Menyusuri Jejak Cinta di Awal Dzulhijjah

Safari Haji Menuju Masjid Al-Jinn dan Jannatul Ma'la

Penulis bersama istri

Tidak semua perjalanan meninggalkan jejak pada telapak kaki. Ada perjalanan yang justru membekas lebih dalam di relung hati. Demikian pula safari haji di awal bulan Dzulhijjah. Bukan sekadar mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Makkah, tetapi menyusuri jejak dakwah Rasulullah ﷺ, mengenang perjuangan orang-orang saleh, sekaligus memperbarui ikatan spiritual kepada Allah SWT.

Pada hari itu kami menyadari bahwa setiap sudut Tanah Suci menyimpan kisah yang menghidupkan iman. Setiap langkah bukan hanya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan batin yang mengajarkan makna cinta, pengorbanan, dan keteladanan.

Oleh: Ahmad Rasyid el-Haromain

Ada perjalanan yang diukur dengan kilometer. Ada pula perjalanan yang diukur dengan getaran hati. Safari haji pada Senin, 18 Mei 2026, bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah, terasa termasuk perjalanan jenis yang kedua.

Pukul 02.00 dini hari, ketika sebagian besar manusia masih terlelap, rombongan KBIH Al-Munawwarah Sumenep yang dipimpin oleh Lora Roiq memulai perjalanan dari Hotel Mahd Ar-Ressalah di kawasan Raudhah, Makkah.

Udara malam masih terasa sejuk. Jalan-jalan kota belum dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki. Di tengah keheningan itu, semangat para jemaah justru tampak menyala. Mungkin karena setiap langkah di Tanah Suci selalu menyimpan cerita, hikmah, dan makna yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tujuan pertama kami adalah Masjidil Haram. Menjelang azan Subuh, kami tiba di pelataran masjid. Di hadapan Ka'bah, kiblat umat Islam sedunia, hati terasa begitu kecil di hadapan kebesaran Allah SWT, namun sekaligus dipenuhi harapan yang tak terhingga.

Awal bulan Dzulhijjah kami sambut dengan salat Subuh berjamaah, zikir, tilawah Al-Qur'an, dan doa-doa yang mengalir dari kedalaman hati. Setiap jemaah membawa harapan yang berbeda-beda, tetapi semuanya bermuara pada tujuan yang sama, yaitu meraih rida Allah SWT.

Usai salat Subuh, perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Al-Jinn. Meskipun kami tidak memasuki area masjid, Lora Roiq memberikan penjelasan yang sangat menarik mengenai sejarah tempat tersebut.

Masjid Al-Jinn terletak sekitar 1,5 kilometer di sebelah utara Masjidil Haram, tidak jauh dari kompleks pemakaman Jannatul Ma'la. Nama masjid ini diambil dari peristiwa ketika sekelompok jin mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang dibacakan oleh Rasulullah ﷺ, kemudian mereka beriman kepada Allah SWT.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam firman Allah SWT pada Surah Al-Jinn ayat 1:

"Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan yang sangat menakjubkan.'"

Kisah ini mengingatkan kami bahwa risalah Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Dakwah Rasulullah ﷺ tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada bangsa jin. Yang lebih mengagumkan, dakwah itu tidak dibangun dengan paksaan, melainkan dengan kelembutan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan.

Dari Masjid Al-Jinn, perjalanan dilanjutkan menuju Maqbarah Jannatul Ma'la, kompleks pemakaman tertua dan paling bersejarah di Kota Makkah.

Di tempat yang penuh ketenangan itu, kami mendengarkan penjelasan mengenai sejumlah tokoh besar Islam yang dimakamkan di sana. Nama yang paling sering disebut adalah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid r.a., istri pertama Rasulullah ﷺ, perempuan mulia yang menjadi penopang utama perjuangan dakwah Islam pada masa-masa awal. Dengan cinta, pengorbanan, dan keteguhan imannya, beliau menjadi teladan sepanjang zaman.

Disebut pula nama ulama kharismatik Indonesia, KH. Maimun Zubair dari Rembang, Jawa Tengah, yang juga dimakamkan di kawasan tersebut. Kehadiran makam beliau menjadi pengingat bahwa ulama Nusantara pun memiliki ikatan sejarah yang erat dengan Tanah Suci.

Kami memang tidak dapat melihat satu per satu makam yang berada di dalam kompleks pemakaman. Selain kawasan tersebut memiliki aturan khusus, sebagian anggota rombongan kami adalah kaum perempuan yang tidak memasuki area maqbarah. Namun dari luar pagar, kami tetap mengirimkan salam, membacakan doa, dan menghadiahkan Al-Fatihah kepada mereka yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT.

Di sela-sela perjalanan, para jemaah mengabadikan momen dengan berfoto bersama. Sepintas, kegiatan itu tampak sederhana. Namun sesungguhnya setiap jepretan kamera menyimpan rasa syukur yang mendalam. Tidak semua orang memperoleh kesempatan menapakkan kaki di Tanah Suci. Dengan panjangnya masa tunggu haji di Indonesia dan terbatasnya kuota setiap tahun, setiap detik yang dilalui di Makkah terasa sebagai nikmat yang tak ternilai.

Safari singkat pagi itu menyisakan pelajaran yang begitu mendalam. Kami menyadari bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, melainkan perjalanan menyusuri jejak cinta.

Cinta kepada Allah SWT yang berkenan memanggil hamba-Nya menjadi tamu di Baitullah.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ yang jejak perjuangan, dakwah, dan akhlaknya masih terasa hidup hingga hari ini.

Dan cinta kepada para sahabat, keluarga Nabi, ulama, serta orang-orang saleh yang telah mewariskan keteladanan bagi generasi sesudahnya.

Ketika menapaki tempat-tempat yang pernah menjadi saksi sejarah Islam, kami semakin memahami bahwa keimanan bukan hanya diwariskan melalui bacaan dan cerita, tetapi juga melalui keteladanan hidup. Sejarah bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk dihayati dan diamalkan.

Semoga setiap langkah yang kami ayunkan pada awal bulan Dzulhijjah ini menjadi penguat iman, penambah rasa syukur, serta penumbuh kerinduan kepada Rasulullah ﷺ dan Tanah Suci.

Sebab, pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa jauh kaki melangkah, melainkan seberapa dekat hati kita kepada Allah SWT.

Makkah Al-Mukarramah, 18 Mei 2026

Tulisan bersambung

  1. Menyambut Panggilan Ilahi
  2. Menanti dengan Sabar, Menyempurnakan Umrah
  3. Jumat Pertama di Masjidil Haram
  4. Menyusuri Jejak Cinta di Awal Dzulhijjah

Tulisan terkait

Utama 2424640949568289268

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item