Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)


Perjalanan meninggalkan Babilonia membawa Ibrahim menuju negeri-negeri yang asing baginya. Bersama Sarah, istrinya yang setia, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan ajaran tauhid. Mereka melewati padang-padang luas, perkampungan kecil, hingga kota-kota yang dipenuhi manusia dengan berbagai keyakinan.

Di setiap tempat, Ibrahim selalu mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa.

Sebagian mendengarkan.

Sebagian menolak.

Sebagian mengejeknya.

Namun usia yang semakin bertambah tidak pernah melemahkan keyakinannya.

Pada suatu sore, Ibrahim dan Sarah beristirahat di bawah pohon besar di pinggir sebuah jalur dagang. Matahari mulai turun, meninggalkan cahaya jingga di langit.

Sarah menuangkan air ke dalam cawan kecil lalu memberikannya kepada Ibrahim.

“Engkau tampak lelah,” katanya lembut.

Ibrahim menerima cawan itu sambil tersenyum tipis. “Perjalanan dakwah memang tidak ringan.”

Sarah memandang wajah suaminya lama-lama. Ia mengenal Ibrahim lebih dari siapa pun. Ia tahu ada kesedihan yang disembunyikan di balik keteguhan lelaki itu.

Mereka telah menikah selama bertahun-tahun.

Namun hingga usia senja mulai mendekat, mereka belum juga dikaruniai anak.

Pada masa itu, keturunan bukan sekadar penerus keluarga. Anak adalah penolong di masa tua, penerus perjuangan, dan sumber kebahagiaan dalam rumah tangga.

Sarah sering melihat Ibrahim memandangi anak-anak kecil yang bermain di pasar dengan tatapan panjang.

Bukan iri.

Melainkan kerinduan yang sangat dalam.

Malam itu, ketika langit penuh bintang, Sarah terbangun dan mendapati Ibrahim sedang salat di luar kemah.

Angin gurun bertiup pelan.

Dalam sujud panjangnya, Ibrahim berdoa dengan suara lirih.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh.”

Sarah berdiri di balik pintu kemah sambil menahan air mata.

Ia tahu doa itu telah dipanjatkan berkali-kali selama bertahun-tahun.

Namun belum juga dikabulkan.

Meski begitu, Ibrahim tidak pernah putus asa.

Hari-hari terus berjalan.

Usia Sarah semakin tua. Rambutnya mulai memutih. Tubuhnya tak lagi sekuat dulu.

Suatu hari, Sarah berkata kepada Ibrahim dengan suara tenang, “Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”

“Apa itu?”

Sarah menarik napas panjang. “Aku tahu engkau sangat ingin memiliki keturunan.”

Ibrahim terdiam.

“Aku sudah tua, Ibrahim. Mungkin aku tidak bisa memberimu anak.”

“Jangan berkata begitu.”

Sarah tersenyum lembut. “Dengarkan aku dahulu.”

Beberapa saat ia menunduk sebelum melanjutkan.

“Aku ingin engkau menikahi Hajar.”

Ibrahim sedikit terkejut.

Hajar adalah perempuan muda yang selama ini membantu Sarah. Ia dikenal sopan, sabar, dan memiliki akhlak baik.

“Aku tidak ingin engkau kehilangan kesempatan memiliki keturunan,” lanjut Sarah pelan.

Ibrahim memandang istrinya dengan penuh haru. Tidak semua perempuan memiliki hati sebesar itu.

Beberapa hari kemudian, Ibrahim menikahi Hajar.

Hajar adalah perempuan yang tenang. Ia menghormati Sarah dan melayaninya dengan baik. Tidak pernah sekalipun ia menunjukkan kesombongan atau merasa lebih muda.

Waktu berlalu.

Dan keajaiban yang telah lama dinanti akhirnya datang.

Suatu pagi, Hajar menghampiri Ibrahim dengan wajah gugup.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu.”

“Apa itu?”

Hajar menunduk malu.

“Aku mengandung.”

Untuk beberapa saat Ibrahim tidak berkata apa-apa. Seolah ia takut salah mendengar.

“Benarkah?”

Air mata mulai memenuhi matanya.

Hajar mengangguk sambil tersenyum kecil.

Malam itu Ibrahim sujud sangat lama.

Doa yang bertahun-tahun ia panjatkan akhirnya dijawab Allah.

Kabar kehamilan itu membuat rumah mereka berubah penuh kebahagiaan. Bahkan Sarah yang awalnya mencoba tegar pun ikut merasa bahagia meski tersimpan kesedihan kecil di dalam hatinya.

Hari demi hari berlalu.

Ketika waktu kelahiran tiba, Ibrahim berjalan mondar-mandir di luar rumah dengan wajah tegang.

Tangisan bayi akhirnya terdengar.

Ibrahim segera masuk.

Hajar sedang memeluk bayi laki-laki kecil dengan wajah bercahaya.

“Ini anakmu,” katanya pelan.

Tangan Ibrahim gemetar ketika menerima bayi itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan menjadi seorang ayah.

Ia memandang wajah kecil itu lama sekali.

“Namanya Ismail,” katanya lirih.

Sejak saat itu kebahagiaan memenuhi kehidupan mereka.

Ibrahim sangat mencintai Ismail.

Ia sering menggendongnya sambil berjalan di sekitar perkampungan.

Ketika Ismail tertawa kecil, hati Ibrahim terasa hangat.

Namun di balik kebahagiaan itu, ujian lain mulai tumbuh perlahan.

Sarah mencoba menyembunyikan perasaannya, tetapi kadang ia merasa sedih melihat kedekatan Ibrahim dengan Hajar dan Ismail.

Ia merasa kesepian.

Meski demikian, Sarah tetap perempuan salehah. Ia tidak membiarkan rasa cemburu menguasai dirinya.

Pada suatu malam, Ibrahim menerima wahyu dari Allah.

Perintah itu sangat berat.

Ia diperintahkan membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi menuju sebuah lembah tandus yang jauh dari kehidupan manusia.

Ketika mendengar perintah itu, dada Ibrahim terasa sesak.

Bagaimana mungkin ia meninggalkan bayi kecil dan ibunya di tempat yang tidak memiliki air maupun tanaman?

Namun ia tahu, perintah Allah selalu memiliki hikmah.

Beberapa hari kemudian, Ibrahim menyiapkan perjalanan.

Hajar melihat persiapan itu dengan heran.

“Kita akan pergi ke mana?”

Ibrahim tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata, “Bersiaplah.”

Mereka memulai perjalanan panjang melintasi padang pasir.

Ismail yang masih bayi tertidur dalam pelukan Hajar.

Siang sangat panas. Angin gurun menerbangkan pasir ke mana-mana.

Sesekali Hajar memandang Ibrahim.

Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari wajah suaminya. Ibrahim tampak lebih banyak diam.

Hari demi hari mereka berjalan hingga akhirnya tiba di sebuah lembah sunyi.

Tempat itu dikelilingi bukit-bukit batu.

Tidak ada pohon.

Tidak ada sungai.

Tidak ada manusia.

Hanya hamparan pasir dan udara panas.

Ibrahim berhenti.

Ia menurunkan barang-barang yang dibawanya: sedikit kurma dan sekantong air.

Hajar memandang sekeliling dengan bingung.

“Kita akan tinggal di sini?”

Ibrahim mengangguk pelan.

Beberapa saat kemudian ia mulai berbalik hendak pergi.

Hajar terkejut.

“Ibrahim!”

Lelaki itu terus berjalan.

“Ibrahim, mengapa engkau meninggalkan kami di sini?”

Tidak ada jawaban.

Suara Hajar mulai bergetar.

“Di sini tidak ada siapa-siapa! Tidak ada air!”

Ibrahim tetap berjalan tanpa menoleh karena ia tahu jika menatap wajah istri dan anaknya, hatinya bisa hancur.

Hajar berlari mengejarnya.

“Apakah ini perintah Allah?”

Langkah Ibrahim akhirnya berhenti.

Perlahan ia mengangguk.

Wajah Hajar berubah.

Air mata memang menggenang di pelupuk matanya, tetapi suaranya menjadi tenang.

“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kalimat itu membuat Ibrahim hampir menangis.

Ia segera berjalan pergi sebelum hatinya melemah.

Dari kejauhan, ia masih dapat melihat Hajar berdiri sambil menggendong Ismail.

Gurun terasa begitu luas dan sunyi.

Ketika jarak semakin jauh, Ibrahim mengangkat kedua tangannya dan berdoa:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman dekat rumah-Mu yang dihormati, agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan agar mereka bersyukur.”

Sementara itu, Hajar kembali duduk di dekat barang-barang mereka.

Matahari mulai turun.

Angin malam mulai dingin.

Ia memeluk Ismail erat-erat.

Dalam kesunyian padang tandus itu, seorang ibu mulai menghadapi ujian terbesar dalam hidupnya.

(Rulis)


Kisah bersambung:

  1. Cahaya Idul Adha: “Api yang Tak Membakar Ibrahim” (Bagian 1)
  2. Cahaya Idul Adha: “Penantian Panjang Seorang Nabi” (Bagian 2)
  3. Cahaya Idul Adha: “Tujuh Kali Lari Seorang Ibu” (Bagian 3)
  4. Cahaya Idul Adha: “Anak yang Tumbuh di Tengah Padang Pasir” (Bagian 4)
  5. Cahaya Idul Adha: “Mimpi yang Mengguncang Hati Seorang Ayah” (Bagaian 5)
  6. Cahaya Idul Adha: “Pisau yang Tidak Mampu Melukai” (Bagian 6)
  7. Cahaya Idul Adha: “Hari Raya Pengorbanan” (Bagian akhir)

Tulisan terkait

Utama 2939368381421066108

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item