Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
Di antara kisah paling agung dalam sejarah manusia, terdapat sebuah cerita tentang cinta, ketaatan, air mata, dan pengorbanan yang tidak pernah lekang oleh waktu. Kisah itu adalah perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS bersama istrinya, Siti Hajar, dan putra mereka, Nabi Ismail AS.
Bukan sekadar cerita keluarga biasa, melainkan kisah tentang manusia-manusia pilihan yang diuji dengan cobaan paling berat. Seorang ayah diperintah menyembelih anaknya sendiri. Seorang ibu ditinggalkan di padang tandus tanpa makanan dan air. Seorang anak rela menyerahkan dirinya demi menjalankan perintah Allah SWT.
Dari kisah inilah lahir makna Idul Adha—hari raya pengorbanan. Hari ketika umat Islam mengenang bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Bahwa keikhlasan mampu mengubah padang pasir menjadi tanah suci, dan air mata kesabaran dapat menjadi mata air kehidupan yang mengalir sepanjang zaman.
Berikut adalah kisah lengkap perjalanan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS dari awal hingga lahirnya peringatan Idul Adha.
*****
Malam turun perlahan di negeri Babilonia. Lampu-lampu minyak mulai menyala di rumah-rumah penduduk, sementara suara langkah para pedagang yang pulang terdengar bersahutan di jalanan batu. Di pusat kota berdiri bangunan besar tempat berhala-berhala disimpan. Orang-orang datang membawa makanan, minyak, dan bunga untuk dipersembahkan kepada patung-patung yang mereka yakini sebagai tuhan.
Di salah satu rumah sederhana, seorang pemuda duduk termenung di depan pintu. Namanya Ibrahim.
Matanya memandang langit malam yang dipenuhi bintang. Ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya sejak kecil. Ia tidak pernah mengerti mengapa manusia menyembah patung batu yang dibuat oleh tangan mereka sendiri.
Di dalam rumah, ayahnya, Azar, sedang memahat sebuah patung kecil dari kayu keras. Tangannya sudah terbiasa mengukir wajah-wajah dewa yang akan dijual di pasar atau ditempatkan di kuil besar kerajaan.
“Ayah,” kata Ibrahim pelan.
Azar tidak menoleh. “Apa lagi yang ingin kau tanyakan?”
“Apakah patung-patung itu bisa mendengar?”
Azar menghela napas panjang. Pertanyaan seperti itu bukan sekali dua kali ia dengar dari putranya.
“Patung-patung itu adalah perantara para dewa,” jawab Azar singkat.
“Kalau begitu, mengapa harus dibuat oleh manusia? Bukankah Tuhan seharusnya menciptakan manusia, bukan diciptakan manusia?”
Pahat di tangan Azar berhenti bergerak. Ia mulai kesal.
“Kau terlalu banyak berpikir, Ibrahim.”
“Bukankah kita harus berpikir untuk menemukan kebenaran?”
Azar menatap tajam putranya. “Jangan bicara seperti itu di luar rumah. Raja Namrud tidak menyukai orang-orang yang meragukan dewa-dewa.”
Ibrahim terdiam, tetapi pikirannya tidak berhenti mencari jawaban.
Sejak kecil ia berbeda dari orang lain. Ketika anak-anak lain bermain di sekitar kuil dan ikut menyembah patung, Ibrahim justru memandang semua itu dengan perasaan asing. Ia merasa ada sesuatu yang salah.
Suatu malam ia berjalan keluar kota menuju bukit sunyi. Angin dingin menyapu wajahnya. Ia menatap bintang paling terang di langit.
“Mungkinkah itu Tuhanku?” bisiknya.
Bintang itu bersinar indah, tetapi beberapa jam kemudian cahayanya menghilang.
“Aku tidak menyukai yang tenggelam,” katanya pelan.
Lalu bulan muncul dengan cahaya yang lebih besar.
“Inikah Tuhanku?”
Namun bulan pun perlahan hilang ketika pagi mendekat.
Kemudian matahari terbit dengan cahaya luar biasa terang. Hangatnya menyelimuti bumi.
“Inikah Tuhan yang sebenarnya?”
Tetapi ketika sore datang, matahari pun tenggelam.
Saat itulah Ibrahim memahami sesuatu.
Segala sesuatu yang berubah, hilang, dan tenggelam tidak layak menjadi Tuhan.
Ia mengangkat wajah ke langit dan berkata dengan keyakinan penuh, “Aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.”
Sejak malam itu hidup Ibrahim berubah.
Ia mulai mengajak orang-orang berpikir.
Di pasar ia melihat seorang lelaki tua sujud di depan patung kecil.
“Paman,” kata Ibrahim lembut, “mengapa engkau menyembah benda yang tidak bisa mendengar dan tidak bisa menolongmu?”
Lelaki itu marah. “Anak muda, jangan menghina dewa kami!”
Orang-orang mulai membicarakan Ibrahim. Sebagian menganggapnya aneh. Sebagian lagi menganggapnya berbahaya.
Namun Ibrahim tidak takut.
Ia mendatangi ayahnya dan berkata, “Ayah, tinggalkanlah penyembahan ini. Tuhan yang sebenarnya bukanlah patung.”
Azar berdiri dengan wajah memerah.
“Cukup! Jangan ajari aku tentang tuhan!”
“Ayah hanya mengikuti tradisi tanpa berpikir.”
Tamparan keras mendarat di wajah Ibrahim.
“Keluar dari rumahku jika kau terus berbicara seperti itu!”
Meski sedih, Ibrahim tetap bersabar. Ia tahu jalan menuju kebenaran tidak pernah mudah.
Hari-hari berlalu. Raja Namrud mendengar tentang pemuda yang menolak menyembah berhala itu. Namrud adalah raja yang sangat sombong. Ia bahkan mengaku dirinya tuhan.
Suatu hari Ibrahim dipanggil ke istana.
Aula kerajaan sangat megah. Tiang-tiang besar menjulang tinggi. Prajurit berdiri berjajar sambil menggenggam tombak.
Namrud duduk di singgasananya.
“Kau Ibrahim?” tanyanya.
“Benar.”
“Aku mendengar kau menghina dewa-dewa dan mengajak rakyat meninggalkan kepercayaan mereka.”
“Aku hanya mengajak mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa.”
Namrud tertawa kecil. “Dan siapa Tuhanmu itu?”
“Tuhan yang menghidupkan dan mematikan.”
Namrud memberi isyarat kepada prajurit. Dua orang tahanan dibawa ke hadapannya.
“Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan.”
Ia memerintahkan satu tahanan dibunuh dan satu lagi dibebaskan.
“Lihat? Aku memiliki kuasa.”
Ibrahim menatapnya tenang.
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur. Jika engkau benar tuhan, terbitkanlah dari barat.”
Ruangan mendadak sunyi.
Namrud terdiam. Wajahnya menegang karena tidak mampu menjawab.
Namun kesombongan membuatnya tetap menolak kebenaran.
Sejak hari itu kebencian terhadap Ibrahim semakin besar.
Pada suatu perayaan besar, seluruh penduduk kota pergi keluar untuk berpesta. Kuil utama menjadi kosong.
Ibrahim berjalan masuk sendirian.
Patung-patung besar berdiri diam di ruangan luas itu. Di hadapan mereka tersaji makanan persembahan.
Ibrahim mendekati salah satu patung.
“Mengapa kalian tidak makan?”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Ia mengambil kapak lalu menghancurkan semua patung kecil satu demi satu.
Suara kayu dan batu pecah menggema di seluruh kuil.
Namun ia membiarkan satu patung besar tetap utuh. Kapak itu digantungkan di leher patung terbesar.
Ketika penduduk kembali, mereka terkejut melihat kuil hancur berantakan.
“Siapa yang melakukan ini?!”
Seseorang berkata, “Aku pernah mendengar pemuda bernama Ibrahim berbicara buruk tentang berhala.”
Ibrahim segera dibawa ke hadapan rakyat.
“Apakah kau yang menghancurkan tuhan-tuhan kami?” tanya mereka marah.
Ibrahim menjawab tenang, “Mungkin patung besar itu yang melakukannya. Tanyakan saja kepadanya.”
Mereka terdiam.
Mereka sadar patung itu tidak bisa bicara.
Namun rasa malu berubah menjadi kemarahan.
“Bakar Ibrahim!”
Keputusan itu segera diumumkan ke seluruh negeri.
Penduduk mengumpulkan kayu selama berhari-hari. Api besar dibuat di tengah lapangan. Panasnya begitu dahsyat hingga orang tidak bisa mendekat.
Ibrahim dirantai.
Banyak orang datang menonton dengan wajah puas. Mereka yakin pemuda itu akan mati terbakar.
Di antara kerumunan, beberapa orang menangis diam-diam. Mereka sebenarnya percaya kepada Ibrahim, tetapi takut kepada Namrud.
Karena api terlalu besar, Ibrahim dilempar menggunakan alat pelontar raksasa.
Saat tubuhnya melayang di udara, malaikat Jibril datang.
“Wahai Ibrahim, apakah engkau membutuhkan pertolongan?”
Ibrahim menjawab tenang, “Dari Allah, ya. Dari selain-Nya, tidak.”
Tubuh Ibrahim jatuh ke dalam lautan api.
Semua orang menahan napas.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi.
Allah berfirman, “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
Dalam sekejap api itu kehilangan panasnya.
Ibrahim duduk tenang di tengah kobaran api seperti berada di taman yang sejuk.
Orang-orang tercengang.
Namrud membelalak tidak percaya.
Api yang biasanya membakar segala sesuatu kini tidak mampu melukai Ibrahim sedikit pun.
Beberapa hari kemudian, Ibrahim keluar dari api tanpa luka.
Peristiwa itu mengguncang Babilonia.
Sebagian orang mulai percaya kepada dakwah Ibrahim. Namun Namrud justru semakin murka.
Ia merasa kekuasaannya terancam.
Malam itu Ibrahim meninggalkan negerinya. Bersamanya ada istrinya, Sarah, dan beberapa pengikut yang beriman.
Ia tahu perjuangannya belum selesai.
Di depan terbentang perjalanan panjang penuh ujian.
Ia belum tahu bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi ayah dari seorang anak bernama Ismail. Anak yang kelak akan membawanya pada pengorbanan terbesar dalam sejarah manusia.
(Rulis)
Kisah bersambung:
- Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
- Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)
- Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)
- Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)
- Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
- Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
- Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)


