Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)


Lembah yang dahulu sunyi kini mulai berubah menjadi tempat persinggahan para musafir. Kemah-kemah dari Kabilah Jurhum berdiri di sekitar sumber air zamzam. Unta-unta beristirahat di dekat mata air, sementara anak-anak kecil berlari di antara batu-batu gurun sambil tertawa.

Di tengah kehidupan baru itu, Ismail tumbuh menjadi anak yang berbeda dari anak-anak lain seusianya.

Tubuhnya kuat.

Tatapannya tajam.

Namun hatinya lembut.

Sejak kecil ia terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak pernah mengenal istana, pakaian mewah, ataupun kehidupan nyaman seperti anak-anak para pembesar negeri. Yang ia kenal hanyalah gurun, angin panas, dan perjuangan seorang ibu yang membesarkannya dengan penuh ketabahan.

Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, Siti Hajar sudah bangun lebih dahulu. Ia mengambil air zamzam, menyiapkan makanan sederhana, lalu membangunkan Ismail.

“Bangunlah, anakku.”

Ismail kecil membuka mata perlahan. “Apakah matahari sudah terbit?”

“Hampir.”

Anak itu segera bangkit tanpa banyak mengeluh. Hajar mengajarinya disiplin sejak dini. Ia ingin Ismail tumbuh bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga kuat hati dan imannya.

Kadang-kadang Ismail membantu orang-orang Jurhum menggiring kambing atau mengambil kayu bakar. Meski masih kecil, ia tidak suka bermalas-malasan.

Orang-orang Jurhum menyukainya.

“Anak itu berbeda,” kata salah seorang lelaki tua suatu malam di dekat api unggun.

“Dia tenang seperti ayahnya,” jawab yang lain.

Meski begitu, ada satu hal yang selalu membuat Ismail penasaran.

Ayahnya.

Ibrahim tidak tinggal bersama mereka. Ia datang pada waktu-waktu tertentu, lalu pergi lagi menjalankan tugas dakwahnya.

Bagi Ismail kecil, kedatangan Ibrahim adalah hari paling membahagiakan.

Ia akan berlari menyambut ayahnya dari kejauhan.

“Ayah!”

Ibrahim selalu membuka kedua tangannya lebar-lebar lalu memeluk putranya erat.

Kadang Ibrahim membawa makanan atau pakaian dari negeri lain. Namun bagi Ismail, hadiah terbesar bukanlah barang-barang itu.

Melainkan waktu bersama ayahnya.

Pada suatu sore, ketika langit mulai memerah, Ismail duduk di dekat Ibrahim di tepi zamzam.

“Ayah,” katanya pelan.

“Ya?”

“Kenapa ayah tidak tinggal bersama kami?”

Pertanyaan itu membuat Ibrahim terdiam beberapa saat.

Ia memandang wajah anaknya yang mulai beranjak besar.

“Ayah memiliki tugas dari Allah.”

“Tugas apa?”

“Mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa.”

Ismail menunduk pelan. “Apakah tugas itu sangat jauh?”

“Kadang sangat jauh.”

“Lebih penting daripada Ismail?”

Pertanyaan itu menusuk hati Ibrahim.

Ia segera menarik putranya ke dalam pelukan.

“Tidak ada yang lebih ayah cintai selain Allah. Dan karena ayah mencintai Allah, ayah juga sangat mencintaimu.”

Ismail tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia mengangguk pelan.

Sejak kecil, Ibrahim selalu mengajarkan tentang Tuhan kepada putranya.

Tentang kejujuran.

Tentang kesabaran.

Tentang keberanian.

Tentang kepatuhan kepada Allah.

Kadang mereka berjalan bersama menyusuri lembah pada malam hari. Ibrahim menunjuk langit yang penuh bintang.

“Lihat semua itu, Ismail.”

“Indah sekali.”

“Allah yang menciptakannya.”

“Apakah Allah juga menciptakan padang pasir?”

“Ya.”

“Dan air zamzam?”

“Ya.”

“Dan kita?”

Ibrahim tersenyum. “Tentu.”

Ismail terdiam cukup lama sebelum berkata, “Kalau begitu Allah pasti sangat besar.”

Mata Ibrahim berkaca-kaca mendengar ucapan anaknya.

Hari-hari terus berlalu.

Ismail tumbuh menjadi remaja yang semakin tampan dan kuat. Tubuhnya tegap seperti ayahnya. Ia pandai memanah dan mampu berjalan jauh di tengah gurun tanpa mengeluh.

Namun yang paling membuat Ibrahim bangga adalah akhlaknya.

Ismail tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya.

Ia membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan.

Ia juga sangat rajin beribadah.

Suatu hari Ibrahim datang kembali ke Makkah setelah perjalanan dakwah yang panjang. Dari kejauhan ia melihat Ismail sedang membantu memperbaiki kemah seorang lelaki tua.

Keringat membasahi wajah anak itu, tetapi ia tetap bekerja sambil tersenyum.

Ibrahim berdiri cukup lama memperhatikan tanpa diketahui.

Dadanya dipenuhi rasa syukur.

Anak yang dahulu ditinggalkan di lembah tandus kini tumbuh menjadi pemuda saleh.

Malam itu mereka makan bersama di dekat api kecil.

Hajar memandang Ibrahim dan Ismail dengan bahagia. Meski hidup mereka sederhana, ada ketenangan yang sulit dijelaskan.

Setelah makan, Ismail berkata, “Ayah, besok aku ingin ikut berburu dengan beberapa pemuda Jurhum.”

“Apakah kau sudah pandai memanah?”

Ismail tersenyum kecil. “Aku akan membuktikannya.”

Keesokan paginya mereka pergi bersama ke gurun.

Angin bertiup cukup kencang.

Ibrahim memperhatikan cara Ismail memasang anak panah.

Tangannya mantap.

Tatapannya fokus.

Ketika anak panah dilepaskan, seekor burung yang terbang rendah jatuh tepat sasaran.

Pemuda-pemuda lain bersorak kagum.

Namun Ibrahim lebih kagum pada sesuatu yang lain.

Kedewasaan putranya.

Dalam perjalanan pulang, mereka berjalan berdampingan.

“Ayah,” kata Ismail.

“Ya?”

“Apakah Allah selalu menguji orang-orang yang dicintai-Nya?”

Pertanyaan itu membuat Ibrahim menoleh.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku sering melihat orang-orang baik mengalami kesulitan.”

Ibrahim tersenyum tipis.

“Karena ujian membuat hati manusia menjadi kuat.”

“Apakah ayah juga sering diuji?”

Ibrahim tertawa pelan. “Sangat sering.”

“Dan ayah tidak takut?”

“Ayah juga manusia, Ismail. Kadang ayah merasa sedih. Kadang ayah merasa berat. Tetapi ketika kita percaya kepada Allah, kita akan menemukan kekuatan.”

Ismail mengangguk perlahan.

Percakapan itu terus tinggal di dalam hatinya.

Malam harinya, setelah semua orang tidur, Ibrahim duduk sendirian memandangi langit Makkah.

Angin malam terasa dingin.

Ia bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan.

Namun jauh di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Seolah akan datang sesuatu yang besar.

Sesuatu yang akan mengubah hidup mereka.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Ismail semakin sering membantu orang-orang Jurhum. Kadang ia bepergian berhari-hari bersama para pemuda gurun.

Siti Hajar melihat putranya tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan hati penuh bangga.

“Dia semakin mirip dirimu,” katanya kepada Ibrahim suatu malam.

Ibrahim tersenyum. “Dia lebih baik daripada ayahnya.”

“Tidak,” jawab Hajar pelan. “Dia menjadi baik karena memiliki ayah sepertimu.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam sambil mendengar suara angin yang bertiup melewati lembah.

Tak seorang pun dari mereka tahu bahwa ujian terbesar telah mendekat.

Pada suatu malam, ketika Ibrahim tertidur dalam kelelahan setelah perjalanan panjang, ia melihat mimpi yang sangat menggetarkan.

Dalam mimpi itu, ia melihat dirinya menyembelih Ismail.

Mimpi itu terasa begitu nyata.

Ibrahim terbangun dengan napas berat.

Jantungnya berdetak keras.

Ia duduk lama dalam gelap sambil mencoba memahami apa yang baru saja dilihatnya.

“Tidak...” bisiknya pelan.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa mimpi para nabi bukan sekadar bunga tidur.

Itu adalah wahyu.

Dan ujian terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai.

(Rulis)

Kisah bersambung:

  1. Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
  2. Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)
  3. Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)
  4. Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)
  5. Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
  6. Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
  7. Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)

Tulisan terkait

Utama 7745310847507609708

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item