Sajak-Sajak Hening Nubailul Asyraf


Nubailul Asyraf,
merupakan alumnus MI Nurul Islam sekaligus siswa MAT Annuqayah yang mendamba ilmu sebagai karibnya dan berkhalwat di P.P.A.Lubangsa Utara.


Seorang Penyair

Seorang penyair
Adalah ia yang menghendaki lajang
Pada usang
Yang bising
Dan bau pesing
Bukan politisi
Yang mencipta ilah
Pada suara pasrah,lelah
Dari kaum bawah
Kala Subuh petang
Menyingsutkan bintang.

Seorang penyair
Adalah rupa dari ia
Yang meluruhkan lara
Serta elok hidupnya
Dengan wasilah tinta
Bukan orang hukum
Yang bisu, diam
Di kerling mata
Kepunyaan korporasi raksasa
Lebih molek
Dari selangkangan wanita
Tak pernah dijamah pria
Meniscayakan ia merdeka
Melafal segala dusta.

Seorang penyair
Adalah ia yang doanya pena
Dan dzikirnya kata-kata
Bukan ahli energi
Apalagi alam hewani
Yang mengaji maaf ribuan kali
Perihal kealpaan sunyi
Menguar sebab deforestasi,
Tambang menjadi-jadi,
Dan kebun sawit yang mendominasi
Atau gempa bumi,
Banjir, dan rumah-rumah sepi
Bersenggama dengan kayu-kayu mati
Refleksi sampah manusia
Yang lupa pancasila.

Seorang penyair
Adalah ia yang dalam khali
Dunianya mengalir
Yang pada hening
Merenung,
Meraba kidung
Wartakan sajak dalam relung.

Lubtara ‘26



Irama Bisu di Rak Buku

Kaligrafi-kaligrafi yang berpendar
Kini menapaki pudar
Terpaut dari malam
Mulai amdam-karam
Menjelma tanju
Pada selaksa adam
Lindanglah temaram.

Ketika indra meraba
Irama bisu
Bertalu-talu dari rak buku
“Aku ingin mereka mengeja abjad,
Berabad tak dijamah,
Barang beberapa adad
Serupa meniti dengan besi
Tak terpermanai
Untuk pemampatan
Yang setia mereka amini.”

“Seperti mereka menyeduh kopi
Dengan air laut yang tawar
Musabab pohon-pohon plastik mengakar
Ikan pun kehilangan tabah
Berpindah, tak betah
Pada berjuta butir pasir
Menguar harum anyir.
Iya mengeja jemari,
Mengaji mata
Kesemuanya sunyi.”

Jibril di atas awan
Mengadu pada Tuhan
Ihwal mereka yang payah
Sekedar menafikan sampah.

Di pengujung irama
Harkat hina menyapa.

Lubtara ‘26



Pertalian Denganmu
:Lubtara

Dari tapak awal, hingga
Sebelum menjadi memoar
Kueja kembali
Segala hal yang telah aku uji
Perihal azimat
Dengannya tak pernah terikat,
Tirakat, tentu karena inayat.

Denting waktu menderu
Tiba pada titik temu
Aku yang akan merindu
Tapi, tak baik selalu begitu.

Dalam dirimu
Aku didayu
Oleh aksara bisu
Tapi berdialog dengan kalbu
Hingga aku mekar
Harum daun pohon dilam
Dari lopak
Jadi mata air, terus mengalir.

Tentu, tak ada ragu pada hal itu
Air mata akan mengalir
Kala mulai menjauh dari hilir
Tempatku minum,
Menawar dahaga
Membaca, mengenal segala bahasa.

Riuh kenakalanku di masa silam
Menjadi tepekur
Bahwa tuhan tak tersinggung
Saat aku yang lacur
Masih memohan untung.

Aku ada janji
Yang akan menjelma tali
Antara aku dan dirimu
Merekat, mengikat
Tapi, tak perlu kau sangsi
Karena hanya dariku yang kecil ini
“Aku tak akan layuh
Dan kau akan tetap utuh”

MAT,26



Amor Yang Kongkalikong

Dalam kamus sanskerta
Kudapati etimologi Sinta
Yang setia pada Rama
Aku memang bukan wanita sepertinya
Tapi, ketika belati menikam
Membedah, mendedah
Hanya empedu dan namamu
Yang bertutur rindu.

Setiap kelok subuh
Fajar melepuh
Matahari yang mulai layuh
Ranum parasmu merupa di kembang purnama
Tidak sekilas, tak pernah lekas-lekas
Entah kasih
Atau hanya rintih
Diar tetap perih.

Kecapi bukan lagi tentang puisi
Ia mewariskan api
Tak kudengar desar
Atau bara yang kehilangan pendar.
Barangkali, Tuhan tersandung
Sungguh, jelita wajahmu tak terhitung
Yang buruk laku
Mendayu, aku lelap di kotamu.
Semuanya hanya tabu.

Lubtara ‘26



Taram

Tumbuhan perdu syahdu
Mengeja madah, memuja
Renyai-renyai paras bulan
Seakan bercermin
Pada kilap janur
Pohon kelapa
Yang berbuah si malakama
Angin sendalu, mendayu
Gelisah, pada cinta kecambah.

Aku asyik-masyuk
Mengaji bahasa penanggalan
Dengan ranum rembulan
Sedang subuh
Mulai membekas pada tubuh
Lidahku masih saja lumpuh
Seakan sapa
Dalamnya perlina, mendera
Taram yang aku baca
Dengan syahda
Mulai mengetam, bertukar peran.

Lubtara ‘26



Kubil dan Izrail

Siang masih nakal
Dengannya tubuhku Kemal
Terik menjelma cemeti, mencambuk
Aku misuh, mengeja peluh.

Aku memapas malas
Beralas tapak
Kuajak lekas
Di jalan
Kudengar debu melenguh:
Matahari bebal!, menyerlah.

Dalam sekawan jejak
Seakan kurasa empuk bakal daging
Meski belum kurayu pemantik,
Air melepuh, melentik.

Harum yang seharusnya cempaka
Menguar lacur aroma
Menyalak tanya:
Adakah tunas di dalamnya?.
Selepas bercak hitam
Menyapa tangan
Aku tak jemu
Mentalak debu.
Ketika ambu itu kubil
Aku telah menjelma Izrail.

Lubtara ‘26

Tulisan terkait

Utama 8483492082756240627

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item