Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
Langit pagi di atas Makkah tampak pucat ketika Ibrahim dan Ismail melangkah meninggalkan lembah. Matahari belum sepenuhnya tinggi, tetapi udara gurun sudah mulai terasa panas.
Tidak banyak percakapan di antara mereka.
Hanya suara langkah kaki yang sesekali menggesek pasir dan batu.
Ibrahim berjalan di depan sambil menggenggam tali dan pisau yang tersimpan dalam kain. Wajahnya terlihat tenang dari luar, tetapi di dalam dadanya, badai besar sedang bergemuruh.
Beberapa kali ia hampir berhenti.
Beberapa kali ia ingin berkata bahwa semua ini tidak perlu diteruskan.
Namun setiap kali keraguan datang, ia teringat bahwa ini adalah perintah Allah.
Dan seorang nabi tidak boleh mendahulukan perasaannya di atas perintah Tuhan.
Di belakangnya, Ismail berjalan dengan kepala tegak.
Ia tahu ke mana mereka pergi.
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Tetapi tidak ada penyesalan di wajahnya.
Sesekali ia memandang punggung ayahnya yang mulai menua. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari betapa berat beban yang dipikul lelaki itu.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul seorang lelaki asing mendekati mereka.
Wajahnya tampak ramah, tetapi matanya licik.
Ia berjalan mendekati Ibrahim lebih dulu.
“Hai Ibrahim,” katanya. “Ke mana engkau membawa anakmu pagi-pagi seperti ini?”
Ibrahim hanya menjawab singkat, “Ada urusan.”
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Aku mendengar sesuatu yang aneh. Benarkah kau ingin membunuh anakmu sendiri?”
Langkah Ibrahim berhenti.
“Aku melaksanakan perintah Allah.”
Lelaki itu tertawa kecil.
“Perintah Allah? Atau bisikan yang menyesatkanmu? Bagaimana mungkin Tuhan menyuruh seorang ayah menyembelih anaknya sendiri?”
Ibrahim memalingkan wajah.
Ia tahu siapa sebenarnya lelaki itu.
Setan sedang mencoba menggoyahkan hatinya.
“Aku lebih mengenal Tuhanku daripada dirimu,” jawab Ibrahim tegas.
Namun setan belum menyerah.
“Lihat anakmu itu. Ia masih muda. Bukankah kau menunggunya selama puluhan tahun? Bukankah ia penyejuk hatimu?”
Kata-kata itu menusuk sangat dalam.
Tetapi Ibrahim mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah lelaki itu.
“Pergi dari hadapanku!”
Lelaki itu mundur sambil tersenyum sinis sebelum akhirnya menghilang.
Tak lama kemudian setan mendekati Ismail.
Ia berubah rupa menjadi seseorang yang tampak baik.
“Wahai anak muda,” katanya lembut, “apakah kau tahu ayahmu hendak membunuhmu?”
“Aku tahu.”
“Dan kau menerimanya begitu saja?”
“Itu perintah Allah.”
Setan mendekat sambil berbisik, “Tidak mungkin Allah memerintahkan hal seperti itu. Ayahmu sudah tua. Mungkin pikirannya terganggu.”
Tatapan Ismail berubah tajam.
“Jangan bicara buruk tentang ayahku.”
“Kalau kau lari sekarang, kau bisa selamat.”
Ismail menggeleng pelan.
“Aku lebih memilih mati dalam ketaatan daripada hidup dalam pembangkangan.”
Ia mengambil batu lalu melemparkannya ke arah setan.
“Pergi!”
Setan menghilang lagi dengan penuh kemarahan.
Lalu ia mendatangi Hajar di perkampungan.
Perempuan itu sedang duduk dengan wajah pucat sejak kepergian suami dan anaknya.
Setan berkata, “Tahukah kau ke mana Ibrahim membawa Ismail?”
Air mata Hajar mulai jatuh.
“Aku tahu.”
“Dan kau membiarkannya?”
“Itu perintah Allah.”
Setan tertawa mengejek.
“Bagaimana mungkin seorang ibu rela anaknya disembelih?”
Hajar berdiri dengan mata penuh air mata, tetapi suaranya tegas.
“Jika Allah yang memerintahkan, maka aku ridha.”
Ia pun mengambil batu dan mengusir setan.
Peristiwa itulah yang kelak dikenang dalam ibadah lempar jumrah saat haji.
Sementara itu, Ibrahim dan Ismail telah sampai di sebuah tempat sunyi di Mina.
Angin bertiup perlahan.
Tidak ada suara selain desir pasir.
Untuk beberapa saat keduanya hanya berdiri diam.
Ibrahim memandang wajah putranya lama sekali.
Seolah ingin mengingat setiap detailnya.
Wajah yang dulu ia cium ketika masih bayi.
Anak kecil yang dulu berlari-lari di sekitar zamzam.
Pemuda saleh yang kini berdiri di hadapannya dengan penuh keteguhan.
Air mata mulai memenuhi mata Ibrahim.
Ismail mendekat.
“Wahai Ayahku,” katanya lembut, “jangan ragu menjalankan perintah Allah.”
Tubuh Ibrahim gemetar.
“Ayah takut kehilanganmu.”
“Kalau Allah menghendaki, kita akan bertemu lagi di sisi-Nya.”
Kalimat itu membuat Ibrahim hampir tidak sanggup berdiri.
Namun Ismail justru tampak lebih tegar.
Ia berkata lagi,
“Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak ketika pisau menyentuh leherku.”
Ibrahim memejamkan mata.
“Dan tajamkan pisaumu agar tugas ayah menjadi ringan.”
Air mata Ibrahim jatuh semakin deras.
“Juga... palingkan wajah ayah dariku. Aku khawatir ayah merasa iba.”
Tak ada lagi kekuatan tersisa dalam diri Ibrahim selain kepasrahan kepada Allah.
Dengan tangan gemetar ia memeluk putranya untuk terakhir kali.
Lalu Ismail membaringkan dirinya di atas tanah.
Langit tampak sangat luas di atas mereka.
Ibrahim mengikat tangan anaknya perlahan.
Tangannya gemetar hebat hingga beberapa kali tali itu hampir terlepas.
Setelah selesai, ia mengambil pisau.
Kilatan tajamnya memantulkan cahaya matahari.
Ibrahim memalingkan wajahnya agar tidak melihat mata Ismail.
Lalu dengan napas berat ia mulai menggerakkan pisau itu ke leher putranya.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi.
Pisau itu tidak melukai sedikit pun.
Ibrahim terkejut.
Ia mencoba lagi dengan tenaga lebih kuat.
Tetap tidak memotong.
Padahal pisau itu sangat tajam.
Saat itulah langit berguncang oleh panggilan mulia.
“Wahai Ibrahim!”
Ibrahim langsung menghentikan tangannya.
Suara itu datang dengan kekuatan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar.
“Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.”
Ibrahim mengangkat wajahnya dengan napas tersengal.
Air mata mengalir deras.
Allah telah menerima ketaatan mereka.
Allah tidak menghendaki kematian Ismail.
Ujian itu hanyalah bukti apakah cinta mereka kepada Allah benar-benar berada di atas segalanya.
Tiba-tiba tampak seekor domba besar turun sebagai pengganti Ismail.
Malaikat Jibril membawanya dari surga.
Tubuh Ibrahim langsung lemas.
Ia memeluk Ismail erat-erat sambil menangis tanpa suara.
Ismail pun menangis dalam pelukan ayahnya.
Hari itu menjadi hari kemenangan bagi keimanan.
Bukan kemenangan karena berhasil menyembelih.
Tetapi kemenangan karena mampu taat sepenuhnya kepada Allah.
Domba itu kemudian disembelih sebagai pengganti Ismail.
Darahnya mengalir di tanah Mina.
Sementara langit gurun terasa begitu tenang.
Ketika mereka kembali ke perkampungan, Hajar sudah menunggu dengan wajah penuh kecemasan.
Begitu melihat Ismail berjalan di samping Ibrahim dalam keadaan selamat, ia langsung berlari memeluk anaknya.
Tangis bahagia pecah di tengah lembah.
Ibrahim memandang istri dan anaknya dengan mata berkaca-kaca.
Ia sadar bahwa keluarganya baru saja melewati ujian terbesar yang mungkin tidak mampu dijalani kebanyakan manusia.
Hari-hari setelah peristiwa itu terasa berbeda.
Ketaatan Ibrahim, Hajar, dan Ismail dikenang oleh langit dan bumi.
Dan Allah menjadikan pengorbanan itu sebagai syariat bagi umat setelah mereka.
Setiap tahun, pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam menyembelih hewan kurban untuk mengenang ketulusan keluarga mulia itu.
Bukan darah hewan yang sampai kepada Allah.
Bukan pula dagingnya.
Melainkan ketakwaan dalam hati manusia.
Lembah tandus tempat Hajar dulu berlari kini menjadi kota suci Makkah.
Langkah-langkah Hajar antara Shafa dan Marwah diabadikan dalam ibadah sa’i.
Air zamzam terus mengalir hingga akhir zaman.
Dan tempat penyembelihan di Mina menjadi bagian penting dalam ibadah haji.
Kisah keluarga Ibrahim tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Ia hidup dalam setiap takbir Idul Adha.
Dalam setiap tetes air mata orang-orang yang berkurban.
Dalam setiap hati manusia yang belajar bahwa cinta sejati kepada Allah terkadang menuntut pengorbanan yang sangat besar.
Namun dari pengorbanan itulah lahir kemuliaan yang abadi.
sekarang tutup kisah dengan peringat idul qurban
(Rulis)
Kisah bersambung:
- Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
- Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)
- Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)
- Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)
- Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
- Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
- Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)


