakan secara jujur. Sebab menjadi ketua bukan hanya soal mendapatkan posisi, pengakuan, atau akses sosial yang lebih luas. Ada amanah yang harus dijaga. Ada anggota yang harus diperhatikan. Ada pengurus yang membutuhkan arahan. Ada program yang harus dijalankan. Dan ada pekerjaan rumah organisasi yang tidak akan selesai hanya karena ketuanya sibuk menghadiri berbagai kegiatan di luar.

Aktivitas eksternal sebenarnya bukan sesuatu yang keliru. Bahkan seorang ketua memang dituntut memiliki kemampuan membangun jaringan. Organisasi tidak mungkin berkembang jika hanya berputar di lingkaran internal. Kerja sama dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi lain, komunitas, dunia usaha, dan berbagai pihak dapat membuka peluang yang bermanfaat. Seorang ketua perlu hadir dalam ruang-ruang tersebut untuk membawa kepentingan organisasinya.

Masalahnya muncul ketika aktivitas eksternal tidak lagi menjadi sarana untuk memperkuat organisasi, melainkan berubah menjadi pusat perhatian sang ketua. Ketika undangan dari luar lebih menarik daripada rapat internal, ketika membangun komunikasi dengan pihak eksternal lebih dianggap penting daripada menyelesaikan persoalan pengurus, atau ketika tampil membawa nama organisasi lebih sering dilakukan daripada bekerja untuk kepentingan anggota, maka keseimbangan kepemimpinan mulai terganggu.

Ketua akhirnya menjadi sangat dikenal di luar, tetapi semakin tidak terasa kehadirannya di dalam.

Ada fenomena yang cukup ironis dalam situasi seperti ini. Nama organisasi sering dibawa ke berbagai tempat, tetapi persoalan organisasi sendiri dibiarkan menunggu. Sang ketua mungkin tampil dalam berbagai forum sebagai representasi lembaga yang dipimpinnya. Ia berbicara tentang visi, program, kerja sama, dan masa depan organisasi. Ia menjalin komunikasi dengan berbagai pihak dan mungkin berhasil mendapatkan banyak akses. Semua itu tampak mengesankan. Tetapi ketika kembali kepada rumah sendiri, rapat tidak kunjung terlaksana, program tidak jelas kelanjutannya, pengurus menunggu keputusan, sementara anggota mulai kehilangan informasi.

Organisasi seolah hanya menjadi papan nama yang dibawa ke luar.

Di sinilah kita perlu membedakan antara sibuk dan bertanggung jawab. Seseorang bisa sangat sibuk tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti bagi organisasi. Ia bisa menghadiri banyak pertemuan, bertemu banyak orang, memiliki jaringan luas, dan memenuhi hampir seluruh agenda eksternal, tetapi belum tentu berhasil menjalankan satu program internal dengan baik. Sebaliknya, seorang pemimpin mungkin tidak terlalu sering terlihat di berbagai forum, tetapi mampu memastikan organisasi berjalan, pengurus bekerja, anggota mendapatkan ruang berkembang, dan program terlaksana sesuai rencana.

Karena itu, kesibukan tidak boleh otomatis dianggap sebagai prestasi kepemimpinan. Kesibukan harus dilihat dari hasilnya. Apakah aktivitas itu benar-benar memberikan manfaat bagi organisasi atau hanya menambah daftar kegiatan pribadi seorang ketua?

Pertanyaan tersebut penting karena jabatan organisasi memiliki daya tarik tersendiri. Ketika seseorang menjadi ketua, pintu-pintu komunikasi yang sebelumnya tertutup bisa terbuka. Ia lebih mudah dikenal oleh pihak luar. Undangan datang. Relasi bertambah. Foto bersama tokoh atau pejabat menjadi sesuatu yang mungkin terjadi. Di sinilah seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengendalikan ego. Sebab sangat mudah bagi seseorang untuk lupa bahwa akses tersebut sebenarnya diperoleh karena kepercayaan organisasi.

Jangan sampai organisasi menjadi kendaraan, sementara tujuan perjalanannya adalah kepentingan pribadi.

Seorang ketua tentu boleh membangun hubungan dengan dinas pemerintah, organisasi yang lebih tinggi, lembaga lain, atau komunitas eksternal. Tetapi setiap jaringan yang dibangun seharusnya memiliki jalan pulang menuju organisasi. Jika mendapatkan peluang kerja sama, organisasi harus merasakan manfaatnya. Jika memperoleh informasi baru, pengurus dan anggota harus ikut mendapatkan pengetahuan. Jika berhasil membuka akses, akses itu seharusnya digunakan untuk memperkuat program dan kapasitas organisasi.

Jangan sampai yang dibawa pulang dari berbagai forum hanya foto, sertifikat, kartu nama, dan cerita tentang siapa saja yang telah ditemui.

Sebab organisasi tidak hidup dari dokumentasi. Organisasi hidup dari kerja.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika pengurus akhirnya hanya menjadi figuran dalam struktur organisasi. Nama mereka tercantum dalam kepengurusan, tetapi ruang untuk mengambil keputusan sangat terbatas. Semua hal harus menunggu ketua. Ketika ketua sibuk di luar, pekerjaan internal pun ikut berhenti. Pengurus tidak tahu harus berbuat apa karena pusat keputusan berada pada satu orang yang justru semakin jarang hadir.

Keadaan semacam ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata ketua terlalu banyak kegiatan di luar. Persoalannya adalah kegagalan membangun sistem kepemimpinan.

Ketua yang baik seharusnya tidak membuat organisasi bergantung sepenuhnya kepada dirinya. Ia harus mampu mendelegasikan pekerjaan, mempercayai pengurus, memberi ruang kepada anggota untuk belajar, dan menyiapkan kader penerus. Kalau setiap kegiatan harus menunggu ketua, setiap keputusan harus menunggu ketua, dan setiap komunikasi harus melalui ketua, maka yang sebenarnya sedang dibangun bukan organisasi yang kuat, melainkan ketergantungan terhadap individu.

Lebih buruk lagi jika seorang ketua merasa semua keberhasilan organisasi harus melekat pada dirinya. Ia ingin selalu hadir, selalu berbicara, selalu menjadi representasi, dan selalu berada di depan. Pada akhirnya organisasi menjadi seperti panggung pribadi. Pengurus hanya menjadi pelengkap, sementara anggota perlahan kehilangan kesempatan untuk belajar menjadi pemimpin.

Padahal, ukuran keberhasilan seorang ketua bukanlah seberapa sulit dirinya digantikan. Justru sebaliknya, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu menyiapkan orang lain agar kelak dapat melanjutkan pekerjaan yang telah dirintisnya.

Seorang ketua juga tidak harus selalu menjadi orang yang paling sering tampil. Ada waktunya ia berdiri di depan, tetapi ada pula waktunya memberikan panggung kepada orang lain. Jika ada undangan eksternal, tidak semuanya harus dihadiri sendiri. Pengurus lain dapat diberi kesempatan. Dengan begitu, jaringan tidak hanya melekat kepada ketua, tetapi menjadi milik organisasi. Pengalaman tidak berhenti pada satu orang, tetapi berkembang menjadi pengetahuan bersama.

Kepemimpinan yang sehat bukan tentang bagaimana seorang ketua semakin terkenal, melainkan bagaimana organisasi semakin kuat.

Karena itu, seorang ketua perlu sesekali berhenti dari hiruk-pikuk dunia luar dan melihat kembali keadaan rumahnya sendiri. Apakah program berjalan? Apakah pengurus bekerja dengan nyaman? Apakah anggota masih memiliki semangat? Apakah komunikasi internal berlangsung baik? Apakah keputusan dapat diambil tanpa harus menunggu dirinya setiap saat? Dan yang paling penting, apakah kehadirannya benar-benar membuat organisasi berkembang?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada berapa banyak undangan yang diterima atau berapa banyak tokoh yang dikenal.

Pada akhirnya, jabatan ketua adalah amanah, bukan tiket sosial. Ia bukan fasilitas untuk memperluas popularitas pribadi, bukan pula kendaraan untuk memperoleh pengakuan dari dunia luar. Ketika nama organisasi digunakan untuk membuka pintu, maka pintu yang terbuka itu semestinya kembali diperuntukkan bagi organisasi.

Ketua boleh dikenal di luar, tetapi jangan sampai asing di dalam. Boleh membangun jaringan dengan banyak pihak, tetapi jangan kehilangan komunikasi dengan anggota. Boleh hadir dalam berbagai forum, tetapi jangan meninggalkan pekerjaan yang sudah dipercayakan. Sebab organisasi bukan panggung untuk menunjukkan betapa hebat seorang pemimpin, melainkan ruang bersama untuk bekerja, belajar, tumbuh, dan memberi manfaat.

Pada akhirnya, sejarah sebuah organisasi tidak akan terlalu sibuk mencatat berapa banyak forum yang pernah dihadiri ketuanya. Yang akan terasa justru apa yang ditinggalkan setelah masa kepemimpinannya berakhir: apakah organisasi menjadi lebih kuat atau semakin rapuh, apakah kader tumbuh atau justru bergantung, apakah program berkembang atau terlantar.

Sebab pemimpin yang baik bukanlah orang yang paling sering terlihat di luar. Pemimpin yang baik adalah orang yang tetap bertanggung jawab ketika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada siapa pun yang sedang memperhatikannya.

Dan mungkin pertanyaan paling jujur bagi seorang ketua adalah ini: ketika saya sibuk membangun nama di luar, apakah organisasi yang saya pimpin benar-benar ikut tumbuh, atau sebenarnya hanya nama saya yang semakin besar?

Jika yang tumbuh hanya nama pribadi, mungkin yang sedang berkembang bukan organisasi.

Mungkin hanya egonya.

(Catatan Rulis)

Tulisan terkait

Utama 704122409745573422

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item