Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
Sejak malam itu, tidur Nabi Ibrahim tidak pernah lagi benar-benar tenang. Mimpi tentang penyembelihan Ismail terus terbayang di pelupuk ...
Sejak malam itu, tidur Nabi Ibrahim tidak pernah lagi benar-benar tenang.
Mimpi tentang penyembelihan Ismail terus terbayang di pelupuk matanya. Bahkan ketika ia berjalan di tengah lembah atau duduk bersama keluarganya, bayangan itu muncul kembali seperti suara yang tidak mau pergi.
Pada pagi pertama setelah mimpi itu, Ibrahim keluar dari kemah sebelum matahari terbit.
Udara gurun masih dingin. Langit tampak gelap kebiruan dengan bintang-bintang yang belum sepenuhnya hilang.
Ia berjalan sendirian menuju tempat yang agak tinggi di dekat Bukit Shafa.
Di sana ia duduk lama.
Tangannya saling menggenggam erat.
“Ya Allah...” bisiknya lirih.
Selama hidupnya, Ibrahim telah menghadapi banyak ujian.
Ia pernah dibakar hidup-hidup.
Ia pernah diusir dari negerinya.
Ia meninggalkan kampung halaman dan berjalan dari satu negeri ke negeri lain demi menyampaikan kebenaran.
Ia bahkan meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus atas perintah Allah.
Namun tidak satu pun ujian itu terasa seberat yang sekarang.
Karena kali ini yang diminta bukan dirinya.
Melainkan anak yang sangat dicintainya.
Ismail bukan hanya seorang putra.
Ia adalah jawaban dari doa panjang yang dipanjatkan selama puluhan tahun.
Ia adalah cahaya yang menerangi hari-hari tua Ibrahim.
Dan kini Allah memerintahkan sesuatu yang tampaknya mustahil dilakukan seorang ayah.
Ibrahim menundukkan kepala dalam-dalam.
“Aku harus yakin kepada-Mu...”
Hari itu ia berusaha bersikap seperti biasa di depan keluarganya.
Namun Hajar segera menyadari perubahan pada diri suaminya.
Saat makan malam, Ibrahim lebih banyak diam.
Ketika Ismail berbicara tentang perjalanan berburu bersama pemuda Jurhum, Ibrahim hanya sesekali tersenyum kecil.
“Ayah tampak lelah,” kata Ismail.
“Ayah hanya banyak berpikir.”
Hajar memandang wajah Ibrahim lebih lama.
Ia mengenal suaminya dengan baik.
Ada kesedihan yang sedang disembunyikan.
Malam berikutnya, mimpi itu datang lagi.
Lebih jelas.
Lebih kuat.
Ibrahim melihat dirinya membaringkan Ismail lalu menggerakkan pisau ke leher anaknya.
Ia terbangun dengan tubuh berkeringat.
Dadanya terasa sesak.
Kini tidak ada lagi keraguan.
Itu benar-benar perintah Allah.
Namun bagaimana ia harus menyampaikannya kepada Ismail?
Bagaimana mungkin seorang ayah mengatakan kepada anaknya sendiri bahwa Allah memerintahkan dirinya menyembelihnya?
Keesokan harinya Ibrahim menghindari tatapan Ismail.
Ia takut kelembutan anak itu membuat hatinya runtuh.
Tetapi Ismail justru mendekatinya dengan wajah cerah.
“Ayah, hari ini aku berhasil menangkap dua ekor kambing liar.”
“Bagus.”
“Ayah tidak senang?”
Ibrahim segera memaksakan senyum. “Tentu ayah senang.”
Namun Ismail mulai merasakan sesuatu.
Malam ketiga, mimpi itu datang kembali.
Dan kali ini Ibrahim tahu ia tidak boleh menunda lagi.
Pagi harinya ia memanggil Ismail.
“Anakku, ikutlah berjalan bersamaku.”
“Ke mana, Ayah?”
“Ayah ingin berbicara denganmu.”
Mereka berjalan meninggalkan perkampungan Jurhum menuju daerah berbatu yang sunyi.
Angin gurun bertiup pelan.
Langkah Ibrahim terasa berat.
Sementara Ismail berjalan di sampingnya tanpa curiga sedikit pun.
Beberapa kali Ibrahim mencoba membuka mulut, tetapi kata-kata itu terasa sangat sulit keluar.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat yang sepi.
Ibrahim memandang putranya lama sekali.
Ismail kini bukan anak kecil lagi. Ia sudah cukup dewasa untuk memahami banyak hal.
“Ismail...”
“Ya, Ayah?”
Ibrahim menarik napas panjang.
“Ayah melihat sesuatu dalam mimpi.”
“Mimpi?”
“Mimpi itu datang berulang kali.”
Ismail menunggu dengan tenang.
Dalam keluarganya, mimpi para nabi bukan hal biasa. Ia tahu ayahnya adalah utusan Allah.
Dengan suara berat Ibrahim berkata,
“Dalam mimpi itu, ayah diperintahkan menyembelihmu.”
Udara terasa mendadak sunyi.
Angin seperti berhenti berhembus.
Untuk beberapa saat Ismail tidak bergerak.
Seorang anak lain mungkin akan ketakutan.
Mungkin akan menangis.
Mungkin akan lari.
Namun Ismail adalah anak yang dibesarkan dengan iman dan keteguhan hati.
Ia menunduk beberapa saat sebelum mengangkat wajahnya kembali.
“Apakah itu perintah Allah?”
Suara Ibrahim hampir pecah ketika menjawab, “Ya.”
Mata Ismail berkaca-kaca, tetapi wajahnya tetap tenang.
Ia mendekat lalu menggenggam tangan ayahnya.
“Wahai Ayahku,” katanya lembut, “lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu.”
Air mata mulai jatuh dari mata Ibrahim.
Namun Ismail melanjutkan dengan suara yang lebih mantap,
“Insya Allah, Ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kalimat itu menghantam hati Ibrahim lebih keras daripada apa pun.
Ia memeluk putranya erat.
Tubuhnya gemetar menahan tangis.
Di tengah padang sunyi itu, seorang ayah dan anak menangis bersama karena cinta mereka kepada Allah.
Mereka kembali ke perkampungan menjelang sore.
Hajar melihat keduanya dari kejauhan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Wajah Ibrahim tampak sangat berat, sedangkan Ismail terlihat lebih diam dari biasanya.
Malam itu mereka makan bersama seperti biasa, tetapi suasana terasa aneh.
Setelah Ismail tidur, Hajar mendekati Ibrahim.
“Apa yang terjadi?”
Ibrahim terdiam lama.
“Ada perintah Allah.”
Wajah Hajar langsung berubah tegang.
“Perintah apa?”
Dengan suara pelan Ibrahim menceritakan semuanya.
Hajar memejamkan mata.
Tangannya bergetar.
Ia adalah ibu yang sangat mencintai Ismail. Anak itu adalah alasan ia mampu bertahan di lembah tandus bertahun-tahun lalu.
Namun seperti Ibrahim, ia juga perempuan yang sangat beriman.
Air mata jatuh di pipinya.
Tetapi ia berkata pelan,
“Jika itu perintah Allah, maka Allah pasti memiliki hikmah.”
Malam itu hampir tidak ada yang tidur.
Ibrahim terus beristighfar.
Hajar menangis diam-diam dalam sujudnya.
Sementara Ismail memandangi langit malam di luar kemah dengan hati berdebar.
Ia takut.
Tentu saja ia takut.
Ia masih manusia.
Ia masih ingin hidup.
Ia masih ingin bersama ibunya.
Masih ingin berjalan bersama ayahnya.
Namun ia juga percaya kepada Allah sepenuhnya.
Dan kepercayaan itu lebih besar daripada rasa takutnya.
Keesokan paginya Ibrahim menyiapkan tali dan pisau.
Tangannya gemetar ketika mengasah mata pisau itu.
Ismail datang menghampiri.
“Ayah.”
Ibrahim menoleh cepat sambil menyembunyikan wajah sedihnya.
“Ayah sudah siap?”
Pertanyaan itu membuat dada Ibrahim terasa sesak.
Tetapi ia mengangguk pelan.
Mereka mulai berjalan meninggalkan lembah.
Langkah keduanya berat.
Di kejauhan, Hajar berdiri memandangi mereka dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Ia ingin memanggil.
Ingin memeluk anaknya sekali lagi.
Namun ia menahan dirinya.
Karena ia tahu cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada siapa pun.
Perjalanan menuju tempat penyembelihan dimulai dalam keheningan panjang.
Dan di sepanjang perjalanan itu, setan mulai menjalankan tugasnya menggoda manusia agar gagal menghadapi ujian terbesar mereka.
(Rulis)
Kisah bersambung:
- Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
- Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)
- Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)
- Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)
- Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
- Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
- Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)


