Sajak Emha Izzul Maromy, Annuqayah


Emha Izzul Maromy
merupakan seorang santri di PPA. Annuqayah Lubangsa Utara. Dan pernah mengemban Amanah sebagai ketua sanggar sabda selama 2 periode. ia dapat disapa melalui akun Instagram @emha_romy


Hujan Bulan Juli

Hujan bulan juli perlahan gugur malam ini.
Rintih kodok sawah kemarin malam menguap,
basah,
lalu jatuh.

Sedang aku masih sibuk menyumpahi diri.
"Bangunlah!
Tubuhmu bukan akar pohon yang terpaku diatas sepon.
Mengembara bukan hanya didalam hayal. Dan cinta tidak selamanya di media sosial."

Angin mendobrak daun jendela.
Rahang bawahku menggigil.
Dingin.

Dengan gagahnya tangan kananku memberontak.
Mengambil lembar selimut paling tebal
Dan menyembunyikan diriku dalam gelapnya malam.
"Selamat tidur"

Sial.
Mulutku juga ikut memberontak.

Jember, 2026



Merah dan Putih

Merah putih masih disana
Naik perlahan tanpa iringan orkestra Indonesia raya.
Berdiri, berbaris, lalu menundukkan kepala sambil Meraba manuskrip lama Indonesia.

Pendahulu kita
Menyatu dengan merah darahmu,
Mengakar pada putih tulangmu,
Lalu binasa bersama bambu runcing mereka.
Untuk bumi Garuda.
Indonesia raya.

Merah putih masih disana.
Dan diriku masih disini
Setia mendongakkan kepala.
Sesekali marapal doa untuk mereka.

Pendahulu kita.

Jember, 2026



Pertanyaan
Untuk: tiara

Nama dan fotomu tergambar jelas dipojokan layar instagram.
Kata dari masing-masig kita berhimpitan
Memperebutkan keagungan tuhan.

kita mencari makna ada dalam notifikasi yang sungguh beda dari biasanya.
Dari teologi hingga sajak matahari,
Dari tauhid hingga kata syahid,
Juga keyakinan yang perlahan pudar dibawah kemungkinan.

Kuselipkan tanda Tanya dalam sakumu.
Apakah dia yang menciptakan kita?
Atau kita yang lancang menerka wajah yang sebenarnya tak ada?

Lenteng, 2026



Rindu dalam Fotomu

Untuk mengingatmu
Barangkali aku tak perlu membaca gugur daun di halaman, tak perlu terjemahkan siul angin pada awan, juga tak perlu menulis rembulan di telapak tangan.

Cukup pejamkan do’a dan tetes air mata.

Tapi sudahlah
Aku tak ingin lagi mengingat itu.
Sudah lama kubingkai rindu dalam fotomu
Dan pura pura tidur dipangkuanmu.

Annuqayah, 2026



Perihal Puisi

Garis halus parabola pada kelopak mata
Mengembang dan menghitam.
Menjadi penanda
Bahwa waktu tak pernah padam,
Bahwa makan tak lagi mengenyangkan,
Juga terpejam tak lagi membuat nyaman.

Benar adanya,
Puisi tak bisa membakar waktu,
Puisi tak bisa mengisi lambungmu,
Apalagi mencium keningmu Ketika malam sudah berkumandang.

Namun,
Puisi akan terus abadi.
Berupa karya
Ataupun
Sekedar kertas tanpa tinta.

Lubtara, 2026



Dibalik Kopiah

Ayah,
Apa yang kau pikirkan dibalik kopiah lusuhmu itu?
Mimpi.
Kenangan.
Atau doa yang tak sempat sampai pada tuhan?

Lenteng, 2026



Doaku Padamu
Untuk: ilung pordepor

Dia berjalan dihadapan kita
Sambil menutup mata

Dirimu bangga.
Dan sesekali melantunkan melodi cinta.
“aku tak mampu melupa doa
Yang terselip di ketiaknya.”

Aku ikut menatapnya
Namun dengan semburat dendam.

“semoga, dirimu dan harapanmu
Tak lagi menatap bunga buruk rupa
Macam dia.”

Lubtara, 2025

Tulisan terkait

Utama 6031908381407302560

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Pribahasa Lokal dalam Pentigraf

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item