Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)


Pagi pertama di lembah tandus itu terasa begitu sunyi.

Tidak ada suara manusia.

Tidak ada suara hewan.

Yang terdengar hanya desir angin gurun yang menyapu pasir dan bebatuan.

Siti Hajar duduk di bawah bayangan batu besar sambil menggendong Ismail kecil di dadanya. Bayi itu masih tertidur pulas, tidak memahami bahwa dirinya kini berada di tempat asing yang jauh dari kehidupan.

Di samping Hajar hanya ada sedikit kurma dan sekantong air yang ditinggalkan Ibrahim.

Semalam ia hampir tidak tidur.

Ia berkali-kali memandang ke arah jalan tempat Ibrahim pergi, berharap bayangan suaminya muncul kembali di kejauhan.

Namun hingga matahari terbit, gurun itu tetap kosong.

Untuk pertama kalinya rasa sepi benar-benar menusuk hatinya.

Meski begitu, Hajar terus mengingat satu hal:

“Kalau ini perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kalimat itu menjadi penopang kekuatannya.

Hari-hari pertama masih bisa dilewati dengan tenang. Ia menghemat makanan dan air sebaik mungkin. Setiap kali haus, ia hanya meminum sedikit air lalu kembali menutup kantongnya rapat-rapat.

Tetapi gurun tidak pernah bersahabat.

Matahari semakin panas dari hari ke hari. Udara terasa membakar kulit. Pasir di bawah kaki seperti bara api.

Persediaan air mulai menipis.

Pada suatu siang, Ismail terbangun sambil menangis.

Tangisan itu mula-mula pelan, lalu semakin keras.

Hajar segera menggendongnya.

“Tenanglah, anakku... tenang...”

Ia mencoba menyusui Ismail, tetapi tubuhnya mulai lemah karena kekurangan air.

Bayi itu terus menangis kehausan.

Hajar membuka kantong air dan menuangkan tetes terakhir ke mulutnya sendiri agar masih bisa menyusui. Namun itu tidak cukup.

Ketika matahari berada tepat di atas kepala, air mereka habis.

Hajar memandangi kantong kosong itu dengan dada berdebar.

Ia tahu keadaan mulai berbahaya.

Ismail menangis semakin keras.

Tangisan bayi di tempat sunyi seperti itu terasa sangat menyakitkan bagi seorang ibu.

Hajar mencoba menenangkan dirinya.

Ia berdiri dan memandang sekeliling.

Di dekat lembah itu ada dua bukit kecil berbatu. Yang satu bernama Shafa dan yang lain Marwah.

Mungkin dari atas bukit ia bisa melihat sumber air atau rombongan musafir.

Dengan cepat ia mencium kening Ismail lalu membaringkannya di tempat yang agak teduh.

“Tunggu sebentar, anakku... ibu akan mencari air.”

Ia mulai berlari menuju Bukit Shafa.

Pasir panas menyengat telapak kakinya.

Napasnya memburu.

Sesampainya di atas Shafa, ia memandang jauh ke segala arah.

Kosong.

Tidak ada manusia.

Tidak ada air.

Hanya gurun tanpa ujung.

Namun Hajar tidak menyerah.

Ia turun kembali lalu berlari menuju Bukit Marwah.

Di tengah perjalanan ia mendengar tangisan Ismail dari kejauhan. Suara itu membuat hatinya semakin panik.

Sesampainya di atas Marwah, ia kembali melihat ke sekeliling.

Tetap tidak ada apa-apa.

Keringat membasahi wajahnya. Tenggorokannya terasa kering seperti terbakar.

Tetapi seorang ibu yang sedang berjuang demi anaknya tidak mengenal kata berhenti.

Ia kembali berlari menuju Shafa.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Matahari semakin membakar.

Kakinya mulai lecet terkena batu-batu tajam.

Namun setiap kali rasa lelah datang, ia mendengar tangisan Ismail, dan itu membuatnya terus bergerak.

Empat kali.

Lima kali.

Enam kali.

Pada lari ketujuh menuju Marwah, tubuh Hajar hampir roboh karena kelelahan.

Napasnya tersengal-sengal.

Air matanya bercampur peluh.

Ia mulai merasa putus asa.

Tetapi tepat ketika ia berdiri di atas Marwah, tiba-tiba ia mendengar suara aneh.

Hajar terdiam.

Ia menajamkan pendengaran.

Suara itu seperti gemercik kecil.

Ia segera berlari turun menuju tempat Ismail ditinggalkan.

Dan saat itulah matanya membelalak.

Di dekat kaki kecil Ismail, air memancar dari tanah.

Mula-mula hanya sedikit.

Lalu semakin deras.

Hajar terkejut sekaligus bahagia.

Ia segera berlutut dan menahan air itu dengan kedua tangannya sambil berkata,

“Zamzam! Zamzam!”

Yang berarti, “Berkumpullah! Berkumpullah!”

Ia takut air itu mengalir pergi.

Dengan tergesa ia membuat bendungan kecil dari pasir dan batu agar air tetap terkumpul.

Kemudian ia meminum air itu dengan penuh syukur.

Air dingin itu terasa seperti kehidupan yang kembali masuk ke tubuhnya.

Ia segera memberi minum Ismail.

Tangisan bayi itu perlahan berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak ditinggalkan Ibrahim, Hajar menangis sejadi-jadinya.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena merasa Allah benar-benar melihat perjuangannya.

Hari-hari berikutnya berubah.

Air zamzam terus memancar tanpa henti.

Hajar tidak perlu lagi takut kehausan.

Ia mulai hidup di sekitar mata air itu bersama Ismail.

Burung-burung mulai terbang rendah di atas lembah.

Di padang pasir, burung adalah tanda adanya air.

Suatu hari sebuah kabilah musafir dari Jurhum melintas tidak jauh dari sana.

Salah seorang dari mereka menunjuk ke arah langit.

“Lihat burung-burung itu.”

“Mungkin ada air.”

Mereka segera mendekati lembah tersebut.

Betapa terkejutnya mereka ketika melihat seorang perempuan dan seorang bayi tinggal di dekat mata air.

Pemimpin mereka mendekati Hajar dengan hati-hati.

“Apakah kami boleh singgah di sini?”

Hajar memandang mereka tenang.

Ia sadar kehadiran manusia akan membuat tempat itu lebih aman.

“Kalian boleh tinggal di sini,” katanya, “tetapi air ini bukan milik kalian.”

Orang-orang Jurhum setuju.

Mereka mendirikan kemah-kemah di sekitar lembah.

Sedikit demi sedikit tempat yang tadinya sunyi mulai hidup.

Anak-anak mulai bermain.

Api unggun menyala pada malam hari.

Unta dan kambing dibawa ke sana.

Dan semua kehidupan itu bermula dari air zamzam yang muncul di dekat kaki Ismail.

Tahun-tahun berlalu.

Ismail tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat.

Ia berlari-lari di antara kemah-kemah Jurhum.

Kulitnya kecokelatan karena matahari gurun. Tatapannya tajam tetapi lembut.

Hajar mendidiknya dengan penuh kasih sayang.

Ia sering menceritakan tentang ayahnya.

“Ayahmu adalah orang pilihan Allah.”

“Apakah ayah akan datang lagi?” tanya Ismail kecil suatu malam.

Hajar tersenyum sambil mengusap rambutnya.

“Insya Allah.”

Dan benar saja.

Suatu hari dari kejauhan tampak seorang lelaki berjalan mendekati lembah.

Janggutnya mulai memutih.

Wajahnya dipenuhi kerinduan.

Itu adalah Ibrahim.

Ismail yang saat itu sedang bermain berhenti dan memandang lelaki asing itu.

Sementara Hajar berdiri dari tempat duduknya dengan mata berkaca-kaca.

Ibrahim mempercepat langkahnya.

Bertahun-tahun ia menahan rindu kepada istri dan anaknya.

Kini ia melihat sendiri bagaimana Allah menjaga mereka.

Lembah tandus itu telah berubah menjadi tempat kehidupan.

Air zamzam mengalir.

Manusia datang dan menetap.

Dan Ismail tumbuh sehat.

Ibrahim memeluk putranya erat.

Untuk beberapa saat ia tidak mampu berkata apa-apa.

Ia hanya menangis dalam diam.

Hajar memandang keduanya dengan senyum haru.

Di dalam hatinya ia mengingat hari ketika dirinya berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah.

Hari ketika ia hampir kehilangan harapan.

Hari ketika Allah menunjukkan bahwa pertolongan-Nya bisa datang dari tempat yang tidak pernah diduga manusia.

Namun perjalanan keluarga itu belum selesai.

Ujian yang jauh lebih besar sedang menunggu di masa depan.

Sebab suatu hari nanti, anak kecil yang kini dipeluk Ibrahim dengan penuh cinta itu akan menjadi pusat pengorbanan terbesar dalam sejarah umat manusia.

(Rulis)

Kisah bersambung:

  1. Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
  2. Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)
  3. Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)
  4. Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)
  5. Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
  6. Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
  7. Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)

Tulisan terkait

Utama 4909416112970883946

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item