Jumat Pertama di Masjidil Haram
Menjemput Berkah di Hadapan Baitullah
Setiap jemaah haji memiliki momen-momen yang tak mudah dilupakan selama berada di Tanah Suci. Bagi kami, salah satunya adalah kesempatan menunaikan salat Jumat pertama di Masjidil Haram. Bukan sekadar menunaikan kewajiban mingguan, melainkan sebuah pengalaman spiritual yang menghadirkan rasa syukur, haru, sekaligus kesadaran akan kebesaran Allah SWT.
Hari itu kami belajar bahwa keberkahan sering kali menghampiri mereka yang bersedia mempersiapkan diri lebih awal. Dengan melangkah lebih cepat, Allah memperkenankan kami memperoleh tempat yang begitu dekat dengan Ka'bah, sehingga setiap detik penantian menjelang salat Jumat menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah, doa, dan perenungan.
Oleh: Ahmad Rasyid el-Haromain
Jumat pertama kami di Makkah, 15 Mei 2026, menjadi salah satu momen paling berkesan dalam seluruh rangkaian perjalanan haji tahun ini.
Seusai salat Subuh, sebuah informasi beredar melalui grup WhatsApp Kloter 78, kemudian diteruskan ke grup KBIH Al-Munawwarah Sumenep. Pesannya sederhana, tetapi sangat penting. Jemaah yang ingin menunaikan salat Jumat di Masjidil Haram diminta bersiap sejak pukul 08.00 waktu Arab Saudi. Bus dari Hotel 410 akan diberangkatkan lebih awal. Siapa yang terlambat, besar kemungkinan harus melaksanakan salat Jumat di masjid lain karena Masjidil Haram akan dipadati jutaan jemaah.
Mendengar informasi tersebut, kami yang menempati kamar 922 di lantai 9 Hotel Mahd Ar-Ressalah segera berkoordinasi. Ada Bapak Su'udi, Bapak Surakwi, Bapak Sa'mad—ketiganya berasal dari Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep—serta saya sendiri. Bersama Ketua Regu 9, Ahmad Faiz, kami sepakat berangkat lebih awal agar tidak kehilangan kesempatan yang sangat berharga itu.
Alhamdulillah, sekitar pukul 07.30 pagi kami telah meninggalkan hotel. Udara pagi Makkah masih terasa sejuk dan menyenangkan. Setelah turun di Terminal Syib Amir, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Masjidil Haram. Langkah demi langkah terasa ringan karena hati dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan.
Sesampainya di Masjidil Haram, kami memasuki kompleks masjid dengan membaca doa masuk masjid:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
Artinya:
"Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Sejahtera dan dari-Mulah segala kesejahteraan. Maka hidupkanlah kami dalam keselamatan dan masukkanlah kami ke dalam surga, negeri penuh kedamaian. Maha Berkah Engkau, wahai Tuhan Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu."
Atas izin Allah, kami memperoleh tempat yang sangat baik di lantai dasar dengan pandangan yang relatif dekat ke arah Ka'bah. Sebuah nikmat yang tidak mudah diperoleh mengingat jumlah jemaah yang terus berdatangan sejak pagi.
Yang lebih membahagiakan lagi, posisi kami menghadap ke arah Multazam, yaitu area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah yang dikenal sebagai salah satu tempat mustajab untuk memanjatkan doa.
Selain Multazam, para ulama juga menyebut beberapa tempat yang dianjurkan untuk memperbanyak doa, antara lain di belakang Maqam Ibrahim, di Hijr Ismail (Al-Hatim), ketika tawaf terutama di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, saat pertama kali memandang Ka'bah, serta di dalam Ka'bah bagi orang-orang yang mendapat kesempatan memasukinya.
Sulit rasanya melukiskan perasaan ketika itu. Di hadapan kami berdiri Baitullah yang selama bertahun-tahun hanya dapat kami lihat melalui foto, video, buku, dan layar televisi. Kini Allah memperkenankan kami memandangnya secara langsung.
Sambil tak henti-hentinya memandang Ka'bah yang begitu anggun dan agung, saya memanjatkan doa:
اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَعَظَّمَهُ وَكَرَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَبِرًّا.
Artinya:
"Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kewibawaan kepada Baitullah ini. Tambahkan pula kepada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya, yaitu mereka yang berhaji dan berumrah, kemuliaan, keagungan, kehormatan, serta limpahan kebaikan."
Waktu menuju salat Jumat masih cukup panjang. Kami mengisinya dengan salat sunnah, membaca Al-Qur'an, berzikir, beristigfar, dan memperbanyak doa. Sesekali pandangan kembali tertuju kepada Ka'bah.
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Memandang Ka'bah dalam waktu yang lama sama sekali tidak menimbulkan rasa bosan. Sebaliknya, hati justru semakin tenteram, damai, dan seolah menemukan rumahnya.
Di sela-sela ibadah, kami juga meminum air Zamzam sambil membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا وَاسِعًا، وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَسَقَمٍ
Artinya:
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, serta kesembuhan dari segala penyakit dan kelemahan."
Di hadapan Baitullah, saya merenung. Jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia datang dengan bahasa, warna kulit, budaya, dan latar belakang yang berbeda. Namun semuanya menghadap kiblat yang sama, menyembah Tuhan yang sama, dan membawa harapan yang hampir serupa: memohon ampunan, rahmat, serta keberkahan dari Allah SWT.
Di sinilah salah satu hikmah terbesar ibadah haji. Manusia belajar bahwa pada hakikatnya semua sama di hadapan Allah. Jabatan, kekayaan, gelar, dan kebanggaan dunia perlahan luruh ketika setiap orang mengenakan pakaian ihram dan berdiri sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta.
Kami juga belajar bahwa kesempatan meraih keutamaan ibadah sering kali menuntut kesiapan dan sedikit pengorbanan. Berangkat lebih awal ternyata menghadirkan keberkahan yang luar biasa. Allah mempertemukan kami dengan tempat yang sangat baik untuk menikmati suasana Masjidil Haram sekaligus memperbanyak amal sebelum salat Jumat dimulai.
Menjelang azan berkumandang, suasana Masjidil Haram semakin padat. Ribuan bahkan jutaan jemaah memenuhi setiap sudut masjid. Namun anehnya, di tengah lautan manusia itu hati justru terasa semakin lapang. Kami merasakan kedekatan yang begitu dalam dengan Allah SWT, sebuah kenikmatan ruhani yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Insya Allah, selama beberapa pekan berada di Makkah Al-Mukarramah, kami ingin memanfaatkan setiap detik sebaik-baiknya untuk beribadah. Sebab, tidak seorang pun mengetahui apakah Allah masih akan memberikan kesempatan untuk kembali memenuhi undangan mulia ke Tanah Suci ini.
Semoga setiap langkah, setiap sujud, setiap doa, dan setiap tetes air mata yang kami persembahkan di hadapan Baitullah menjadi bagian dari ikhtiar menuju haji yang mabrur, serta membawa perubahan yang lebih baik dalam kehidupan kami sepulang dari Tanah Suci.
Makkah Al-Mukarramah, 15 Mei 2026
Tulisan bersambung


