Menapaki Jejak Baiat Aqabah: Menyemai Semangat Hijrah Menjelang Puncak Ibadah Haji

 


Oleh: Ahmad Rasyid el-Haromain

Mekkah, 19 Mei 2026 (2 Zulhijah 1447 H). Pagi itu langit Kota Suci Mekkah tampak cerah. Udara masih terasa sejuk dan bersahabat ketika 122 jamaah KBIH Yayasan Al Munawaroh Sumenep bersiap mengikuti kegiatan jalan sehat menuju kawasan Jamarat Aqabah di Mina. Tepat pukul 07.00 waktu Arab Saudi, rombongan memulai langkah dari Hotel Mahd Ar-Ressalah dengan penuh semangat.

Sekilas kegiatan tersebut tampak seperti jalan-jalan sehat pada umumnya. Namun, bagi para calon tamu Allah, setiap langkah yang diayunkan sesungguhnya merupakan bagian dari pembelajaran spiritual sekaligus persiapan menghadapi puncak ibadah haji yang tinggal beberapa hari lagi. Perjalanan ini bukan sekadar melatih kekuatan fisik, tetapi juga memperkaya pemahaman sejarah dan makna di balik setiap tempat yang akan dilalui selama pelaksanaan ibadah haji.

Tujuan pertama rombongan adalah Masjid Bai'atul Aqabah atau Masjid Al-Bai'ah yang berada di kawasan Mina, sekitar 300 meter dari Jamrah Aqabah. Masjid bersejarah ini terletak di sisi kanan Jembatan Jamarat jika menghadap ke arah Makkah dan berada di kawasan Wadi Mina. Meski bangunannya sederhana, tempat ini menyimpan salah satu peristiwa paling menentukan dalam perjalanan dakwah Islam.

Di lokasi inilah jamaah mendapatkan penjelasan dari Lora Roiq mengenai peristiwa Baiat Aqabah, sebuah momentum bersejarah yang terjadi sebelum hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah. Peristiwa tersebut menjadi titik balik perkembangan Islam karena melibatkan Rasulullah ﷺ dan penduduk Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai kaum Anshar.

Lora Roiq menjelaskan bahwa Baiat Aqabah Pertama berlangsung pada tahun ke-12 kenabian atau tahun 621 M. Sebanyak 12 orang dari suku Aus dan Khazraj datang menemui Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanan dan kesetiaan mereka. Mereka berjanji tidak akan menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berdusta, serta senantiasa taat kepada Rasulullah ﷺ dalam segala perkara yang baik.

Baiat tersebut menjadi awal berkembangnya Islam di Yatsrib. Setelah peristiwa itu, Rasulullah ﷺ mengutus Mus'ab bin Umair sebagai duta dakwah untuk mengajarkan Al-Qur'an dan nilai-nilai Islam kepada masyarakat setempat. Kehadiran Mus'ab membawa perubahan besar hingga Islam berkembang pesat di kota tersebut.

Setahun kemudian, tepatnya pada tahun ke-13 kenabian atau 622 M, berlangsung Baiat Aqabah Kedua yang memiliki arti jauh lebih besar. Sebanyak 75 orang dari kaum Anshar, terdiri atas 73 laki-laki dan dua perempuan, yakni Nusaibah binti Ka'ab dan Asma binti Amr, datang menyatakan baiat kepada Rasulullah ﷺ. Beberapa tokoh penting yang hadir dalam peristiwa itu antara lain Al-Abbas bin Abdul Muthalib, Sa'ad bin Mu'adz, As'ad bin Zurarah, dan Abdullah bin Rawahah.

Berbeda dengan baiat pertama, Baiat Aqabah Kedua bukan hanya berisi ikrar keimanan, tetapi juga komitmen untuk melindungi Rasulullah ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga sendiri. Kesepakatan inilah yang kemudian menjadi landasan hijrah Rasulullah ﷺ beserta kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, sekaligus menjadi cikal bakal terbentuknya masyarakat Islam yang kokoh dan lahirnya negara Islam pertama di Madinah.

Karena itulah, berziarah ke Masjid Bai'atul Aqabah bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah. Tempat ini mengajarkan nilai-nilai kesetiaan, keberanian, pengorbanan, dan komitmen dalam membela agama Allah. Sejarah yang selama ini hanya dibaca dalam buku terasa begitu hidup ketika didengarkan langsung di tempat peristiwa itu berlangsung. Kami seolah diajak menyaksikan bagaimana sekelompok kecil orang beriman mampu mengubah arah perjalanan sejarah melalui keteguhan iman dan keberanian mereka.

Usai menelusuri jejak Baiat Aqabah, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Jamarat Aqabah. Di lokasi inilah para jamaah memperoleh penjelasan sekaligus praktik lapangan mengenai tata cara melempar jumrah yang akan dilaksanakan pada 10, 11, 12, dan 13 Zulhijah. Penjelasan dilakukan secara langsung agar jamaah memahami jalur, lokasi, waktu, serta teknis pelaksanaan ibadah dengan benar.

Bagi sebagian jamaah, khususnya mereka yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji, praktik lapangan ini menghadirkan rasa tenang. Kecemasan yang sebelumnya muncul perlahan berganti dengan keyakinan karena mereka telah melihat langsung medan yang akan dihadapi. Persiapan seperti inilah yang menjadi salah satu kunci agar ibadah dapat dijalankan dengan lebih tertib, aman, dan khusyuk.

Selama kegiatan safari haji tersebut, Lora Roiq selaku pimpinan KBIH Al Munawaroh Sumenep terus mendampingi jamaah dengan penuh kesabaran. Beliau tidak hanya memberikan penjelasan teknis, tetapi juga menyampaikan motivasi, nasihat, serta berbagai tips praktis yang sangat membantu jamaah. Sesekali canda ringan yang beliau lontarkan mencairkan suasana sehingga perjalanan terasa hangat, akrab, dan penuh kekeluargaan.

Di beberapa titik, para jamaah juga mengabadikan momen kebersamaan melalui foto bersama. Senyum yang menghiasi wajah mereka menjadi gambaran bahwa perjalanan ibadah tidak selalu identik dengan keseriusan, tetapi juga dipenuhi rasa syukur, persaudaraan, dan kebahagiaan karena diberi kesempatan menjadi tamu Allah.

Dari perjalanan yang tampak sederhana ini tersimpan pelajaran yang sangat berharga. Haji bukan hanya tentang mencapai puncak perjalanan di Arafah atau menyelesaikan seluruh rangkaian manasik, melainkan juga tentang menikmati setiap prosesnya. Setiap langkah yang diniatkan karena Allah adalah ibadah. Setiap tetes keringat yang mengalir menjadi bagian dari perjuangan spiritual untuk meraih ridha-Nya.

Kini waktu menuju wukuf di Arafah tinggal sekitar sepekan lagi. Semoga seluruh jamaah senantiasa dianugerahi kesehatan, kekuatan, kesabaran, serta kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji. Semoga setiap langkah yang telah ditempuh selama latihan ini menjadi bekal untuk melangkah lebih mantap menuju haji yang maqbul, mabrur, dan membawa perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa.

Mekkah, 19 Mei 2026 (2 Zulhijah 1447 H).

Tulisan bersambung

  1. Menyambut Panggilan Ilahi
  2. Menanti dengan Sabar, Menyempurnakan Umrah
  3. Jumat Pertama di Masjidil Haram
  4. Menyusuri Jejak Cinta di Awal Dzulhijjah
  5. Menapaki Jejak Baiat Aqabah: Menyemai Semangat Hijrah Menjelang Puncak Ibadah Haji
  6. Menahan Langkah demi Kesempurnaan Ibad

Tulisan terkait

Utama 9176073428645484163

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item