Sajak-Sajak Sultan Maulana Al Wahid, Lampung


Sultan Maulana Al Wahid
adalah pemuda yang tumbuh bersama ilmu dan mimpi. Ia pernah mengenyam pendidikan di SMA An-Nashih, Bumi Agung, Way Kanan, Lampung. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, mengabadikan rasa, dan memberi makna kepada pembaca. Kini, ia menekuni dunia kepenulisan sastra dan terus menjadikan kata sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.


Indahnya mencari Ilmu

Di jalan panjang yang belum selesai,
aku berjalan membawa seberkas tanya
bukan untuk menaklukkan dunia,
melainkan agar tak tersesat di dalamnya.

Setiap huruf yang jatuh ke ingatan
menjadi cahaya kecil di dada;
menyalakan ruang-ruang yang pernah gelap,
membuka pintu yang tak terlihat oleh mata.

Aku belajar dari sunyi,
dari halaman yang tak pernah lelah terbuka,
dari kesalahan yang diam-diam mengajariku
bahwa tumbuh adalah perjalanan tanpa akhir.

Ilmu tak pernah kehilangan cahayanya
meski dibagikan kepada banyak tangan.
Ia bukan harta yang disimpan dalam genggaman,
melainkan sungai
semakin mengalir, semakin luas kehidupan.

Maka biarkan langkah ini terus mencari,
meski jalan kadang dipenuhi keraguan.
Sebab di setiap pengetahuan yang kutemukan,
ada satu nama yang semakin kukenal:
Tuhan,
yang menitipkan cahaya
kepada mereka yang tak berhenti bertanya.

Dan jika kelak langkahku sampai di ujung usia,
biarlah ilmu menjadi jejak yang tertinggal
bukan tentang seberapa tinggi aku berdiri,
tetapi tentang berapa banyak gelap
yang pernah kubantu menjadi terang.



Meraih impian

Jalan ini tak selalu terang,
kadang langkahku dipatahkan lelah,
kadang harapan hampir kehilangan arah.

Namun aku belajar
mimpi tidak tumbuh dari kemudahan,
ia lahir dari keberanian
untuk tetap berjalan
setelah berkali-kali jatuh.

Keringat adalah saksi,
air mata adalah doa
yang diam-diam mengetuk langit.

Aku tak takut berjalan perlahan,
sebab setiap langkah
membawaku lebih dekat
pada impian yang kusematkan dalam doa.

Dan jika hari ini belum sampai,
aku akan terus percaya:
selama usaha tak berhenti
dan doa tak kehilangan langit,
tak ada mimpi
yang benar-benar sia-sia.



Jejak yang Ditulis Langit

Langkah tak selalu tahu arah,
kadang cahaya, kadang kabut.
Namun setiap luka
diam-diam mengajarkan kuat.

Ada pertemuan yang menghangatkan,
ada perpisahan yang mendewasakan.
Sebab hidup bukan tentang tiba,
melainkan tentang tumbuh
di setiap kehilangan.

Pernah aku hampir menyerah,
ketika jalan terasa terlalu panjang.
Namun harapan selalu berbisik:
“Jangan berhenti hanya karena lelah,
sebab fajar pun lahir
setelah malam yang panjang.”

Kini aku belajar menerima
tak semua jalan harus kupahami,
tak semua kehilangan harus kusesali.
Barangkali Tuhan menyembunyikan jawaban
di balik perjalanan
yang belum selesai.

Jika hari ini langkahku lelah,
biarlah air mata menjadi doa.
Aku akan tetap berjalan,
sebab Tuhan tak pernah keliru
menuliskan jalan pulang.

Dan bila kelak aku tiba
di ujung perjalanan,
aku ingin tersenyum pada setiap luka
sebab ternyata,
jejak yang pernah kupikir sia-sia
adalah jalan yang membawaku
menjadi diriku sendiri.



Cahaya dari Retak

Tidak semua luka
datang untuk menghancurkan.
Sebagian hadir seperti malam
gelap, tetapi diam-diam
menyiapkan pagi.

Aku pernah berjalan
melewati hari-hari yang kehilangan warna,
membawa hati yang retak
seperti tanah kering
menunggu hujan pertama.

Kukira retak berarti selesai.
Ternyata, dari celah yang terbuka
cahaya menemukan jalan
untuk menyentuh bagian diri
yang lama kusembunyikan.

Aku belajar dari sunyi:
bahwa kehilangan tidak selalu berarti kekosongan,
kadang ia hanya cara kehidupan
mengosongkan ruang
untuk sesuatu yang lebih baik.

Kini, luka-luka itu
tidak lagi ingin kuhapus.
Kubiarkan menjadi garis-garis kecil
di peta perjalanan hidupku
penanda bahwa aku pernah tersesat,
namun akhirnya menemukan arah.

Sebab tumbuh bukan tentang
menjadi seseorang tanpa luka,
melainkan tentang tetap menyalakan harapan
meski pernah berada
di musim paling gelap.

Dan jika suatu hari
takdir kembali mematahkan langkahku,
aku akan mengingat satu hal:

bahkan langit yang paling kelam
menyimpan fajar di baliknya.

Sebab luka pun memiliki musim.
Ia akan mengering,
menjadi bekas yang tak lagi menyakitkan,
lalu dari tempat yang pernah patah itu
tumbuh sesuatu yang tak pernah kuduga:cahaya.



Langkah yang Tak Pulang

Aku melangkah membawa mimpi,
meski jalan tak selalu bersedia
membuka pintunya dengan mudah.
Kadang langkahku patah oleh lelah,
kadang harapan hanya tinggal
seberkas cahaya di ujung resah.

Namun aku belajar,
tak semua perjalanan harus dilawan;
ada yang cukup dijalani
dengan hati yang ikhlas
dan keyakinan yang perlahan.

Jika hari ini terasa berat,
aku tak ingin pulang.
Sebab mimpi bukan tentang
seberapa cepat aku sampai,
melainkan seberapa lama
aku mampu bertahan.

Biarlah peluh menjadi saksi,
bahwa aku pernah hampir menyerah,
namun memilih bangkit
setiap kali jatuh.

Aku percaya,
jalan yang ditempuh dengan sabar
akan menemukan akhirnya sendiri.
Sebab selama langkah masih menyala,
mimpi belum pernah benar-benar pergi.

Maka biarkan aku berjalan
pelan, meski tertatih;
jauh, meski letih.

Karena aku tahu,
tidak semua mimpi harus dikejar
dengan langkah yang sempurna.
Kadang ia hanya membutuhkan
hati yang ikhlas,
doa yang panjang,
dan keberanian untuk berkata:

“Aku lelah,
tetapi aku tidak akan menyerah.”

Tulisan terkait

Utama 374643303430656087

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon


Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item