Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)
Tahun-tahun terus berlalu setelah peristiwa besar di Mina.
Nabi Ibrahim semakin menua. Rambut dan janggutnya memutih, tetapi cahaya keimanannya justru semakin kuat. Sementara Ismail tumbuh menjadi lelaki dewasa yang dihormati banyak orang. Ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, sabar, dan taat kepada Allah.
Lembah tandus yang dahulu hanya dipenuhi pasir kini perlahan berubah menjadi tempat kehidupan. Kafilah-kafilah dagang mulai singgah di sana. Kemah-kemah bertambah banyak. Suara manusia mulai memenuhi Makkah.
Di tengah perubahan itu, ada satu hal yang tidak pernah dilupakan oleh Ibrahim dan keluarganya:
hari ketika Allah menguji cinta mereka.
Setiap kali Ibrahim memandang Ismail, ia selalu teringat pagi di Mina saat tangannya gemetar memegang pisau. Dan setiap kali Hajar melihat anaknya berjalan menuju Ka’bah, ia teringat saat dirinya berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari setetes air.
Ujian itu telah berlalu.
Namun maknanya tetap hidup.
Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit-bukit batu Makkah, Ibrahim duduk bersama Ismail di dekat Ka’bah yang baru selesai mereka bangun kembali atas perintah Allah.
Bangunan suci itu berdiri sederhana, tetapi penuh kemuliaan.
Orang-orang mulai datang beribadah ke sana.
Angin gurun bertiup lembut ketika Ibrahim berkata pelan,
“Wahai Ismail.”
“Ya, Ayah?”
“Apakah engkau masih mengingat hari itu?”
Ismail tersenyum kecil.
“Hari di Mina?”
Ibrahim mengangguk.
Untuk beberapa saat mereka terdiam.
“Apakah Ayah menyesal?”
Pertanyaan itu membuat Ibrahim menoleh cepat.
“Menyesal?”
“Karena hampir kehilangan Ismail.”
Ibrahim memandang putranya lama sekali.
“Tidak ada ujian yang lebih berat bagi ayah selain hari itu.”
“Lalu?”
“Tetapi ayah belajar bahwa tidak ada cinta yang boleh melebihi cinta kepada Allah.”
Ismail menunduk pelan.
Matahari perlahan tenggelam.
Langit berubah merah keemasan.
Dan di tempat sunyi itu, keduanya memahami bahwa pengorbanan bukan sekadar tentang menyembelih hewan atau menahan rasa sakit.
Pengorbanan adalah tentang melepaskan ego, rasa memiliki, dan segala sesuatu yang membuat manusia lupa kepada Tuhan.
Tahun demi tahun berlalu.
Kisah tentang Ibrahim menyebar dari satu negeri ke negeri lain. Orang-orang menceritakan bagaimana seorang ayah rela mengorbankan putranya demi menaati perintah Allah. Mereka juga menceritakan tentang Hajar, perempuan tangguh yang bertahan di tengah gurun demi menjaga amanah Tuhan.
Kisah itu tidak pernah mati.
Ia diwariskan dari generasi ke generasi.
Hingga berabad-abad kemudian, Allah mengutus Nabi terakhir, Muhammad, dari keturunan Ismail.
Melalui beliau, ajaran Nabi Ibrahim disempurnakan kembali.
Ka’bah dibersihkan dari berhala.
Takbir kembali menggema di Makkah.
Dan Allah menetapkan hari besar untuk mengenang pengorbanan keluarga Ibrahim.
Hari itu dikenal sebagai Idul Adha.
Hari Raya Kurban.
Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia mengenakan pakaian terbaik mereka. Mereka berkumpul di masjid dan lapangan sambil mengumandangkan takbir:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd...”
Suara itu menggema seperti panggilan dari masa lalu.
Panggilan yang mengingatkan manusia kepada Ibrahim.
Kepada Hajar.
Kepada Ismail.
Setelah salat Idul Adha, hewan-hewan kurban disembelih.
Ada kambing.
Ada sapi.
Ada unta.
Dagingnya dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan orang-orang yang membutuhkan.
Namun sesungguhnya, makna terbesar Idul Adha bukanlah pada darah yang mengalir.
Allah tidak membutuhkan darah ataupun daging itu.
Yang Allah lihat adalah ketakwaan dalam hati manusia.
Karena itulah Idul Adha mengajarkan banyak hal.
Ia mengajarkan bahwa iman kadang menuntut pengorbanan.
Ia mengajarkan bahwa kesabaran selalu melahirkan pertolongan.
Ia mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya.
Dan lebih dari itu, Idul Adha mengingatkan manusia bahwa setiap orang memiliki “Ismail” dalam hidupnya.
Ada yang terlalu mencintai harta.
Ada yang terlalu mencintai jabatan.
Ada yang terlalu mencintai dirinya sendiri.
Ada pula yang terlalu takut kehilangan dunia hingga lupa kepada Allah.
Melalui kisah Ibrahim, manusia diajarkan untuk berani melepaskan apa pun yang menghalangi dirinya dari Tuhan.
Sebagaimana Hajar yang rela ditinggalkan di padang tandus.
Sebagaimana Ismail yang rela menyerahkan dirinya.
Sebagaimana Ibrahim yang rela menekan perasaan seorang ayah demi ketaatan.
Dan hingga hari ini, jejak mereka masih hidup.
Orang-orang yang berhaji tetap berlari kecil antara Shafa dan Marwah mengenang perjuangan Hajar.
Air zamzam terus diminum jutaan manusia dari seluruh dunia.
Jamaah haji melempar jumrah untuk mengenang penolakan Ibrahim terhadap godaan setan.
Dan hewan kurban tetap disembelih setiap Idul Adha untuk mengenang ketulusan pengorbanan keluarga mulia itu.
Maka setiap kali gema takbir berkumandang di Hari Raya Kurban, sesungguhnya dunia sedang kembali mengingat satu pelajaran besar:
bahwa pengorbanan yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia.
(Rulis)
Kisah bersambung:
- Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
- Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)
- Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)
- Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)
- Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
- Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
- Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)


